Strategi Bertahan di Market Lesu, Sucor Sekuritas Soroti Disiplin Risiko
Investor harus mampu mengelola risiko dengan strategi bertahap, menjaga posisi kecil, dan mengikuti tren positif dengan rencana investasi yang jelas.
(Bisnis.Com) 10/04/26 04:15 187077
Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan pasar saham yang terjadi di tengah ketidakpastian global menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko, alih-alih agresif mengejar keuntungan jangka pendek.
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya menerangkan, bahwa dalam kondisi market yang cenderung lesu atau downtrend, pendekatan terbaik adalah menjaga likuiditas dan menghindari penempatan dana secara penuh di pasar.
“Kalau market lagi downtrend, kita harus kurangi posisi. Baik transaksinya lebih sedikit, lebih selektif memilih saham. Duitnya pun jangan all in, masuk dulu 10%, kalau memang bagus kita bisa tambah lagi di atas kalau dia uptrend. Itu jauh lebih bijak,” ujarnya dalam acara Premium Market Talk Bisnis Indonesia, Kamis (9/4/2026).
Dia menjelaskan, strategi bertahap memungkinkan investor untuk mengelola risiko lebih baik sekaligus menjaga fleksibilitas dalam mengambil peluang saat kondisi pasar mulai membaik. Sebagai contoh, investor dapat mulai dengan alokasi kecil sebelum menambah posisi ketika tren mulai menguat.
Selain itu, dia menerangkan pentingnya disiplin dalam menjaga risiko berinvestasi. Hendry menerangkan bahwa selama suatu saham memiliki tren yang menguat, investor dapat mengikuti tren positif tersebut, hanya dengan menerapkan trading plan yang ketat.
Menurutnya, kesalahan umum investor adalah merasa terlalu percaya diri setelah meraih keuntungan di fase bullish, sehingga mengabaikan pentingnya manajemen risiko. Padahal, kondisi pasar yang menurun justru menjadi ujian utama bagi ketahanan strategi investasi.
”Justru trader hebat itu muncul bukan waktu market bullish, [melainkan] waktu market lagi jelek kayak sekarang. Market jelek kayak sekarang ini akan menghasilkan orang yang bertahan di market,” katanya.
Selain itu, dia menekankan pentingnya memiliki rencana investasi yang jelas sebelum memutuskan mengakumulasi suatu saham, mulai dari alasan pembelian, posisi beli, hingga batas cut loss dan target keuntungan. Tanpa perencanaan yang matang, keputusan investasi berisiko menjadi tidak rasional.
Hal itu juga mencakup pengelolaan position sizing. Investor dinilai perlu menyesuaikan besaran dana yang ditempatkan dengan toleransi risiko masing-masing agar tetap mampu menghadapi fluktuasi pasar tanpa tekanan emosional berlebih.
Dia mengingatkan bahwa kerugian kecil yang tidak dikendalikan dapat berkembang menjadi kerugian besar yang sulit dipulihkan. Oleh karena itu, disiplin dalam menerapkan cut loss menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga keberlangsungan portofolio.
“Cut loss itu sangat penting untuk dijaga dengan persentase yang rasional karena setiap kali kerugian semakin besar, untuk membalikkan ke modal awal itu sangat sulit,” katanya.
Selain itu, investor juga disarankan untuk memastikan rasio risk to reward yang sehat. Dia merekomendasikan rasio sebesar 1:2, sehingga potensi keuntungan tetap lebih besar dibandingkan risiko kerugian dalam setiap transaksi.
Di tengah derasnya arus informasi, pelaku pasar juga diminta tidak terlalu bergantung pada berita semata, melainkan mengonfirmasi setiap sentimen dengan pergerakan harga dan volume transaksi di pasar.
Dengan demikian, strategi bertahan di tengah market lesu bukan hanya soal memilih saham yang tepat, tetapi juga tentang disiplin, pengelolaan risiko, serta kemampuan membaca kondisi pasar secara objektif.
”Kalau kita nunggu berita, kapan nunggu bagusnya? Percuma, akhirnya kita ketinggalan momen. Makanya saya bilang harus mengikuti trading plan. Kalau sahamnya lagi uptrend, masuk, tidak perlu menunggu berita bagus muncul dulu,” tegasnya.
#market-lesu #strategi-bertahan #disiplin-risiko #sucor-sekuritas #investor-saham #likuiditas-pasar #trading-plan #manajemen-risiko #cut-loss #risk-to-reward #position-sizing #pasar-downtrend #investas