Kisah Laurent Simons, Jenius Belgia Lulus PhD Fisika Kuantum di Usia 15 Tahun
Di usia yang masih sangat muda, Laurent Simons, telah menyandang gelar doktor (PhD) Fisika Kuantum dari University of Antwerp. Laurent kini melanjutkan PhD kedua... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 26/02/26 15:22 148335
JAKARTA - Di usia yang masih sangat muda, Laurent Simons, telah menyandang gelar doktor (PhD) Fisika Kuantum dari University of Antwerp. Tak berhenti di situ, Laurent kini melanjutkan PhD kedua di bidang ilmu kedokteran dengan misi mulia: membantu manusia hidup lebih sehat dan berumur panjang.Meski memiliki kecerdasan luar biasa, Laurent tak pernah mengejar gelar demi pamer prestasi. Motivasinya sederhana namun menyentuh. Ia ingin memahami tubuh manusia lebih dalam setelah kehilangan kakek dan nenek tercinta akibat penyakit. Rasa sayang itulah yang menjadi bahan bakar semangatnya dalam menempuh pendidikan super cepat.
Lulus SMA di Usia 8 Tahun
Dikutip dari Instagram Kobi Education, sejak kecil, kemampuan belajar Laurent disebut seperti spons. Ia mampu menyerap materi pelajaran dengan sangat cepat. Guru-gurunya menyadari bahwa Laurent bisa memahami pelajaran satu tahun hanya dalam hitungan minggu.
Karena tempo sekolah reguler dianggap terlalu lambat dan membuatnya bosan, pihak sekolah menawarkan jalur akselerasi. Hasilnya luar biasa. Materi SMP dan SMA yang normalnya ditempuh enam tahun, berhasil diselesaikan Laurent hanya dalam waktu sekitar 1,5 tahun. Ia bahkan lulus SMA di usia 8 tahun.
S1 di Belanda, Pindah ke Belgia
Pada usia 9 tahun, Laurent memilih jurusan teknik elektro di Belanda sebagai tujuan kuliah S1. Ia kembali mendapatkan fasilitas akselerasi. Namun karena usianya yang terlalu muda dan kampus tidak memperbolehkannya lulus sebelum usia 10 tahun, orang tuanya memutuskan memindahkannya ke Belgia.
Di University of Antwerp, yang dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di Belgia, Laurent beralih ke jurusan fisika. Ia menyelesaikan gelar sarjana hanya dalam 18 bulan. Setelah itu, ia langsung melanjutkan S2 di jurusan dan kampus yang sama, dan berhasil merampungkannya dalam waktu satu tahun saja.
Raih Gelar PhD Fisika Kuantum di Usia 15 Tahun
Tak berhenti di sana, Laurent melanjutkan studi doktoralnya di bidang fisika kuantum. Di usia 15 tahun, ia sudah aktif berdiskusi dan berdebat dengan para peneliti senior. Risetnya pun bukan riset biasa, melainkan penelitian mendalam di bidang fisika kuantum yang dikenal sangat kompleks.
Dalam waktu sekitar tiga tahun riset, Laurent berhasil meraih gelar PhD Fisika Kuantum di usia 15 tahun, menjadikannya salah satu doktor termuda di dunia.
Lanjut PhD Kedua di LMU Munich
Baru saja menyelesaikan PhD pertamanya, Laurent langsung melanjutkan PhD kedua di bidang medical science di LMU Munich, Jerman, salah satu universitas terbaik di Eropa.
Langkah ini sejalan dengan cita-citanya untuk menggabungkan fisika, kedokteran, dan kecerdasan buatan (AI). Ia ingin menciptakan teknologi yang mampu membantu manusia hidup lebih lama serta memperbaiki bagian tubuh yang rusak akibat penyakit atau penuaan.
Tolak Tawaran Gaji Fantastis dari Perusahaan Teknologi
Kecerdasan Laurent membuat banyak perusahaan teknologi raksasa dunia tertarik merekrutnya dengan tawaran gaji fantastis. Namun ia memilih menolak semua itu. Fokusnya bukan pada kekayaan, melainkan pada riset dan kontribusi nyata bagi kesehatan manusia.
(nnz)