Pengamat: Lebaran Bantu Eskalasi Ekonomi Sumut di Kuartal I/2026

Pengamat: Lebaran Bantu Eskalasi Ekonomi Sumut di Kuartal I/2026

Ramadan dan Idulfitri 2026 diprediksi mendorong ekonomi Sumut tumbuh 4,7%-4,8% YoY, meski pascalebaran tren belanja melemah akibat perang Iran-Israel-AS.

(Bisnis.Com) 12/03/26 09:00 162709

Bisnis.com, MEDAN - Pengamat sekaligus akademisi Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) Gunawan Benjamin menyebut Ramadan dan Idulfitri akan menjadi satu momen pendorong eskalasi ekonomi Sumut melalui peningkatan belanja masyarakat.

Dia menyebut ekonomi Sumut akan menggeliat lebih baik di kuartal I/2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dengan perkiraan di rentang 4,7%-4,8% (YoY), meskipun pertumbuhan ekonomi Sumut secara kuartal diprediksi masih akan berada di bawah 0,3% (qtq). Kondisi inipun disebutnya akan kembali melemah pascalebaran.

“Di bulan Februari hingga Maret ini, ada geliat ekonomi yang didorong oleh meningkatnya belanja masyarakat. Setelah lebaran, saya menilai tren belanja masyarakat akan kembali melemah,” ujar Gunawan, Rabu (12/3/2026).

Sentimen positif pemulihan ekonomi Sumut itu ditopang oleh belanja pemerintah dengan adanya kegiatan sosial maupun administrasi pemerintahan.

Disusul oleh industri pengolahan yang kemungkinan akan tumbuh maksimal 3%; akomodasi makanan dan minuman yang akan berada dikisaran 2,4%; serta transportasi dan pergudangan tumbuh sekitar 1,8%-2,1%.

Namun, sejumlah sektor lain juga diproyeksi tumbuh stagnan bahkan terkoreksi, seperti konstruksi, jasa keuangan dan asuransi, pertanian, jasa perusahaan, hingga pertambangan.

Adapun dari sisi belanja masyarakat, lanjutnya, ramadan dan idulfitri akan mendongkrak konsumsi rumah tangga di kuartal pertama 2026 meskipun dalam perayaan tahun ini belanja masyarakat dihantui oleh perang Iran-Israel-AS.

“Perang akan membuat masyarakat lebih berhati-hati membelanjakan uangnya, menghemat pengeluaran sebagai bentuk dana siaga manakala harga BBM naik atau kondisi ekonomi alami tekanan yang berat,” tambah dia.

Gejolak tersebut pun ditangkap para pedagang dengan menjaga batas stok. Gunawan menyebut observasi di lapangan menunjukkan bahwa pasokan ayam hidup diproyeksikan tidak akan tumbuh 5% secara mingguan, di H-7, hingga Idulfitri.

Sedangkan untuk jenis protein hewani lainnya seperti daging sapi saat ini telah kembali normal di rentang Rp135.000-Rp150.000 per kg dari sebelumnya sempat menyentuh Rp160.000 per kg. Sementara daging ayam yang telah mahal sejak sebelum Ramadan terpantau tidak mengalami kenaikan harga lanjutan meskipun pasokan relatif stagnan.

“Seharusnya, dalam kondisi stok seperti ini kenaikan permintaan bisa memicu kenaikan harga. Ini menjadi gambaran bagaimana peternak mengantisipasi kemungkinan belanja masyarakat yang alami tekanan,” jelasnya.

#lebaran-ekonomi #ekonomi-sumut #ramadan-idulfitri #belanja-masyarakat #pertumbuhan-ekonomi-sumut #pemulihan-ekonomi-sumut #belanja-pemerintah #industri-pengolahan #akomodasi-makanan-minuman #transport

https://sumatra.bisnis.com/read/20260312/534/1959839/pengamat-lebaran-bantu-eskalasi-ekonomi-sumut-di-kuartal-i2026