Perang Iran Berpotensi Ganggu Pasokan Chip Global

Perang Iran Berpotensi Ganggu Pasokan Chip Global

Konflik Iran dengan AS dan Israel di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan bahan baku chip seperti helium dan bromin.

(Kompas.com) 11/03/26 09:45 161420

KOMPAS.com – Konflik antara Iran dan AS-Israel berpotensi mengguncang industri semikonduktor global. Perang yang berkepanjangan dikhawatirkan mengganggu pasokan bahan baku penting serta memicu kenaikan harga energi yang dapat menekan permintaan chip, terutama untuk pusat data kecerdasan buatan (AI).

Sejumlah analis menilai dampak konflik saat ini masih relatif terbatas. Namun, jika perang berlangsung lama, gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya energi dapat memengaruhi produksi hingga permintaan chip di pasar global.

Dikutip dari CNBC, Rabu (11/3/2026), saham-saham semikonduktor sempat tertekan akibat aksi jual di pasar saham global sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin menyatakan perang tersebut akan segera berakhir.

Produsen chip memori asal Korea Selatan, Samsung dan SK Hynix, menjadi yang paling terdampak. Nilai kapitalisasi pasar kedua perusahaan itu tercatat terpangkas lebih dari 200 miliar dollar AS sejak awal konflik, meski saham keduanya sempat menguat tajam pada Selasa.

Sementara itu, indeks dana berbasis saham semikonduktor VanEck Semiconductor ETF tercatat turun sekitar 3 persen sejak perang dimulai, meski sempat memangkas sebagian kerugian setelah naik 3,6 persen pada Senin.

Risiko gangguan pasokan bahan baku

Analis memori di SemiAnalysis Ray Wang mengatakan konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah dapat mengganggu akses produsen chip terhadap bahan baku penting seperti helium dan bromin.

“Untuk saat ini dampaknya masih terbatas. Namun konflik yang berkepanjangan dapat memicu gangguan pasokan atau memaksa produsen menyesuaikan sumber bahan baku utama,” kata Wang.

Timur Tengah memiliki peran penting dalam rantai pasok industri semikonduktor global. Seorang anggota parlemen Korea Selatan bahkan memperingatkan pekan lalu bahwa perang Iran dapat menghambat akses terhadap sejumlah bahan baku penting dari kawasan tersebut.

Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah helium. Gas ini digunakan dalam proses produksi chip untuk membantu pembuangan panas serta pada proses litografi yang digunakan untuk mencetak sirkuit rumit pada chip. Hingga kini belum ada alternatif yang dapat menggantikan helium dalam proses tersebut.

Data Survei Geologi Amerika Serikat menunjukkan Qatar memproduksi lebih dari sepertiga pasokan helium dunia.

Pada 2023, Semiconductor Industry Association memperingatkan bahwa gangguan pasokan helium berpotensi menimbulkan guncangan besar pada industri manufaktur semikonduktor global.

Masalah tidak hanya terjadi pada produksi, tetapi juga distribusi. Pengiriman helium dari Timur Tengah dapat terganggu jika jalur pelayaran penting Selat Hormuz ditutup.

Presiden Kornbluth Helium Consulting, Phil Kornbluth, memperkirakan lebih dari 25 persen pasokan helium dunia bisa hilang dari pasar jika jalur tersebut ditutup dalam waktu lama.

Helium di Qatar diproduksi sebagai produk sampingan dari pengolahan gas alam cair (LNG) oleh perusahaan milik negara QatarEnergy. Fasilitas Ras Laffan Industrial City milik perusahaan tersebut dilaporkan sempat terkena serangan drone Iran pekan lalu sehingga operasionalnya terhenti.

Kornbluth memperkirakan dunia kemungkinan menghadapi penghentian produksi helium setidaknya selama dua hingga tiga bulan, dan rantai pasok baru dapat kembali normal setelah empat hingga enam bulan.

Selain helium, bromin juga menjadi bahan penting dalam proses produksi semikonduktor. Sekitar dua pertiga produksi bromin dunia berasal dari Israel dan Yordania.

Peter Hanbury, mitra di Bain & Company, mengatakan risiko terhadap bahan baku penting memang ada, meski saat ini masih tergolong moderat.

