Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengungkapkan dari total 3,1 juta hektare (ha) kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia, terdapat ... [360] url asal
Sawit itu menjadi komoditas utama untuk kontributor devisa non-migas terbesar di Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengungkapkan dari total 3,1 juta hektare (ha) kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia, terdapat sekitar 600.000 ha yang telah produktif ditanami sawit dan menjadi kontributor signifikan bagi devisa non-migas negara.
Oleh karena itu menurut Wamentrans di sela peringatan HUT Ke-45 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) komoditas sawit harus terus dikembangkan karena peran strategisnya yang mencakup berbagai lapisan pemangku kepentingan, mulai dari BUMN hingga petani swadaya.
"Sawit itu menjadi komoditas utama untuk kontributor devisa non-migas terbesar di Indonesia. Jadi memang harus dikembangkan karena sawit ini kan bukan hanya untuk pengusaha, tapi juga menjadi milik negara (BUMN) dan petani sawit juga banyak," ujarnya.
Selain sebagai pendatang devisa, industri ini diakui menjadi solusi efektif dalam menciptakan lapangan kerja masif di wilayah-wilayah pelosok, yang sekaligus membantu menekan angka pengangguran nasional.
Viva Yoga menyebutkan keberhasilan Program Inti Rakyat Trans (PIR-Trans) sebagai bukti nyata transformasi kesejahteraan, seperti di Kabupaten Bungo, Jambi, warga transmigran kini telah menjadi pemilik penuh atas lahan mereka sendiri setelah melalui periode kemitraan yang produktif dengan sektor swasta.
"Sawit bagi warga trans itu adalah seperti rejeki dari Tuhan. Mereka melakukan kerja sama dengan pihak swasta, bagi hasil dan untung, setelah sekian tahun tanah itu menjadi milik mereka sendiri," ujar dia dalam keterangannya.
Pada kesempatan itu, Wamen menyebut pemerintah menyadari tantangan tumpang tindih lahan masih menjadi hambatan bagi kepastian investasi dan kesejahteraan wargaleh karena itu Kementerian Transmigrasi akan terus mengawal penyelesaian masalah lahan ini secara intensif.
Terkait target sertifikasi, dia mengatakan pada 2025 yang ditetapkan pemerintah 13.751 bidang, sedangkan realisasi telah mencapai lebih dari 14.000 bidang dan akan diselesaikan secara bertahap pada 2026.
Selain jalur yuridis, tambahnya penyelesaian masalah lahan juga diupayakan melalui pendekatan adat agar berlangsung cepat dan harmonis.
Ke depan, lanjut Wamen, fokus Kementerian Transmigrasi tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, melainkan meningkatkan kualitas hidup di satuan pemukiman.
Dengan komoditas unggulan seperti sawit di Sumatera dan Kalimantan, padi di Papua, serta hortikultura di Sulawesi, lanjutnya, kawasan transmigrasi diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri.
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menegaskan program transmigrasi diarahkan membangun kawasan ekonomi terintegrasi melalui penguatan ... [447] url asal
Pekanbaru (ANTARA) - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menegaskan program transmigrasi diarahkan membangun kawasan ekonomi terintegrasi melalui penguatan komoditas unggulan, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Viva Yoga mengatakan transformasi transmigrasi kini tidak lagi semata berorientasi pada perpindahan penduduk, melainkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi, baik warga transmigran maupun masyarakat lokal.
“Program transmigrasi bukan semata berorientasi kepada perpindahan jumlah penduduk saja, tapi kita fokuskan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi,” kata Viva Yoga dalam Festival Nanas 2026 di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Riau, Sabtu.
Ia menyebut demplot atau lahan percontohan yang ditinjau di BPPMT Pekanbaru menjadi bagian dari persiapan penerapan program di kawasan transmigrasi sesuai kondisi iklim dan kebutuhan calon transmigran, antara lain budidaya nanas moris, bioflok ikan nila, ternak ayam kampung unggul balitbangtan (KUB), dan tanaman hidroponik.
“Akan kita terapkan di kawasan transmigrasi, salah satunya demplot penanaman nanas moris, kemudian demplot budidaya nila, ayam KUB, dan tanaman hidroponik,” ujarnya.
Menurut Viva Yoga, salah satu kawasan transmigrasi baru yang disiapkan antara lain Barelang (Batam, Rempang, Galang) yang akan didorong mengembangkan bioflok ikan nila dan hidroponik sebagai bagian dari model pemberdayaan ekonomi dan kemandirian pangan rumah tangga.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi (kedua kanan) memantau budidaya bioflok ikan nila bersama istri, Nita Viva Yoga Mauladi di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu (17/1/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Ia menambahkan program transmigrasi juga diarahkan berkontribusi pada ketahanan pangan, terutama penguatan sumber karbohidrat dan pengembangan protein hewani melalui budidaya ikan di kawasan transmigrasi.
“Untuk tahun 2026, kita akan lebih fokus kepada pengembangan pemenuhan kebutuhan protein, terutama protein hewani, dan di kawasan transmigrasi kita ingin mengembangkan bioflok nila,” ungkapnya.
Ia mengatakan strategi tersebut didukung dengan peningkatan sarana dan prasarana dasar di kawasan transmigrasi, mulai dari jalan, jembatan, fasilitas umum, hingga pendidikan, agar kawasan menjadi lebih menarik bagi aktivitas ekonomi dan investasi.
“Kita menginginkan kawasan transmigrasi menjadi kawasan strategis untuk investasi dan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat di kawasan transmigrasi,” tuturnya.
Dalam rangkaian kegiatan Festival Nanas di BPPMT Pekanbaru, Viva Yoga juga meninjau demplot, melakukan penanaman nanas moris, memberi pakan ikan nila, menebar benih ikan, serta berdialog dengan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Ia berharap model pengembangan berbasis komoditas dan demplot yang disiapkan melalui balai pelatihan dapat direplikasi di kawasan transmigrasi lain, sehingga kawasan transmigrasi tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi baru yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi (kedua kanan) menebar benih ikan di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu (17/1/2026). (ANTARA/Aria Ananda)