Harga Minyak Melonjak Hampir 6 Persen, Kekhawatiran Eskalasi Timur Tengah Meningkat

Harga Minyak Melonjak Hampir 6 Persen, Kekhawatiran Eskalasi Timur Tengah Meningkat

Harga minyak melonjak hingga 6 persen. Konflik Timur Tengah memanas, negosiasi AS dan Iran belum menunjukkan titik terang.

(Kompas.com) 27/03/26 07:47 174035

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia melonjak tajam di akhir perdagangan Kamis (26/3/2026) waktu Amerika Serikat atau Jumat (27/3/2026) WIB. Kenaikan terjadi seiring memudarnya harapan berakhirnya konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 5,79 dollar AS menjadi 108,01 dollar AS per barrel. Kenaikan mencapai 5,7 persen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4,16 dollar AS ke level 94,48 dollar AS per barrel atau menguat 4,6 persen.

Kenaikan dipicu ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan gencatan senjata cepat tidak lagi terlihat.

Utusan Khusus AS Steve Witkoff menyebut Washington telah mengirim “daftar aksi 15 poin” kepada Iran sebagai dasar perundingan. Proposal ini ditujukan untuk mengakhiri perang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan proposal masih dikaji. Belum ada pembicaraan terkait penghentian perang.

Seorang pejabat senior Iran menyebut proposal tersebut “sepihak dan tidak adil”. Pernyataan ini berlawanan dengan klaim Presiden AS Donald Trump.

Trump menyebut Iran memberi izin bagi 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz. Langkah ini disebut sebagai “isyarat niat baik”.

Kepala ekonom Matador Economics Timothy Snyder menilai pasar diliputi ketidakpastian akibat informasi yang saling bertentangan.

"Ada kebingungan dan frustrasi terkait kebenaran informasi yang keluar dari AS dan Iran. Investor kembali beralih ke aset yang lebih aman untuk menjaga modal,” ujar Snyder.

Ketegangan militer juga meningkat. AS dilaporkan menyiapkan pengiriman ribuan pasukan udara ke Timur Tengah. Langkah ini membuka opsi serangan darat terhadap Iran.

Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran menyatakan siap menyerang jalur pelayaran di Laut Merah. Aksi ini disebut sebagai bentuk solidaritas.

"Eskalasi militer yang terus berlangsung, termasuk pengerahan pasukan dan serangan baru, serta pergerakan tanker yang terbatas di bawah kondisi ketat Iran, terus membebani pasar energi global," kata analis MUFG Soojin Kim.

Gangguan juga terjadi di Selat Hormuz. Jalur ini biasanya menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Perang hampir menghentikan pengiriman melalui jalur tersebut. Badan Energi Internasional menyebut kondisi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar.

Sejak konflik dimulai, harga Brent telah naik hampir 50 persen. Harga WTI meningkat sekitar 41 persen.

Proposal 15 poin AS dikirim melalui Pakistan. Isi proposal mencakup penghapusan stok uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, penghentian pengayaan, pembatasan program rudal balistik, serta pengurangan dukungan terhadap sekutu regional.

Meski jalur diplomasi masih terbuka, pejabat Iran menilai proposal belum memenuhi syarat minimum. Kepentingan AS dan Israel dinilai lebih dominan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#harga-minyak-dunia #harga-minyak-melonjak #perang-iran #harga-minyak-mentah #harga-minyak-dunia-hari-ini #kenaikan-harga-minyak-dunia

https://money.kompas.com/read/2026/03/27/074718926/harga-minyak-melonjak-hampir-6-persen-kekhawatiran-eskalasi-timur-tengah