Basarnas Temukan 1 Jasad Korban Pesawat ATR 42-500, Penyebab Kecelakaan Masih Diselidiki
Basarnas menemukan jasad korban pesawat ATR 42-500 yang hilang saat terbang dari Yogyakarta ke Makassar. Penyebab kecelakaan masih diselidiki.
(Bisnis.Com) 19/01/26 10:34 106907
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menemukan satu jasad korban pesawat ATR 42-500 pada Minggu (18/1/2026), yang hilang kontak saat terbang dengan rute Yogyakarta menuju Makassar.
“13.43 WITA [18 Jan] terima laporan melalui radio, Tim Puncak mengevakuasi satu korban di sekitar serpihan pesawat,” tulisnya dalam unggahan Instagram @sar_nasional, dikutip pada Senin (19/1/2026).
Pencarian pun penuh tantangan karena lokasi puncak Bulusaraung dalam kondisi berkabut dan jarak pandang hanya lima meter.
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan mengalami hilang kontak (lost contact) saat melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa menyampaikan, laporan temuan korban pertama kali diterima pada pukul 11.59 WITA.
“Pos Komando Crisis Center Basarnas menerima informasi telah ditemukan 1 jasad berkelamin laki-laki dan langsung dievakuasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (19/1/2026).
Meski demikian, belum disampaikan hasil identifikasi korban tersebut. Mengingat total terdapat 10 orang yang berada dalam pesawat, terdiri dari tujuh orang awak pesawat dan tiga penumpang.
Proses evakuasi masih terus dilaksanakan oleh Basarnas bersama unsur gabungan TNI/Polri serta dukungan masyarakat setempat. Basarnas telah mendirikan Posko Topo Bulu yang berjarak sekitar 4,6 kilometer dari lokasi kecelakaan.
Berdasarkan informasi awal, kondisi cuaca pada saat kejadian menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi sedikit berawan. Informasi cuaca secara lebih rinci dan terkini terus dikoordinasikan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Pada tahap ini, belum dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor penyebab kejadian dan kondisi cuaca merupakan salah satu aspek yang akan dianalisis lebih lanjut dalam proses investigasi oleh KNKT,” tutur Lukman.
Adapun, kronologi kecelakaan pesawat bermula pada pukul 04.23 UTC, pesawat diarahkan oleh Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.
Dalam proses itu, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya sehingga ATC memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi.
ATC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan guna membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur. Namun, setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, komunikasi dengan pesawat dinyatakan terputus.
Tim SAR Gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung yang berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Lokasi tersebut berjarak sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan berdekatan dengan posko Basarnas terdekat.
Penemuan serpihan pesawat dilakukan pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, melalui operasi pencarian terpadu yang mengombinasikan pencarian darat dan udara. TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat tanpa awak (drone) sejak pukul 06.15 WITA yang kemudian dilanjutkan dengan penyisiran menggunakan helikopter TNI AU.
Pada pukul 07.46 WITA, tim berhasil mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela yang menjadi penanda awal lokasi kecelakaan. Selang tiga menit kemudian, tepatnya pada pukul 07.49 WITA, ditemukan serpihan berukuran besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya.
#atr #kecelakaan-atr #kecelakaan-pesawat-atr #korban-kecelakaan-atr #atr-42-500 #basarnas #pesawat-hilang-kontak #evakuasi-korban #kecelakaan-pesawat #pencarian-pesawat #lokasi-kecelakaan #indonesia-ai