Bisnis.com, JAKARTA — Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang menguat sejak awal 2026 dinilai telah didorong oleh sejumlah faktor yang menjadi katalis.
Saham BBTN ditutup di level 1.220 pada perdagangan Kamis (15/1/2026), melonjak 5,17% dalam sepekan. Adapun, sepanjang tahun berjalan saham BBTN mampu menguat 5,17% (year-to-date) ke level 1.220 mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, Senin (19/1/2026) pukul 15.30 WIB.
Dalam sepekan, saham BBTN bergerak dalam rentang antara 1.150 hingga 1.245. Di sisi lain, investor asing mencatat Net Buy Rp27,8 miliar sepanjang pekan lalu.
Aliran modal asing paling deras berlangsung di sesi Selasa (13/1/2026) sebesar Rp10 miliar dan sesi Rabu (14/1/2026) sebanyak Rp14,7 miliar. Net buy pekan lalu melanjutkan tren positif sejak awal tahun, secara kumulatif total aliran modal investor asing atas saham BBTN mencapai Rp51,26 miliar.
Kinerja saham BBTN pekan ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 1,55% dan indeks LQ45 yang menguat 2,47%. Begitu juga dengan indeks sektor keuangan (IDX Finance) yang menguat 1,02%.
Manajemen BTN menyebut pergerakan saham BBTN pekan ini bersamaan dengan sejumlah momentum, antara lain Rebranding e’Batarapos menjadi BTN Pos, kepastian subsidi uang muka skema KPR Sejahtera FLPP dan rekomendasi buy dari sejumlah sekuritas.
BTN mengganti e’Batarapos menjadi Tabungan BTN Pos untuk memperluas basis dana murah, dengan target CASA Rp5 triliun dalam setahun. Strateginya bertumpu pada distribusi lewat hampir 3.000 kantor pos dan transaksi digital berbasis aplikasi Bale by BTN, terutama di segmen Gen Z dan wilayah 3T.
Dari sisi program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Pemerintah tetap mempertahankan skema KPR Sejahtera pada 2026 dengan subsidi uang muka Rp4 juta untuk MBR guna menurunkan beban awal pembelian rumah.
Harga rumah subsidi juga tidak naik dan masih mengikuti batas maksimal 2024 sesuai zonasi, sehingga menjaga keterjangkauan dan berpotensi menopang permintaan KPR di tengah pemulihan sektor properti.
Katalis positif lainnya bersumber dari penyerapan belanja BTN. Bank spesialis properti ini menghimpun dana Rp2,3 triliun melalui penerbitan dua obligasi pada Desember 2025.
Dana bersih sebesar Rp2,28 triliun telah terserap sepenuhnya per 31 Desember 2025. Sebanyak Rp294,80 miliar dialokasikan untuk proyek sosial dan perumahan terjangkau, sementara Rp1,99 triliun digunakan untuk memperkuat permodalan serta mendukung ekspansi kredit perusahaan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.