AS Targetkan Serangan ke Ribuan Ranjau Laut Iran, Penghancur Kapal Niaga Besar
Militer AS fokus hancurkan ranjau laut dan drone Iran untuk amankan Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, di tengah konflik yang memanas.
(Bisnis.Com) 11/03/26 14:16 161833
Bisnis.com, JAKARTA — Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki minggu kedua. Dalam perkembangan terbaru, militer AS mulai memusatkan serangan pada kemampuan Iran untuk memasang ranjau laut serta memproduksi drone serang.
Bagi Iran, serangan menggunakan ranjau laut relatif lebih murah, sekitar ribuan dolar per unit ranjau, untuk menghancurkan kapal tanker dibandingkan dengan menggunakan rudal atau pesawat.
Iran memiliki ranjau apung/terhanyut (drifting), ranjau tambat di dasar laut (moored contact mines), ranjau dasar laut (bottom mines), sampai ranjau naik-vertikal/rocket-propelled seperti EM-52 yang ditembakkan ke atas ketika sensor mendeteksi kapal di atasnya.
Beberapa laporan menyebut ranjau dasar modern bisa membawa sekitar 125 kg sampai lebih dari 1.000 kg bahan peledak tinggi, cukup untuk melumpuhkan atau menenggelamkan kapal niaga besar seperti VLCC (Very Large Crude Carrier) atau LNG carrier.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine, mengatakan pasukan Amerika saat ini berupaya menghancurkan kapal-kapal yang digunakan Iran untuk menebar ranjau laut, termasuk fasilitas penyimpanan ranjau tersebut. Menurutnya, operasi ini masih terus berlangsung dan menjadi salah satu fokus utama militer AS.
Langkah ini diambil karena adanya kekhawatiran besar terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut ini sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena sekitar 20% pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.
Sejak serangan udara dan rudal oleh Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari, Iran disebut telah membatasi lalu lintas kapal di selat tersebut. Bahkan, beberapa kapal yang mencoba melintas dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Iran juga diperkirakan memiliki hingga 6.000 ranjau laut yang berpotensi digunakan untuk menutup jalur pelayaran tersebut.
Melansir dari Task and Purpose Rabu (11/3/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menegaskan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka merupakan prioritas pemerintahannya. Trump bahkan memperingatkan Iran Amerika akan mengambil tindakan balasan jika aliran minyak melalui selat tersebut terganggu.
Selain itu, Trump juga menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker minyak yang melintasi kawasan itu jika diperlukan.
“Kami akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah seiring munculnya masalah tersebut,” kata Caine.
Tidak hanya menargetkan ranjau laut, militer AS kini juga memperluas serangan ke sektor industri militer Iran, terutama pabrik-pabrik yang memproduksi drone serang satu arah. Drone jenis ini dirancang untuk terbang langsung ke target dan meledak saat mengenai sasaran.
Menurut Caine, beberapa fasilitas produksi drone Iran telah diserang untuk melemahkan kemampuan negara tersebut dalam melancarkan serangan otomatis di masa depan. Meski begitu, ia tidak merinci jumlah pabrik yang telah dihancurkan maupun tingkat kerusakan yang terjadi.
Konflik ini sendiri dimulai saat militer AS melancarkan serangan udara dan rudal ke Iran dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan ribuan drone ke negara-negara mitra AS di kawasan Timur Tengah.
Selama konflik berlangsung, pasukan AS bersama sekutunya menggunakan pesawat tempur dan helikopter serang untuk menembak jatuh drone-drone tersebut.
Caine menegaskan militer AS akan terus menargetkan fasilitas militer dan industri Iran. Tujuannya adalah untuk mencegah Iran melakukan serangan terhadap Amerika Serikat, sekutunya, serta kepentingan mereka di kawasan pada masa mendatang. (Nur Amalina)
#ranjau-laut-iran #serangan-militer-as #kapal-niaga-besar #selat-hormuz #keamanan-jalur-pelayaran #drone-serang-iran #produksi-drone-iran #fasilitas-militer-iran #konflik-as-iran #serangan-udara-as #op