Peneliti Soroti Peran AI di Perang Iran–AS, dari Medan Tempur ke Opini Publik

Peneliti Soroti Peran AI di Perang Iran–AS, dari Medan Tempur ke Opini Publik

AI digunakan dalam perang Iran-AS untuk menyebar disinformasi melalui gambar dan video palsu, mempengaruhi opini publik dan tindakan politik.

(Bisnis.Com) 09/03/26 13:45 159090

Bisnis.com, JAKARTA — Para peneliti melihat kecerdasan buatan (AI) menjadi senjata baru dalam perang. Banyak disinformasi yang dihasilkan oleh AI, misalnya gambar dan video palsu yang sengaja dibuat untuk menjadi alat politik global.

Selain itu banyak juga gambar dan video mengenai perang Iran dan Amerika-Israel bertebaran di dunia maya, seperti foto ledakan besar di bandara Irak, citra satelit yang menggambarkan kerusakan pada pangkalan angkatan laut AS di Qatar, atau video rudal balistik Iran yang menghantam pusat kota Tel Aviv.

Melihat informasi gambar dan video yang tersebar, banyak orang yang percaya tentang keadaan di dalam gambar atau video tersebut. Namun nyatanya tidak satu pun dari gambar-gambar itu nyata.

Gambar dan video tersebut adalah palsu atau dimanipulasi dengan AI. Padahal gambar tersebut terlihat sangat realistis dan banyak orang langsung percaya serta membagikannya. Hal ini membuat orang sulit membedakan mana yang fakta dan mana yang propaganda.

Seorang peneliti AI terkemuka Rumman Chowdhury, yang juga mantan kepala etika di X (yang saat itu dikenal sebagai Twitter), mengatakan sekarang teknologi AI sudah bisa membuat video, suara, dan gambar palsu (deepfake) sangat realistis, sehingga kebanyakan orang tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.

Selain itu, Chowdhury juga menambahkan meskipun perusahaan AI telah menyetujui penambahan watermark dan metode verifikasi lainnya, metode tersebut tidak dibangun dengan mempertimbangkan bagaimana pengguna berinteraksi dengan media sosial.

“Ini sangat berbahaya jika mempertimbangkan situasi seperti perang di Iran,” kata Chowdhury dikutip dari Rolling Stone, Senin (9/3/2026).

Namun masalah ini tidak sesederhana orang-orang yang diberi deepfake dan tertipu. Ilmuwan politik Steven Feldstein mengatakan seiring meningkatnya pemahaman masyarakat tentang AI, para pembuat konten disinformasi juga menjadi lebih canggih dalam menyajikan sesuatu, sehingga menghasilkan “shallowfake”, yaitu manipulasi yang lebih halus.

“Daripada menyajikan sesuatu yang tampak sepenuhnya salah, [mereka] menyajikan nuansa kebenaran, memanipulasi apa yang ada,” kata Feldstein.

Artinya, pembuat konten palsu sering menambahkan detail yang terlihat meyakinkan agar orang tidak curiga. Walaupun terlihat nyata, sebenarnya informasi tersebut sudah diubah sehingga menggambarkan kejadian sesuai sudut pandang tertentu.

Perubahannya kadang sangat kecil, misalnya foto asli bandara di Irak yang hanya menunjukkan asap di atas pangkalan militer AS. Lalu foto itu diedit dengan AI sehingga terlihat seperti ada ledakan api besar. Bisa juga dengan cara lain, seperti memakai foto lama tetapi menyebarkannya seolah-olah foto tersebut baru saja diambil.

Feldstein mengatakan sekarang informasi dan gambar di internet sering digunakan untuk mendorong orang melakukan suatu tindakan. Karena media sosial menyebarkan informasi dengan sangat cepat, banyak orang langsung mempercayainya tanpa sempat memeriksa sumbernya. Akibatnya, sulit mengetahui apakah informasi tersebut benar atau hanya mewakili kepentingan pihak tertentu.

Dia juga menambahkan pemimpin Amerika Serikat dan Israel menggunakan gambar dan pesan tertentu untuk mendorong warga Iran menentang pemerintah mereka.

Menurutnya, AS tidak hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi juga menyebarkan informasi untuk mempengaruhi situasi di lapangan.

Selain dampak politik, informasi palsu juga berbahaya bagi kemanusiaan. Orang yang hidup di daerah perang membutuhkan informasi yang benar untuk mengetahui tempat aman, lokasi serangan, dan kapan harus mengungsi. Karena itu, informasi yang dapat dipercaya sangat penting. (Nur Amalina)

#ai-perang #disinformasi-ai #gambar-palsu-ai #video-palsu-ai #deepfake-ai #shallowfake #manipulasi-gambar #manipulasi-video #perang-iran-as #perang-informasi #media-sosial-disinformasi #etika-ai #tekno

https://teknologi.bisnis.com/read/20260309/84/1958940/peneliti-soroti-peran-ai-di-perang-iran-as-dari-medan-tempur-ke-opini-publik