Bukan Cuma Minyak, Harga Aluminium Juga Naik Akibat Perang Iran
Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya mendorong kenaikan harga minyak, tetapi juga memicu lonjakan tajam harga aluminium
(Kompas.com) 19/03/26 13:54 168979
KOMPAS.com - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran tidak hanya mendorong kenaikan harga minyak, tetapi juga memicu lonjakan tajam harga aluminium di pasar global.
Dikutip dari CNBC, Kamis (19/3/2026), harga aluminium bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada pekan lalu, seiring terganggunya rantai pasok di kawasan Timur Tengah.
Padahal, aluminium merupakan salah satu logam paling melimpah di bumi. Meski demikian, perannya sangat krusial dalam perekonomian global, mulai dari industri elektronik, transportasi, konstruksi, hingga panel surya dan kemasan.
Sejak pecahnya konflik Iran pada 28 Februari 2026, kontrak berjangka aluminium tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga 10 persen pada 12 Maret. Namun, kenaikan tersebut kemudian menyusut menjadi sekitar 8 persen.
Gangguan pasokan dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dan komoditas dunia, yang berdampak langsung terhadap distribusi aluminium.
Dalam dua pekan terakhir, aluminium menjadi logam industri dengan kinerja terbaik. Hingga Rabu (18/3/2026) sore waktu London, harganya berada di kisaran 3.370 dollar AS per ton, mendekati level tertinggi dalam empat tahun.
Tekanan pasokan juga datang dari sisi produksi. Perusahaan aluminium Bahrain, Aluminium Bahrain (Alba), yang mengoperasikan smelter terbesar di dunia, memangkas produksi sekitar 19 persen dari total kapasitas tahunan 1,6 juta ton.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran akan potensi kelangkaan aluminium di pasar global.
Lembaga riset CRU Group memperkirakan, jika gangguan pasokan berlanjut dan stok tetap rendah, harga aluminium berpotensi menembus 4.000 dollar AS per ton.
Analis utama CRU, Guillaume Osouf, menyebut harga aluminium sebenarnya bisa lebih tinggi saat ini jika tidak tertahan oleh lemahnya permintaan global.
Ia menambahkan, konflik berkepanjangan berpotensi mengubah proyeksi pasar sepanjang tahun, baik dari sisi pasokan maupun permintaan.
Di sisi lain, arah harga aluminium ke depan juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan China.
Negara tersebut merupakan produsen aluminium terbesar di dunia, dengan produksi yang biasanya dibatasi sekitar 45,5 juta ton per tahun untuk mengendalikan emisi dan mencegah kelebihan kapasitas.
CEO ACG Metals, Artem Volynets, menyatakan bahwa pemerintah China memiliki ruang untuk menambah pasokan dengan mengaktifkan kembali smelter yang tidak beroperasi jika harga dinilai terlalu tinggi.
“Jika China membuka kembali kapasitas yang menganggur, pasokan aluminium global bisa melimpah,” ujarnya.
Meski harga aluminium melonjak, para analis menilai logam ini belum menarik bagi investor ritel seperti halnya perak atau tembaga.
Volynets bahkan mengaku akan terkejut jika investor ritel mulai masuk ke pasar aluminium, mengingat sifatnya yang sangat industrial.
Sementara itu, Osouf menilai partisipasi dana investasi masih terbatas sejak konflik dimulai. Posisi beli (long) hanya sedikit lebih rendah dibandingkan akhir Januari.
Menariknya, posisi jual (short) justru meningkat sekitar 15.000 lot, yang menunjukkan sebagian investor mulai bertaruh harga aluminium akan turun ke depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#harga-minyak #perang-iran #rantai-pasok #konflik-iran #harga-aluminium #pasar-aluminium