Defisit 100 Juta Ton, Industri Nikel Mulai Lirik Opsi Impor dari Filipina Hingga Papua Nugini
Industri nikel nasional mulai mempertimbangkan opsi impor bijih sebagai langkah antisipasi defisit pasokan pada 2026.
(WE Finance) 02/03/26 18:20 152355
Warta Ekonomi, Jakarta -Industri nikel nasional mulai mempertimbangkan opsi impor bijih, sebagai langkah antisipasi defisit pasokan pada 2026.
Dengan kebutuhan smelter yang mencapai 340–350 juta ton per tahun dan kuota produksi domestik yang lebih rendah, ruang kekurangan pasokan dinilai sulit tertutup dari dalam negeri.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arief Perdana Kusuma mengatakan, impor menjadi salah satu opsi realistis untuk menutup selisih kebutuhan tersebut.
Pada 2025, impor bijih tercatat sekitar 15 juta ton.
“Impor tahun lalu 15, mungkin tahun ini bisa lebih."
"Pasti ada, masih ada gap-nya gitulah yang harus jadi pemikiran kita semua,” ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan APINDO di Jakarta, Senin (2/3/2026).