“Helium menjadi bahan utama yang kami pantau. Qatar merupakan salah satu sumber terbesar helium, meskipun Kanada dan Amerika Serikat juga menjadi pemasok besar,” kata Hanbury.

Lonjakan harga energi bisa menekan permintaan

Selain risiko gangguan bahan baku, konflik Timur Tengah juga memicu kenaikan harga energi yang dapat memengaruhi permintaan chip.

Banyak chip yang diproduksi saat ini digunakan untuk pusat data yang menjalankan model AI besar. Infrastruktur tersebut membutuhkan konsumsi energi yang sangat tinggi.

Chip grafis milik Nvidia serta chip memori dari Samsung dan SK Hynix banyak digunakan di pusat data yang dibangun perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Amazon.

Konflik tersebut sempat mendorong harga minyak Brent melonjak hingga di atas 100 dollar AS per barel sebelum kembali turun sebagian pada Selasa.

Analis ekuitas Morningstar Jing Jie Yu mengatakan ketergantungan tinggi Amerika Serikat pada minyak mentah dapat meningkatkan biaya operasional pusat data AI secara signifikan.

Menurut dia, pusat data AI membutuhkan listrik tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan pusat data biasa.

“Kondisi ini dapat meningkatkan total biaya kepemilikan bagi perusahaan hyperscaler dan berpotensi menghambat adopsi infrastruktur AI,” kata Yu.

Jika perang berlangsung lama, Yu memperkirakan permintaan chip memori untuk AI dapat mengalami penurunan.

Produsen chip memori paling terdampak

Samsung dan SK Hynix merupakan dua produsen chip memori terbesar di dunia. Komponen ini tidak hanya digunakan pada perangkat elektronik seperti ponsel pintar dan laptop, tetapi juga menjadi bagian penting dari pusat data AI.

Salah satu jenis chip yang banyak digunakan adalah high bandwidth memory (HBM), yaitu jenis DRAM yang disusun secara vertikal dan menjadi komponen penting dalam sistem AI milik Nvidia.

Lonjakan permintaan AI dan investasi ratusan miliar dollar AS oleh perusahaan hyperscaler untuk membangun pusat data membuat pasokan chip memori dunia terserap ke proyek-proyek tersebut. Kondisi ini memicu kelangkaan memori dan lonjakan harga chip.

Situasi tersebut mendorong kenaikan laba Samsung dan SK Hynix sekaligus mengerek harga saham keduanya dalam sekitar sembilan bulan terakhir.

Namun, kenaikan biaya energi dan potensi penurunan permintaan kini membuat investor mulai berhati-hati.

Direktur riset Counterpoint Research MS Hwang mengatakan listrik menyumbang sekitar setengah dari biaya operasional pusat data, dan sekitar setengah dari konsumsi listrik tersebut digunakan untuk menjalankan memori.

“Jika harga memori terus naik akibat ketidakstabilan rantai pasok sementara biaya energi juga meningkat, operator pusat data dapat mengurangi belanja modal dan permintaan semikonduktor,” kata Hwang.

Meski demikian, Yu mencatat Samsung dan SK Hynix masih memiliki kontrak pasokan HBM yang telah terkunci sepanjang tahun ini sehingga produksi jangka pendek relatif aman.

Namun, perang yang berkepanjangan berpotensi menunda pembangunan infrastruktur AI serta menekan permintaan produk DRAM konvensional yang tidak dilindungi kontrak jangka panjang.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan harga DRAM melemah dan pendapatan produsen chip lebih rendah dari perkiraan.

Yu menambahkan konflik berkepanjangan juga dapat meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan, baik dari sisi utilitas maupun potensi penurunan hasil produksi akibat keterbatasan bahan penstabil penting dalam proses manufaktur chip.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#perang-iran #chip-ai #industri-semikonduktor #perang-timur-tengah #harga-energi-dunia #permintaan-chip-global #dampak-perang-iran-terhadap-semikonduktor #rantai-pasok-semikonduktor-global

https://money.kompas.com/read/2026/03/11/094524026/perang-iran-berpotensi-ganggu-pasokan-chip-global