Fenomena Rumah Jokowi Jadi Tembok Ratapan Solo Dinilai Bermakna Satire Politik

Fenomena Rumah Jokowi Jadi Tembok Ratapan Solo Dinilai Bermakna Satire Politik

Fenomena perubahan nama rumah Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jalan Kutai Utara No 1, Kelurahan Sumber, Solo menjadi “Tembok Ratapan Solo di Google... | Halaman Lengkap

(SINDOnews Ekbis) 24/02/26 21:13 146180

JAKARTA - Fenomena perubahan nama rumah Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jalan Kutai Utara No 1, Kelurahan Sumber, Solo menjadi “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps dinilai sebagai simbol atau tanda sosial yang sarat makna. Menurut Analis Sosial Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun, dalam perspektif sosiologi, setiap interaksi maupun perilaku di ruang publik—termasuk di ruang digital—merupakan tanda yang mengandung arti tertentu.

“Dalam sosiologi, setiap interaksi itu adalah tanda. Ketika netizen membuat satu titik lokasi dengan istilah ‘Tembok Ratapan Solo’, itu adalah simbol yang punya makna. Bisa makna sosiologis, bisa politis, bisa juga satir,” ujar Ubedilah dalam podcast atau siniar To The Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, dikutip Selasa (24/2/2026).

Ia mengaku menangkap fenomena tersebut lebih sebagai bentuk satire politik. Penamaan itu, menurutnya, tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan terkait dengan dinamika politik yang belakangan kerap mengaitkan Solo sebagai pusat simbolik entitas kekuatan tertentu.

Fenomena Rumah Jokowi Jadi Tembok Ratapan Solo Dinilai Bermakna Satire Politik


Ubedilah menyinggung istilah “geng Solo” yang kerap muncul dalam perbincangan politik nasional. Ia menyebut, Solo sering dipersepsikan sebagai titik sentral jejaring politik dan komunikasi tertentu, termasuk keberadaan para pendukung aktif di ruang digital.

“Tidak sedikit buzzer yang kemudian hidup dari Solo misalnya. Sehingga ketika banyak buzzer yang bergantung kepada Solo, seolah-olah Solo titik itu disebut sebagai ratapan itu dari tempat permohonan untuk mendapatkan macam-macam,” ujarnya.

“Nah, saya kira mungkin itu satir ya dari masyarakat yang mungkin mulai sudah banyak cara untuk melakukan kritik lalu tidak ketemu, lalu ketemulah Tembok Ratapan itu,” sambungnya.

Ia juga menyinggung asal-usul istilah “Tembok Ratapan” yang secara historis merujuk pada situs suci di Israel, yang dikenal sebagai tempat ibadah dan doa umat Yahudi. Dalam konteks ini, Ubedilah menilai warganet mungkin tengah membangun analogi simbolik yang bersifat kritik.

“Yang kedua, tafsirnya bisa juga Solo itu seperti berjejaring dengan Yahudi. Zionis. Di mana kemudian Israel hari ini dipersepsikan sebagai negara yang melakukan tindakan pembunuhan terhadap warga Gaza. Jadi ini satirnya bisa ditafsirkan banyak ya sebetulnya multitafsir gitu. Multitafsir dan mestinya ya Solo di momentum Ramadan ini mesti bertobat ya,” pungkasnya.
(rca)

#solo #jokowi #tembok-ratapan-yahudi #to-the-po-nt-aja #rumah-jokowi

https://nasional.sindonews.com/read/1680453/12/fenomena-rumah-jokowi-jadi-tembok-ratapan-solo-dinilai-bermakna-satire-politik-1771938155