Outlook Raksasa Unggas CPIN-JPFA di 2026 Usai Laba Tumbuh Dua Digit
CPIN dan JPFA mencatat pertumbuhan laba dua digit di 2026, didukung momentum Ramadan dan program MBG. Tantangan meliputi fluktuasi harga pakan dan risiko oversupply.
(Bisnis.Com) 01/04/26 14:05 178763
Bisnis.com, JAKARTA – Dua emiten unggas yakni PT Charoen Pokphand Tbk. (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) sama-sama membukukan pertumbuhan laba bersih dua digit. Keduanya juga sama-sama mencatat pertumbuhan pendapatan.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjabarkan peluang dan tantangan yang dihadapi kedua emiten untuk menjaga performanya di tahun ini. Dari sisi peluang, Wafi menilai ada kondisi yang sangat positif.
"Momentum Ramadan dan Lebaran mendorong volume dan harga jual (ASP). Kenaikan anggaran program makan bergizi gratis [MBG] juga menjadi katalis struktural penggerak permintaan ayam domestik jangka panjang," ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Di sisi lain, tantangan emiten unggas tahun ini menurutnya adalah fluktuasi harga bahan baku pakan jagung lokal dan bungkil kedelai impor, pelemahan nilai tukar rupiah, serta risiko oversupply jika program culling tidak konsisten.
Untuk rekomendasi, Wafi melihat CPIN lebih menarik karena unggul dalam hal efisiensi beban operasional dan mempunyai dominasi di segmen hilir untuk menjaga margin harga. KISI Sekuritas menyematkan target harga CPIN di Rp5.800 dan JPFA di Rp1.900.
Sementara itu, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo juga menilai CPIN dan JPFA punya peluang untuk melanjutkan performa positifnya tahun ini.
"Peluang tren positif sektor unggas, termasuk CPIN dan JPFA masih cukup kuat di 2026. Hal ini ditopang oleh kenaikan harga ayam broiler, momentum Ramadan-Lebaran, serta tambahan permintaan dari program MBG yang meningkatkan konsumsi unggas secara struktural," ujar Azis.
Peluang lainnya yang dinilai akan memberi katalis positif emiten unggas tahun ini adalah pengendalian supply day old chick (DOC) dan grand parent stock (GPS) yang akan membuat harga lebih stabil sehingga margin emiten unggas bisa terjaga.
Di sisi lain, tantangan utama yang akan dihadapi JPFA dan CPIN tahun ini adalah volatilitas biaya pakan, khususnya bungkil kedelai (SBM) yang bergantung impor dan sensitif terhadap kondisi global.
"Selain itu, risiko oversupply jika kontrol supply melemah, fluktuasi harga ayam hidup, serta tekanan daya beli juga dapat mempengaruhi permintaan dan margin," tandasnya.
Kiwoom Sekuritas memilih JPFA dengan rekomendasi hold di target harga Rp2.750. Pada penutupan pasar Selasa (31/3), JPFA terkoreksi 3,69% ke Rp2.350, sedangkan CPIN ditutup naik 2,24% ke Rp4.100.
Melansir laporan keuangan 2025 diaudit, CPIN sepanjang 2025 membukukan pendapatan neto Rp70,70 triliun atau naik 4,8% YoY. Penjualan ayam pedaging menyumbang Rp34,02 triliun. Segmen dengan pangsa terbesar yang menyumbang 48,1% dari total pendapatan perseroan ini turun 3,7% YoY.
Di sisi lain, JPFA membukukan pendapatan neto Rp60,72 triliun atau tumbuh 8,81% YoY. Segmen peternakan komersial dengan pangsa paling besar mencapai 40,4%, tumbuh 6,4% YoY menjadi Rp24,51 triliun. Walau secara total pendapatan neto JPFA kalah besar dari CPIN, seluruh segmen pendapatannya tumbuh positif.
Dari sisi pos beban, kedua emiten sama-sama membukukan kenaikan beban pokok pendapatan, yaitu di CPIN angkanya naik 2,2% YoY menjadi Rp58,28 triliun dan di JPFA meningkat 6,6% YoY menjadi Rp47,52 triliun.
Kedua emiten sama-sama mencatat beban terbesar dari bahan baku. Persentasenya adalah 82,7% beban pokok penjualan CPIN berasal dari bahan baku sedangkan JPFA mencapai 79,80%. Namun, yang membedakan pos bahan baku di CPIN turun 14,8% YoY menjadi Rp57,44 triliun sementara di JPFA naik 6,4% YoY menjadi Rp37,93 triliun.
Menilik kinerja bottom line, CPIN membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih 2025 sebesar Rp5,64 triliun, sementara laba bersih JPFA tahun lalu sebesar Rp4 triliun. Selain nilainya yang lebih besar, pertumbuhan laba bersih CPIN juga lebih unggul, yakni naik 52% YoY dibanding 32,6% YoY bagi JPFA.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#cpin #jpfa #emiten-unggas #pertumbuhan-laba-bersih #pendapatan-cpin #pendapatan-jpfa #harga-ayam-broiler #program-mbg #fluktuasi-harga-pakan #risiko-oversupply #kontrol-supply-doc #harga-cpin #harga-j