Konflik AS-Iran Makin Sengit, Pendanaan ke Startup RI Dikhawatirkan Makin Seret
Konflik AS-Iran memicu kehati-hatian investor terhadap startup RI, meski Indonesia tetap menarik dengan pasar besar dan digitalisasi. Pendanaan difokuskan pada sektor defensif dan ketahanan bisnis.
(Bisnis.Com) 02/03/26 17:40 152296
Bisnis.com, JAKARTA— Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) menilai di tengah konflik Amerika Serikat dan Iran, sikap investor yang semakin berhati-hati dalam menyalurkan pendanaan ke startup merupakan hal yang wajar.
Meski demikian, pengurus AMVESINDO Even Chandra mengatakan pihaknya belum melihat adanya reaksi signifikan dari para investor. Menurutnya, Indonesia tetap menjadi pasar struktural yang besar.
“Dengan basis konsumen domestik yang kuat dan penetrasi digital yang terus berkembang, Indonesia masih berada dalam radar investor regional dan global,” kata Even kepada Bisnis, Senin (2/4/2026).
Dalam situasi global yang tidak menentu, Even menekankan bahwa keberlanjutan menjadi kata kunci bagi seluruh ekosistem pendanaan dan inovasi. Bagi perusahaan modal ventura, hal ini berarti meningkatkan selektivitas investasi dengan menitikberatkan pada ketahanan model bisnis, kejelasan jalur menuju profitabilitas, serta disiplin keuangan yang terukur.
Dia menambahkan, alokasi modal cenderung diarahkan ke sektor-sektor yang relatif defensif dan memiliki kebutuhan struktural jangka panjang, seperti agritech, B2B SaaS, dan kecerdasan buatan (AI).
Di saat yang sama, pengelolaan eksposur risiko nilai tukar menjadi semakin krusial, khususnya bagi investasi dengan struktur lintas mata uang yang rentan terhadap volatilitas global.
Bagi startup, Even menyebut adaptasi sebagai prasyarat utama untuk bertahan dan tumbuh. Perusahaan perlu memperpanjang runway melalui pengendalian biaya dan optimalisasi efisiensi operasional, sekaligus memprioritaskan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan, bukan sekadar ekspansi agresif berbasis subsidi.
Selain itu, penguatan tata kelola perusahaan dan kepatuhan terhadap regulasi juga menjadi faktor pembeda. Dalam kondisi ketidakpastian, investor dinilai semakin sensitif terhadap risiko non-keuangan, termasuk aspek hukum, reputasi, dan kepatuhan.
Dari perspektif kebijakan publik, Even menilai terdapat tiga area krusial untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif. Pertama, stabilitas makroekonomi dan nilai tukar, mengingat volatilitas berlebihan akan langsung memengaruhi persepsi risiko dan cost of capital. Kedua, insentif fiskal yang kompetitif, termasuk dukungan terhadap investasi riset dan pengembangan serta perlakuan pajak yang mendorong reinvestasi modal. Ketiga, kepastian regulasi dan kemudahan struktur investasi lintas batas.
“Dalam konteks persaingan regional, kejelasan hukum dan konsistensi kebijakan menjadi faktor diferensiasi utama dalam menarik modal jangka panjang,” kata Even.
Sementara itu, Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai di tengah ketidakpastian ekonomi global yang meningkat pascakonflik di Timur Tengah, investor cenderung berpikir ulang untuk menanamkan dana pada instrumen berisiko tinggi, termasuk startup digital.
Menurutnya, investor akan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti emas atau US Treasury.
“Investor cenderung main aman,” kata Huda kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).
Huda menilai kondisi tersebut berpotensi membuat pendanaan bagi startup digital semakin berkurang. Padahal, menurutnya, tahun 2026 semestinya menjadi momentum rebound seiring kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengarah pada ekspansi ekonomi, seperti suku bunga rendah yang berpotensi meningkatkan minat pendanaan ke sektor digital.
“Tapi nampaknya akan kembali lagi melemah karena ketidakpastian ekonomi global yang tinggi,” katanya.
Dia menambahkan, ketika pendanaan menyusut, sulit berharap adanya pertumbuhan signifikan di sektor digital, mengingat hampir seluruh startup digital masih membutuhkan suntikan modal.
Oleh karena itu, salah satu opsi yang tersedia adalah melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) untuk menghimpun dana publik. Namun, Huda menilai kondisi startup digital yang masih mencatatkan kerugian membuat potensi permintaannya terbatas.
“Kecuali memang dari sisi startup-nya memiliki ‘nilai lebih di mata investor ritel’. Tanpa itu, saya rasa susah juga bagi mereka untuk menggaet dana publik,” katanya.
Lebih lanjut, Huda mendorong pemerintah untuk memperkuat peran investor domestik, termasuk perusahaan modal ventura dalam negeri, agar dapat ikut menyalurkan pendanaan ke startup digital, tentu dengan tetap memperhatikan tujuan masing-masing perusahaan modal ventura.
“Salah satu upayanya ya mendorong tax incentive bagi perusahaan venture capital,” katanya.
#konflik-as-iran #pendanaan-startup-ri #investor-berhati-hati #pasar-indonesia-besar #penetrasi-digital-indonesia #ekosistem-pendanaan #selektivitas-investasi #sektor-defensif #risiko-nilai-tukar #adap