Asal Usul Busana Pengantin Sumatra Bagian Selatan Identik dengan Emas
Buku "Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri" mengulas sejarah busana pengantin Sumatra Selatan yang kaya emas, menandai kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
(Bisnis.Com) 25/01/26 17:10 113600
Bisnis.com, JAKARTA - Busana pengantin di wilayah Sumatra bagian selatan hampir selalu dihiasi ornamen emas yang mencolok. Dari mahkota hingga berbagai aksesori tubuh, emas hadir sebagai elemen penting yang menandai kemegahan sekaligus kekhasan budaya wastra di kawasan ini.
Namun, siapa sangka, di balik kilau emas tersebut, tersimpan jejak sejarah panjang yang jarang dibicarakan. Kekhasan busana ini rupanya juga menjadi penanda masa kejayaan wilayah tersebut ketika berada di bawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya.
Sejarah dan makna busana pengantin Sumatra bagian selatan tersebut bakal diulas dalam buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri yang baru dirilis oleh organisasi sosial budaya perempuan, Putri Bumi Sriwijaya. Melalui pendekatan dokumentatif, buku ini merekam busana pengantin di sana sebagai bagian dari arsip sejarah budaya.
Menurut Ketua Umum Putri Bumi Sriwijaya, Prinny Harun Sohar, ide penyusunan buku ini digagas oleh pengusaha sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan, Dewi Motik, yang ingin menelusuri akar tradisi busana dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, busana adat di wilayah Sumatra bagian selatan menyimpan daya tarik menarik yang belum banyak ditelusuri.
"Prosesnya dimulai dengan menggodok ide serta konsep menjadi sebuah outline dan isi buku. Garis besar buku ini ialah busana pengantin perempuan, rumah adat, perhiasan, serta tata riasnya," katanya saat perilisan buku di Perpusatakaan Nasional, Kamis, (22/1/2025)
Selanjutnya, tim melakukan riset dengan menelusuri berbagai referensi sejarah terkait busana yang berkembang di kawasan Sumatra bagian selatan, terutama busana pengantin. Dari penelusuran tersebut, ditemukan keterkaitan yang kuat antara kekhasan busana dengan sejarah wilayah ini pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
Prinny menjelaskan bahwa pada masa lalu Sumatra dikenal dengan sebutan Pulau Percha atau Andalas. Para saudagar dari India kemudian menyebutnya Swarnadwipa, yang berarti “Pulau Emas”, merujuk pada peran emas sebagai komoditas utama sekaligus alat tukar penting kala itu.
Di wilayah ini, berdiri Kerajaan Sriwijaya dengan pusat pemerintahan di Palembang. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan sejak abad ke-7, ditopang oleh kekayaan emas dan hasil bumi, dengan wilayah kekuasaan yang mencakup sekitar sepertiga bagian selatan Sumatra, yang merupakan gabungan dari lima negeri.
Pada periode tersebut, seni budaya di masing-masing negeri berkembang pesat. Namun, tiap negeri memiliki kesamaan akar dalam penggunaan emas pada perhiasan dan busana, khususnya busana pengantin.
Meski Kerajaan Sriwijaya telah lama runtuh, jejak kejayaannya masih dapat ditelusuri, salah satunya melalui busana pengantin di wilayah-wilayah yang dahulu berada dalam kekuasaannya dan kini menjadi provinsi Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, serta Bangka Belitung.
Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini akan menampilkan 32 busana pengantin perempuan, 39 busana adat perempuan, beragam aksesori, serta koleksi wastra bernilai dari Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Bangka Belitung.
"Kami harap, keseluruhan isi buku ini menjadi pengingat dan pengikat atas sejarah kejayaan emas yang terus tersemai di Bhumi Lima Negeri pada masa lalu, kini, dan nanti," pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut buku ini sebagai langkah positif dalam upaya pendokumentasian budaya.
Menurutnya, buku tersebut memperlihatkan kekayaan ekspresi budaya Sumatra bagian selatan, dari wastra dan perhiasan hingga ragam hias, yang penting dikenalkan kepada generasi muda.
#busana-pengantin #sumatra-bagian-selatan #ornamen-emas #budaya-wastra #kerajaan-sriwijaya #sejarah-busana #putri-bumi-sriwijaya #buku-selayang-kemilau-bhumi-lima-negeri #busana-adat #perhiasan-emas #s