IDC Indonesia Prediksi Pengiriman Smartphone Turun pada 2026, Efek Harga Kian Mahal
IDC Indonesia memprediksi pengiriman smartphone turun pada 2026 akibat kenaikan harga, terutama untuk perangkat di bawah US$200.
(Bisnis.Com) 31/01/26 14:31 120809
Bisnis.com, JAKARTA — International Data Corporation (IDC) Indonesia memproyeksikan pengiriman smartphone pada 2026 berpotensi turun secara keseluruhan di tengah tren kenaikan harga perangkat.
Associate Market Analyst, Devices Research, IDC Indonesia Vanessa Aurelia mengatakan harga smartphone diperkirakan makin tinggi ke depan, terutama karena perangkat dengan harga di bawah US$200 tidak memiliki pilihan selain menaikkan harga.
“Harga yang lebih tinggi dapat menyebabkan siklus penggantian perangkat menjadi lebih panjang, di mana konsumen akan menggunakan smartphone mereka lebih lama dibandingkan biasanya,” kata Vanessa kepada Bisnis pada Sabtu (31/1/2026).
Vanessa menambahkan kenaikan harga smartphone sudah terlihat pada beberapa model dari berbagai vendor di Indonesia. Menurut dia, kelangkaan memori masih terjadi hingga saat ini dan belum jelas kapan kondisi tersebut akan kembali normal.
Dia mengatakan IDC memperkirakan kesenjangan antara pasokan dan permintaan akan makin parah sehingga menyebabkan kekurangan pasokan dan harga yang lebih tinggi pada paruh pertama 2026.
“Kondisi ini kemungkinan mulai mereda pada paruh kedua tahun tersebut, namun harga diperkirakan tetap tinggi setidaknya hingga awal 2027,” kata Vanessa.
Vanessa menjelaskan kelangkaan yang memicu kenaikan harga disebabkan oleh pembangunan pusat data berskala besar dalam jangka pendek hingga menengah. Tren tersebut juga disertai dengan aksi para pemain utama industri memori yang mengalihkan sebagian besar ekspansi kapasitas dan investasinya ke segmen hyperscale dan AI.
Secara khusus, lanjut Vanessa, pasokan dan produksi memori kelas bawah seperti DDR4 yang masih digunakan pada banyak smartphone entry-level terus dikurangi.
Sementara itu, peralihan ke DDR5 belum terjadi secara masif. Bahkan pada DDR5, pemasok lebih memprioritaskan kebutuhan hyperscale dan AI.
Di saat yang sama, Vanessa mengatakan permintaan dari sisi klien (smartphone, PC, dan perangkat lainnya) serta permintaan dari sektor otomotif, terutama kendaraan listrik (EV), meningkat pesat sehingga mendorong kenaikan total permintaan memori dan penyimpanan.
Vanessa mengatakan perangkat dengan harga rendah memiliki margin yang lebih sempit, sehingga vendor sulit menyerap kenaikan biaya.
“Akibatnya, kenaikan harga di segmen ini akan lebih terlihat,” katanya.
Untuk segmen menengah hingga atas, Vanessa mengatakan vendor memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam melakukan penyesuaian. Namun, sebagian biaya tetap berpotensi dibebankan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga, meski dengan tingkat yang bervariasi.
“Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan spesifikasi lain guna menekan biaya,” kata Vanessa.
Untuk mengatasi hal tersebut, Vanessa mengatakan vendor dapat mencoba mengelola biaya dengan menurunkan spesifikasi selain memori. Namun, mengingat porsi biaya memori yang cukup besar dalam struktur biaya smartphone, langkah tersebut sulit sepenuhnya menutupi kenaikan biaya tanpa mengorbankan komponen lain.
Dalam situasi ini, lanjut Vanessa, langkah terbaik yang dapat dilakukan vendor adalah mengelola biaya seoptimal mungkin serta melakukan penyesuaian dan penguatan strategi pasar agar dapat bertahan di tengah kondisi pasar yang menantang.
Karena smartphone termasuk barang konsumsi nonesensial, intervensi pemerintah dinilai tidak diperlukan.
“Akan jauh lebih berdampak apabila pemerintah memprioritaskan stabilitas fiskal makro, karena faktor-faktor ekonomi yang lebih luas tersebut memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat,” kata Vanessa.
#smartphone-indonesia #pengiriman-smartphone #harga-smartphone-naik #idc-indonesia #proyeksi-smartphone-2026 #kenaikan-harga-perangkat #siklus-penggantian-perangkat #kelangkaan-memori #kekurangan-pasok