Boy Thohir hingga Anthoni Salim Masuk Daftar 1%, Analis Sebut Sinyal ‘Planting’
Munculnya nama konglomerat di porsi kepemilikan minoritas dinilai sebagai langkah 'planting' sebelum adanya aksi korporasi seperti merger dan akuisisi.
(Bisnis.Com) 04/03/26 19:24 155240
Bisnis.com, JAKARTA — Kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membuka data kepemilikan saham di atas 1% mulai menyingkap keterlibatan figur-figur besar di berbagai emiten. Nama-nama seperti Boy Thohir hingga Anthoni Salim terpantau mendekap sejumlah saham dengan porsi di bawah 5%.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 27 Februari 2026, Garibaldi Thohir tercatat menjadi pemegang saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dengan porsi kepemilikan 5,83% atau 454,01 juta lembar.
Dia juga mengoleksi saham PT Alamtri Resources Tbk. (ADRO), PT Essa Industries Indonesia Tbk. (ESSA), PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Provident Investasi Bersama Tbk. (PALM), dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. (TRIM).
Kepemilikannya tersebut masing-masing sebanyak 1,97 miliar lembar (6,73%); 2,50 miliar lembar (14,55%); 2,44 miliar lembar (2,26%); 1,82 miliar lembar (7,46%); 3,13 miliar lembar (19,90%); dan 2,46 miliar lembar (34,68%).
Sementara itu, taipan Prajogo Pangestu turut mengoleksi sejumlah saham, antara lain PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dengan porsi 71,37% atau sebanyak 66,91 miliar lembar. Sementara itu, di PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), Prajogo memiliki porsi 84,10% atau sebanyak 94,54 miliar lembar.
Berikutnya, Prajogo mengoleksi saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan porsi kepemilikan sebesar 5,03% atau sebanyak 4,35 miliar lembar.
Dari jajaran para konglomerat Tanah Air, ada pula nama Anthoni Salim yang mengoleksi saham emiten dengan status kepemilikan langsung di atas 1%.
Anthoni Salim tercatat sebagai pemegang saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan kepemilikan 1,15% atau sebanyak 1,41 miliar lembar, selain PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) sebesar 11,12% atau sebanyak 265,03 juta lembar.
Kemudian, Anthoni juga menggenggam sebanyak saham PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), masing-masing 3,58 miliar lembar (25,30%) dan 5,51 miliar lembar (8,97%).
Ada pula nama Happy Hapsoro yang menjadi pemegang saham PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) dengan kepemilikan 2,04% atau sebanyak 59,60 juta lembar.
Hapsoro tercatat mengoleksi saham PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) sebanyak 1,93 miliar lembar (19,68%), PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) sebanyak 1,16 miliar lembar (27,52%), PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) 43,29 juta lembar (9%), dan PT Pakuan Tbk. (UANG) 234,17 juta lembar (19,35%).
SINYAL
Sementara itu, munculnya nama-nama konglomerat pada level kepemilikan di atas 1% dinilai bukan sekadar investasi pasif, melainkan bisa menjadi sinyal awal menuju aksi korporasi besar seperti merger dan akuisisi (M&A).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai bahwa kemunculan nama-nama besar pada level kepemilikan saham sebesar1% hingga 4,9% merupakan hal yang wajar. Menurutnya, hal tersebut bisa menjadi bagian dari strategi investasi yang sifatnya tersembunyi.
"Ketika mereka masuk pada kepemilikan 1% hingga 4,9%, hal itu kerap menjadi sinyal awal masuknya investor strategis sebelum aksi korporasi yang lebih besar, seperti merger atau akuisisi," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (4/3/2026).
Nafan menjelaskan kepemilikan awal di level tersebut dapat dianggap sebagai langkah ‘planting’ atau tebar benih dalam kerangka strategi jangka panjang.
Selain untuk mengamankan posisi, langkah ini juga bertujuan untuk menjaga stabilitas harga saham serta mengamankan likuiditas bagi sang investor.
Meski demikian, Nafan memberikan catatan kritis terkait aspek likuiditas pasar secara keseluruhan. Jika porsi saham publik atau free float banyak dikuasai oleh figur-figur besar dengan porsi masing-masing sekitar 1%, maka jumlah saham yang benar-benar ditransaksikan di pasar reguler menjadi terbatas.
“Kondisi tersebut dapat memengaruhi likuiditas dan berpotensi menimbulkan likuiditas semu. Situasi seperti ini wajar terjadi, terutama pada saham dengan tingkat volatilitas yang tinggi,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, pasar modal Indonesia memasuki babak baru transparansi seiring publikasi daftar pemegang saham emiten dengan kepemilikan di atas 1%. Kebijakan ini mulai berlaku efektif Selasa (3/3/2026).
Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa perluasan data ini merupakan bagian dari empat proposal penguatan pasar modal yang diajukan kepada global index provider, yakni MSCI dan FTSE.
“Per sore ini, saat pasar sudah tutup, shareholders name di atas 1% sudah bisa diakses oleh publik di situs web IDX,” ujar Jeffrey di Jakarta.
Jeffrey menjelaskan bahwa data itu disediakan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Sebagaimana diketahui, sebelumnya publik hanya dapat mengakses informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5%.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menambahkan bahwa penyediaan data ini merujuk pada Keputusan Dewan Komisioner OJK No. 01/2021 yang menunjuk KSEI dan BEI sebagai penyedia data publik. Salah satu poin utamanya adalah penggabungan data kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat.
Untuk data kepemilikan script, Samsul juga menyampaikan bahwa KSEI mendapatkan suplai data dari Biro Administrasi Efek (BAE) untuk kemudian disatukan dengan data scriptless yang ada di sentral data KSEI.
“Kalau tadinya di bursa itu pengumuman di atas 5%, sekarang pengumumannya adalah pemegang saham di atas 1%. Kami sampaikan ke bursa serta Otoritas Jasa Keuangan [OJK] sore ini dan teman-teman semua bisa lihat,” kata Samsul.
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#boy-thohir-saham #anthoni-salim-saham #kepemilikan-saham-1 #bursa-efek-indonesia #garibaldi-thohir-adaro #prajogo-pangestu-saham #anthoni-salim-bca #saham-planting #merger-akuisisi-saham #sinyal-inve