Imbas Konflik Iran-AS, Inggris Peringatkan Lonjakan Serangan Siber ke Korporasi

Imbas Konflik Iran-AS, Inggris Peringatkan Lonjakan Serangan Siber ke Korporasi

Inggris memperingatkan korporasi tentang ancaman serangan siber akibat konflik Iran-AS. Perusahaan harus waspada dan memperkuat keamanan siber mereka.

(Bisnis.Com) 03/03/26 19:10 153752

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Inggris yang berfokus pada keamanan siber, National Cyber Security Centre (NCSC), memperingatkan seluruh korporasi di Inggris mengenai ancaman risiko serangan siber yang dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di Iran.

Lembaga tersebut menekankan bahwa serangan fisik dan digital yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dikhawatirkan memicu efek domino di ruang siber global. Situasi ini dinilai dapat berubah sewaktu-waktu dengan pemberitahuan singkat.

Direktur Ketahanan Nasional NCSC Jonathon Ellison mengatakan korporasi yang memiliki aset atau rantai pasokan di daerah dengan tensi regional tinggi berada dalam risiko yang paling rentan. Hal ini mencakup ancaman tidak langsung yang kini dikategorikan "hampir pasti" terjadi.

“Dalam konteks peristiwa yang berkembang cepat di Timur Tengah, sangat penting bagi semua organisasi Inggris untuk tetap waspada terhadap potensi risiko kompromi siber,” kata Ellison dikutip dari The Register, Selasa, (3/3/2026).

Berdasarkan laporan pemantauan jaringan, konektivitas internet di Iran sempat merosot hingga mendekati 0% setelah serangan terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu.

Analis dari perusahaan keamanan siber SentinelOne menilai aktivitas siber yang selaras dengan kepentingan negara Iran kemungkinan besar akan meningkat dalam jangka pendek. Iran diketahui memanfaatkan operasi siber sebagai alat retribusi asimetris dan pesan strategis.

Menurut data dari perusahaan keamanan Amerika Serikat, Anomali, Teheran diperkirakan mengandalkan serangan siber karena operasi militer konvensional mereka terhambat oleh "Operation Epic Fury".

Kelompok tersebut, yang juga dikenal sebagai MuddyWater, memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Fokus serangan diprediksi menyasar jaringan pertahanan, pemerintah, serta jaringan intelijen milik Israel dan Amerika Serikat.

Taktik yang paling diwaspadai adalah penggunaan wiper malware, yakni perangkat lunak berbahaya untuk menghapus data secara permanen. Penggunaan perangkat ini bertujuan melumpuhkan sistem komputer secara total agar sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

Selain serangan teknis, terdapat potensi penguatan kampanye disinformasi untuk membentuk persepsi publik. SentinelOne mencatat tujuan langkah tersebut adalah untuk mengaburkan kegagalan militer atau dampak terhadap warga sipil melalui klaim-klaim palsu.

NCSC menginstruksikan perusahaan untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap dasar-dasar keamanan, termasuk audit eksposur internet dan pengetatan kontrol akses. Perusahaan juga didorong mendaftar pada layanan Early Warning untuk notifikasi waktu nyata.

Kesiapan menghadapi lonjakan lalu lintas Distributed Denial of Service (DDoS) juga menjadi poin krusial. Meskipun kemampuan teknis aktor tertentu sering dianggap dilebih-lebihkan, mereka tetap dikategorikan sebagai pihak yang mampu melakukan gangguan signifikan.

Di sisi lain, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) di Amerika Serikat sebelumnya telah memperingatkan risiko serupa. Aktor siber yang berafiliasi dengan pemerintah Iran rutin menargetkan jaringan dengan keamanan buruk dan perangkat internet.

Situasi geopolitik yang cair saat ini menuntut perusahaan untuk tidak hanya bergantung pada pertahanan pasif. Pelaku usaha diwajibkan aktif memantau perkembangan situasi dan menyesuaikan strategi keamanan secara dinamis seiring dinamika lapangan.

#serangan-siber #keamanan-siber #ancaman-siber #konflik-iran-as #serangan-digital #risiko-siber #keamanan-korporasi #serangan-siber-iran #ancaman-keamanan #wiper-malware #kampanye-disinformasi #distrib

https://teknologi.bisnis.com/read/20260303/84/1957406/imbas-konflik-iran-as-inggris-peringatkan-lonjakan-serangan-siber-ke-korporasi