Tragedi Kemanusiaan Sudan Memburuk, Indonesia Didorong Ambil Peran Aktif Perdamaian
Konflik Sudan memburuk, 150 ribu tewas. Indonesia didorong aktif berperan dalam perdamaian sesuai politik luar negeri bebas aktif.
(Bisnis.Com) 27/01/26 10:01 115348
Bisnis.com, JAKARTA – Perang saudara yang berkepanjangan di Sudan kian menimbulkan dampak kemanusiaan yang mengkhawatirkan.
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menilai konflik yang pada dasarnya merupakan pertarungan kekuasaan antara dua jenderal Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF), dan Mohammed Hamdan Dagalo atau Hemedti, kepala Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) telah berubah menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar abad ke-21.
Kedua tokoh militer tersebut sebelumnya pernah bekerja sama menggulingkan Presiden Omar al-Bashir yang berkuasa hampir tiga dekade. Namun sejak April 2023, hubungan keduanya berubah menjadi konflik terbuka demi merebut supremasi politik dan militer di Sudan.
Akibat pertempuran yang terus berlangsung, sedikitnya 150 ribu orang dilaporkan tewas. Krisis kemanusiaan semakin parah dengan lebih dari 522 ribu anak meninggal akibat kekurangan gizi, sekitar 14 juta warga mengungsi baik di dalam maupun ke luar negeri, serta 24 juta orang menderita kelaparan.
“Peristiwa perang di Sudan ini benar-benar telah menjadi tragedi kemanusiaan terbesar dalam abad ke-21,” kata Anwar Abbas lewat rilisnya, Selasa (27/1/2026).
Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan itu pun mengingatkan, apabila konflik tidak segera diatasi, Sudan berpotensi terpecah untuk kedua kalinya. Sebelumnya, pada 2011, Sudan Selatan yang kaya sumber daya minyak memisahkan diri dan mendirikan negara baru.
Di tengah konflik tersebut, pihak militer yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan menuduh Uni Emirat Arab (UEA) berada di belakang RSF pimpinan Hemedti. Tuduhan itu telah dibantah oleh pihak UEA.
Anwar Abbas menilai, Indonesia tidak seharusnya berdiam diri menghadapi krisis kemanusiaan yang terjadi di Sudan. Menurut dia, dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat ditegaskan bahwa tujuan politik luar negeri Indonesia adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
“Prinsip politik luar negeri kita adalah bebas aktif, tidak memihak pada blok mana pun yang bertikai, namun tetap aktif berpartisipasi dalam meredakan konflik agar tercipta perdamaian,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah Indonesia dapat memainkan peran diplomatik yang konstruktif untuk membantu menghentikan konflik di Sudan, demi mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.
“Sudah terlalu banyak jiwa yang melayang, korban luka dan sakit, serta jutaan pengungsi yang hidup dalam kondisi sangat menyedihkan dan mengenaskan,” kata Anwar Abbas.
#sudan-perang-saudara #tragedi-kemanusiaan-sudan #konflik-sudan #sudan-krisis-kemanusiaan #indonesia-peran-perdamaian #sudan-jenderal-al-burhan #sudan-jenderal-hemedti #sudan-kelaparan #sudan-pengungsi