Konflik Iran Jadi Senjata Makan Tuan, Keyakinan Konsumen AS Jatuh

Konflik Iran Jadi Senjata Makan Tuan, Keyakinan Konsumen AS Jatuh

Keyakinan konsumen di AS anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada April 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran harga energi.

(Kompas.com) 13/04/26 09:09 189262

NEW YORK, KOMPAS.com — Keyakinan konsumen di Amerika Serikat (AS) anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada April 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas lonjakan harga energi dan dampak lebih luas dari konflik Iran terhadap perekonomian.

Survei yang dirilis University of Michigan menunjukkan indeks sentimen konsumen turun menjadi 47,6, merosot 10,7 persen dibandingkan Maret 2026.

Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak survei tersebut dilakukan, dengan indeks kondisi saat ini dan ekspektasi juga mencatat penurunan dua digit secara bulanan.

Unsplash Ilustrasi konsumen Indonesia belanja produk gaya hidup

Direktur survei tersebut, Joanne Hsu, menyebutkan bahwa komentar responden menunjukkan kekhawatiran yang meluas terkait konflik di Iran.

“Komentar survei menunjukkan bahwa banyak konsumen menyalahkan konflik Iran atas perubahan yang tidak menguntungkan bagi perekonomian,” ujar Hsu, dikutip dari CNBC, Senin (13/4/2026).

Namun demikian, Hsu mencatat sebagian besar wawancara dalam survei dilakukan sebelum gencatan senjata pada 7 April 2026, sehingga hasil survei lebih mencerminkan kondisi ekonomi pada Maret 2026.

“Ekspektasi ekonomi kemungkinan akan membaik setelah konsumen yakin bahwa gangguan pasokan akibat konflik Iran telah berakhir dan harga bensin telah moderat,” kata dia.

Ekspektasi inflasi melonjak

Penurunan keyakinan konsumen AS ini terjadi seiring lonjakan ekspektasi inflasi.

Responden memperkirakan harga akan naik 4,8 persen dalam 12 bulan ke depan, meningkat satu poin persentase dari bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak Agustus 2025.

Sebagai perbandingan, ekspektasi inflasi satu tahun sempat mencapai 6,5 persen pada April 2025 setelah pengumuman tarif “liberation day” oleh Presiden AS Donald Trump.

FREEPIK/VWALAKTE Ilustrasi inflasi.

Untuk jangka lima tahun, ekspektasi inflasi juga meningkat menjadi 3,4 persen, naik 0,2 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun masih satu poin persentase lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, data dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,9 persen pada Maret 2026, mendorong inflasi tahunan menjadi 3,3 persen.

Pejabat BLS menyatakan, sebagian besar kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan harga energi, sementara inflasi pangan relatif tidak berubah.

Lonjakan harga energi dorong inflasi

Kenaikan inflasi ini juga disorot dalam laporan terpisah yang menyebut bahwa laju inflasi AS pada Maret merupakan yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.

Dikutip dari BBC, inflasi tahunan AS meningkat dari 2,4 persen pada Februari 2026 menjadi 3,3 persen pada Maret 2026, didorong oleh lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel dan Iran.

Lonjakan tersebut menjadi perubahan bulanan terbesar sejak 2022, ketika dunia menghadapi guncangan energi akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Kenaikan harga energi terutama dipicu oleh gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dan komoditas lainnya.

Penutupan jalur ini menyebabkan harga minyak melonjak tajam dan berdampak langsung pada harga bahan bakar.

Harga bensin di AS melonjak 21,2 persen dari Februari ke Maret 2026, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak pemerintah mulai mencatat data tersebut pada 1967.

Sementara itu, harga bahan bakar minyak (BBM) naik lebih dari 30 persen, tertinggi sejak Februari 2000.

Freepik/jcomp Ilustrasi BBM.

Konsumen tertekan biaya bahan bakar

Dampak kenaikan harga bahan bakar dirasakan langsung oleh konsumen.

Di negara bagian seperti California, dampaknya bahkan lebih terasa. Harga rata-rata bensin mencapai sekitar Rp 101.340 per galon, jauh di atas rata-rata nasional sekitar Rp 71.089 per galon.

