Analis Ramal IHSG Suspend Lagi Pasca Goldman Sach Turunkan Rating Saham Indonesia
Pengamat memproyeksikan, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berlanjut pada perdagangan Senin 2 Februari 2026 mendatang. Pengamat Ekonomi,... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 31/01/26 13:03 120765
JAKARTA - Pengamat Ekonomi, Mata uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) akan berlanjut pada perdagangan Senin 2 Februari 2026 mendatang. Ia beranggapan bahwa sentimen tekanan IHSG pada pekan depan bersumber dari hasil rilis Analis Goldman Sachs Group Inc, yang memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight.Keputusan ini buntut dari hasil Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menilai pasar saham Indonesia masih kurang transparan. MSCI membekukan sementara penyesuaian indeks bagi saham-saham Indonesia.
Dampak Ngeri Jika Bursa RI Turun Kasta, Dana Asing Terancam Keluar Rp838 Triliun
Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti tiga masalah utama, yakni ketidakjelasan struktur kepemilikan, rendahnya free float efektif, dan indikasi perdagangan terkoordinasi yang merusak mekanisme pasar. Kebijakan sementara ini disertai sinyal potensi penurunan kasta bursa saham Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market.
"Perdagangan saham hari Senin, kemungkinan IHSG di suspend kembali karena turunnya di 8 persen akibat Goldman Sach menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight," ujarnya melalui pernyataan tertulis, Sabtu (31/1/2026).
Ibrahim menyebut sentimen ini akan membuat dana asing yang ditempatkan di pasar saham RI akan kembali ditarik oleh para investor. Sehingga proyeksinya, koreksi terhadap IHSG kembali berlanjut pada pekan depan.
"Sama seperti MSCI, tinggal tunggu JP Morgan saja. Diperkirakan investor asing akan lakukan aksi jual," tambahnya.
Penyegaran Otoritas Pasar Modal di Tengah Badai MSCI, Kepercayaan Investor Bakal Pulih?
Sekedar informasi tambahan, penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sach merupakan buntut kekhawatiran MSCI yang akan menurunkan klasifikasi pasar modal dari emerging market menjadi frontier market. Hal ini memicu dana asing keluar lebih dari USD13 miliar atau setara Rp217 triliun.
"Kami memperkirakan penjualan pasif masih berlanjut dan menilai perkembangan ini menjadi beban (overhang) yang akan menghambat kinerja pasar," tulis para analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporannya.
Potensi penurunan status pasar dan dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan jual di pasar akan membuat likuiditas menurun. Sehingga diperkirakan mendorong investor long-only untuk menyeimbangkan ulang portofolionya. Situasi ini juga berpotensi memicu arus spekulatif dari hedge fund.
(akr)