Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump meminta penundaan pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping sekitar satu bulan karena ingin tetap berada di Washington untuk mengawasi perang melawan Iran.
Trump mengatakan permintaan penundaan tersebut tengah dibicarakan dengan pemerintah China. Pertemuan antara pemimpin dua ekonomi terbesar dunia itu sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan ini.
“Kami sedang mengerjakannya sekarang. Kami berbicara dengan China. Saya sebenarnya ingin melakukannya, tetapi karena perang saya ingin berada di sini,” ujar Trump dikutip dari Bloomberg pada Selasa (17/3/2026) saat menghadiri acara di Gedung Putih.
Trump menilai kehadirannya di Washington penting untuk memantau perkembangan konflik. Karena itu, pemerintah AS meminta agar jadwal pertemuan dengan Xi ditunda sekitar satu bulan.
“Saya merasa harus berada di sini. Jadi kami meminta agar ditunda sekitar satu bulan. Saya menantikan pertemuan itu karena hubungan kami sangat baik. Namun karena perang—tidak ada maksud lain. Kami memang sedang menghadapi perang dan saya pikir penting bagi saya untuk berada di sini. Jadi kemungkinan hanya ditunda sedikit," katanya.
Sebelumnya, Trump sempat menyoroti rencana pertemuan dengan Xi yang dijadwalkan pada 31 Maret hingga 2 April sebagai tonggak penting dalam hubungan kedua negara. Dalam beberapa hari terakhir, tim dari AS dan China juga telah bertemu di Paris untuk membahas sejumlah potensi kesepakatan, termasuk terkait investasi China di AS dan ekspor semikonduktor canggih.
Namun, konflik dengan Iran kini membayangi agenda kebijakan luar negeri Trump lainnya. Situasi memanas setelah Iran memblokir jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak dunia melampaui US$100 per barel.
Trump juga berupaya meningkatkan tekanan kepada negara-negara lain agar turut menyediakan sumber daya guna mengamankan jalur tersebut serta memastikan kelancaran pelayaran kapal tanker dan kapal lainnya di tengah gangguan rantai pasok energi global.
Dalam wawancara dengan Financial Times yang diterbitkan pada Minggu, Trump menyatakan negara-negara yang mendapat manfaat dari lalu lintas di Selat Hormuz seharusnya ikut membantu melindungi jalur tersebut. Dia juga membuka kemungkinan menunda kunjungan ke China apabila Beijing tidak membantu menjaga keamanan selat tersebut.
Media pemerintah China, Global Times, menilai pernyataan Trump sebagai upaya Washington untuk membagi risiko dari “perang yang dimulai oleh AS tetapi tidak mampu diselesaikan.”
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menepis spekulasi bahwa penundaan pertemuan dimaksudkan untuk menekan China agar membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Menurutnya, apabila pertemuan tersebut dijadwal ulang, hal itu semata-mata disebabkan faktor logistik dan karena fokus Trump saat ini tertuju pada upaya perang.
“Jika pertemuan itu dijadwalkan ulang, maka alasannya adalah logistik,” ujar Bessent.
Di sisi lain, keputusan menunda pertemuan kemungkinan tidak terlalu mengecewakan Beijing. China sebelumnya bahkan mengusulkan agar Trump berkunjung pada akhir April untuk memberi lebih banyak waktu persiapan, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.
Penundaan itu juga berpotensi memberi ruang tambahan bagi kedua negara untuk membahas isu keamanan dan diplomasi, termasuk mengenai Taiwan.