IHSG Dibuka Menguat Dekati Level 8.000, Saham BUMI, ANTM & MDKA Kompak Melaju
IHSG dibuka menguat di posisi 7.970,02 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp14.427 triliun, didorong oleh kenaikan saham BUMI, ANTM, dan MDKA.
(Bisnis.Com) 09/02/26 09:12 130076
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/2/2026). Sejumlah saham seperti BUMI, ANTM, hingga MDKA naik ke zona hijau pagi ini.
Berdasarkan data RTI Infokom, pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka menguat pada posisi 7.970,02. IHSG sempat bergerak di rentang 7.964-7.983 sesaat setelah pembukaan.
Tercatat, 319 saham menguat, 131 saham melemah, dan 219 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar IHSG terpantau menjadi Rp14.427 triliun.
Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menjadi salah satu saham yang menguat hari ini dengan naik 3,54% ke level Rp234 per saham.
Kemudian saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga naik 2,43% ke level Rp3.800 per saham pagi ini. Demikian juga saham MDKA yang menguat 4,21% ke level Rp2.970 per saham awal pekan ini.
Saham lainnya yang juga menguat ke zona hijau adalah saham BUVA naik 4,32% ke level Rp965, saham CDIA menguat 1,46% ke level Rp1.040, dan saham BBRI menguat 0,26% ke level Rp3.790.
Sebelumnya, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menuturkan memasuki pekan 9–13 Februari 2026, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global maupun domestik.
Dari Amerika Serikat, data inflasi menjadi sorotan utama dengan proyeksi penurunan ke level 2,5% yoy dari 2,7% yoy pada periode sebelumnya, yang dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
Selain itu, initial jobless claims diperkirakan berada di kisaran 235.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,4% mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai melandai.
Dari China, pasar akan mencermati rilis data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4% yoy dari 0,8% yoy, mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan ruang kebijakan yang lebih longgar bagi otoritas setempat.
Di dalam negeri, fokus investor tertuju pada rilis penjualan ritel Desember 2025 sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun, serta data penjualan mobil Januari 2026 yang akan memberikan gambaran awal mengenai tren konsumsi dan permintaan domestik di awal tahun. Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Di luar rilis data ekonomi, pasar juga masih akan mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, khususnya dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook, mengingat potensi implikasinya terhadap persepsi risiko, biaya pendanaan, dan sentimen investor.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#ihsg-menguat #saham-bumi #saham-antm #saham-mdka #saham-buva #saham-cdia #saham-bbri #pasar-keuangan-global #data-ekonomi-amerika #data-inflasi-china #penjualan-ritel-indonesia #penjualan-mobil-indone