Pakar Siber: Era Malware Berakhir, Blokir Sinyal Drone Lebih Berguna saat Perang
Pakar siber Mikko Hyppoenen menilai ancaman modern kini beralih dari malware ke drone, terutama dalam konflik geopolitik. Dia kini fokus pada teknologi anti-drone.
(Bisnis.Com) 05/04/26 15:30 181972
Bisnis.com, JAKARTA — Setelah puluhan tahun melawan virus komputer dan malware, pakar keamanan siber Mikko Hyppönen menilai ancaman perang terbaru saat ini adalah pesawat nirawak atau drone. Peretas harus mampu membajak sinyal drone untuk memenangkan perang.
Dalam sebuah konferensi keamanan siber dunia Black Hat 2025 di Las Vegas, Hyppönen menggambarkan pekerjaannya seperti permainan Tetris. Menurutnya, keberhasilan di dunia keamanan sering tidak terlihat. Saat sistem aman, tidak ada yang terjadi. Namun jika gagal, dampaknya langsung terasa.
Hyppönen sudah lebih dari 35 tahun berkecimpung di dunia keamanan siber. Dia memulai karier sejak akhir 1980-an, saat istilah malware belum populer dan orang lebih mengenalnya sebagai virus atau trojan. Saat itu, penyebaran virus bahkan masih menggunakan disket.
Sepanjang kariernya, Dia telah menganalisis ribuan jenis malware dan menjadi salah satu tokoh paling dihormati di industri ini. Hyppönen juga pernah bekerja di perusahaan keamanan siber F-Secure, yang dikenal sebagai pengembang antivirus.
Namun kini, fokusnya mulai berubah. Dia melihat ancaman baru yang semakin nyata, yaitu penggunaan drone dalam konflik modern.
Perubahan ini dipengaruhi oleh situasi geopolitik, terutama sejak Invasi Rusia ke Ukraina 2022, di mana drone menjadi salah satu senjata utama. Sebagai warga Finlandia yang tinggal dekat perbatasan Rusia, Hyppönen merasa ancaman tersebut semakin relevan.
Menurutnya, jika dulu ancaman utama datang dari virus komputer, kini ancaman bisa datang dari mesin fisik seperti drone.
Dunia malware sendiri sudah banyak berubah. Dulu, virus dibuat hanya untuk eksperimen atau rasa ingin tahu. Salah satu contohnya adalah virus sederhana yang hanya menampilkan pesan tanpa merusak sistem.
Namun seiring waktu, serangan menjadi lebih serius. Pada tahun 2000, muncul virus terkenal ILOVEYOU yang menyebar lewat email dan menginfeksi lebih dari 10 juta komputer di seluruh dunia.
Kini, malware tidak lagi dibuat untuk iseng. Sebagian besar digunakan untuk kejahatan siber, spionase atau kepentingan negara. Serangan besar seperti WannaCry dan NotPetya menunjukkan betapa seriusnya ancaman tersebut.
“Era virus sudah benar-benar berlalu,” kata Hyppönen dikutip dari Techcrunch, Minggu (5/4/2026).
Di sisi lain, sistem keamanan juga semakin kuat. Perangkat modern seperti smartphone jauh lebih sulit diretas, bahkan biaya untuk membobolnya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan dolar AS. Hal ini membuat serangan besar biasanya hanya bisa dilakukan oleh pihak dengan sumber daya besar, seperti negara.
Melihat perkembangan ini, Hyppönen merasa bidang keamanan siber sudah cukup matang. Dia pun beralih ke tantangan baru dengan bergabung ke perusahaan teknologi anti-drone Sensofusion sebagai kepala riset.
“Lebih bermakna untuk bekerja memerangi drone, bukan hanya drone saat ini, tetapi juga di masa depan,” ujarnya.
Di sana, dia mengembangkan sistem untuk mendeteksi dan melawan drone berbahaya. Caranya mirip dengan melawan malware, yaitu dengan mengenali tanda atau pola tertentu, lalu memblokirnya.
Bedanya, jika dalam dunia siber serangan terjadi di sistem komputer, pada drone serangan bisa dilakukan langsung pada sinyal radio. Bahkan, jika celah ditemukan, drone bisa dijatuhkan dengan cepat.
Menurut Hyppönen, pertarungan ini pada dasarnya tetap sama seperti permainan kucing dan tikus. Saat satu ancaman berhasil dihentikan, akan muncul ancaman baru dengan cara yang berbeda.
Menariknya, musuh yang dia hadapi juga tidak banyak berubah. Jika dulu ia melawan serangan siber dari Rusia, kini Hyppönen menghadapi ancaman drone dari negara yang sama. (Nur Amalina)
#drone-perang #keamanan-siber #blokir-sinyal-drone #ancaman-drone #malware-berakhir #mikko-hyppoenen #serangan-siber #teknologi-anti-drone #deteksi-drone #sistem-keamanan #ancaman-modern #invasi-rusia