Secara keseluruhan, kenaikan harga bensin menyumbang hampir tiga perempat dari peningkatan inflasi antara Februari dan Maret 2026.

Dampak mulai merambat ke sektor lain

Selain energi, harga tiket pesawat dan pakaian juga mengalami kenaikan, mencerminkan dampak gabungan dari kenaikan biaya energi dan tarif impor yang masih berlanjut.

Maskapai disebut terus meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.

Sementara itu, harga pangan tercatat tidak berubah secara bulanan, meskipun analis memperkirakan kenaikan dapat terjadi dalam beberapa bulan ke depan seiring meningkatnya biaya transportasi dan pupuk.

Associate Director di Evelyn Partners, Arielle Ingrassia, menyebut kondisi saat ini masih menunjukkan tekanan inflasi yang didorong energi.

“Untuk saat ini, ini tampak seperti percepatan kembali yang dipimpin oleh sektor energi dengan dampak limpahan yang terkendali, alih-alih dinamika inflasi putaran kedua yang sepenuhnya mengakar,” ujarnya.

Namun ia memperingatkan bahwa jika harga energi tetap tinggi, dampaknya dapat meluas.

“Namun, jika harga energi tetap tinggi, risikonya adalah dampak ini akan meluas dari waktu ke waktu melalui biaya, penetapan harga, dan pada akhirnya ekspektasi inflasi,” kata Ingrassia.

Ketidakpastian pasokan energi global

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan berbagai komoditas global, termasuk gas alam, pupuk, aluminium, helium, dan minyak.

GOOGLE MAPS Ilustrasi Selat Hormuz. Mirip Iran, Trump Sebut AS Bisa Tarik Biaya Tol untuk Melewati Selat Hormuz

Meskipun pembicaraan antara AS dan Iran memunculkan harapan pembukaan kembali jalur tersebut, analis memperingatkan bahwa normalisasi pasokan energi akan memerlukan waktu.

Harga minyak memang telah turun dari puncaknya, tetapi masih sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik.

Situasi ini turut memengaruhi dinamika politik domestik AS menjelang pemilu paruh waktu pada November, dengan tekanan meningkat terhadap pemerintah.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa lonjakan harga energi hanya bersifat sementara dan menepis kekhawatiran terhadap dampak ekonomi yang lebih luas.

Dalam pernyataan di media sosial, juru bicara Gedung Putih Kush Desai menyoroti penurunan harga pada sejumlah komponen lain.

“Ekonomi Amerika tetap berada pada jalur yang solid berkat agenda sisi penawaran yang kuat dari Pemerintahan, yaitu pemotongan pajak, deregulasi, dan kelimpahan energi,” tulisnya.

Sebagian analis juga mencatat bahwa inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, menunjukkan kenaikan yang lebih moderat, yakni sebesar 2,6 persen.

Ekonom AS di Vanguard, Adam Schickling, menilai bahwa tekanan inflasi utama saat ini berasal dari faktor energi.

“Inflasi secara umum meningkat akibat guncangan energi sementara, tetapi di balik permukaan, inflasi inti terus bergerak ke arah yang benar,” ujarnya.

Kategori harga yang mengalami penurunan dalam setahun terakhir antara lain obat-obatan serta mobil dan truk bekas.

Harapan penurunan suku bunga memudar

Meski demikian, kondisi ini mengubah ekspektasi pasar terkait kebijakan moneter. Harapan bahwa bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga tahun ini mulai memudar.

Ekonom AS di Berenberg, Atakan Bakiskan, menyebut bahwa otoritas moneter akan lebih berhati-hati dalam menilai inflasi.

“Harapannya adalah inflasi bersifat sementara, tetapi para pejabat Fed akan berpikir dua kali sebelum memberi tahu publik bahwa mereka memperkirakan inflasi akan bersifat sementara, setelah sebelumnya salah menilai inflasi pasca-pandemi dan salah menyebutnya demikian,” kata Bakiskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#harga-bensin #indepth #inflasi #konflik-iran #keyakinan-konsumen #selat-hormuz

https://money.kompas.com/read/2026/04/13/090900526/konflik-iran-jadi-senjata-makan-tuan-keyakinan-konsumen-as-jatuh