Bisnis.com, SURABAYA – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus mengaku dirinya prihatin dengan masih tingginya jumlah perokok di Indonesia. Bahkan, adiksi terhadap nikotin dirisaukannya dapat mengancam kualitas generasi muda dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Ia mengungkapkan saat ini tengah terjadi fenomena lonjakan perokok pemula pada anak remaja yang masih tergolong usia siswa SMP hingga SMA. Bahkan, Benjamin menyebut pengguna rokok elektrik pada anak usia remaja meningkat hingga dua kali lipat banyaknya.
"Jadi, orang merokok itu paling banyak itu, ada yang di bawah 14 tahun, tapi paling banyak itu mulai dari SMP ke SMA. Nah, itulah awal mereka mulai merokok," ungkap Benjamin dalam Indonesia Conference on Tobacco Control 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Atas kondisi yang mengkhawatirkan itu, Benjamin menyatakan bahwa edukasi dan mitigasi mengenai dampak negatif dari rokok sudah sepatutnya diberikan sejak dini kepada siswa-siswi di bangku sekolah dasar. Menurutnya, dampak kesehatan dari aktivitas merokok baru muncul sekitar 10 tahun kemudian.
"Jadi, kita harus melakukan edukasi bahaya merokok, pengetahuan tentang kesehatan, [mulai] di usia SD, di usia-usia kelas 5, kelas 6 itu mulai banyak [perokok pemula], di SMP juga karena kompilasi bahaya merokok itu 'kan baru terjadi sekitar 10 tahun kemudian," ungkapnya.
Selain itu, Benjamin juga menekankan bahaya dari paparan asap rokok. Ia memaparkan data bahwa tujuh dari 10 anak remaja berusia 15-19 tahun terpapar asap rokok di ruangan tertutup setiap harinya.
Oleh sebab itu, dirinya menegaskan bahwa kemandirian ekonomi Indonesia di masa depan sangat bergantung pada kemampuan negara dalam melepaskan rakyat dari jeratan adiksi nikotin yang kian mengkhawatirkan.
Benjamin melihat adanya kontradiksi nyata ketika negara menggelontorkan anggaran jumbo untuk perbaikan gizi masyarakat, tetapi pengeluaran rumah tangga justru didominasi oleh belanja produk olahan tembakau.
Belanja rokok oleh masyarakat Indonesia tercatat mencapai 11-12% dari jumlah belanja rumah tangga secara keseluruhan. Presentase tersebut bahkan hampir setara dengan pembelian beras oleh rata-rata keluarga, yang tercatat sebesar sekitar 9-11%.
“Mencetak manusia unggul itu jauh lebih mahal daripada membangun jalan tol Jakarta-Surabaya. Kita harus sadar, tugas negara adalah memastikan anggaran ini tepat sasaran untuk kecerdasan bangsa, bukan habis menjadi asap,” tegasnya.
Sebagai usaha untuk mengendalikan angka perokok serta paparan asap rokok, Benjamin mengusulkan agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat mengeluarkan regulasi tegas yang berfokus untuk mempersempit ruang bagi segenap perokok.
"Kalau kalian tanya sama saya (cara mengendalikan rokok), nomor satu adalah komitmen politik daripada kita. Maka, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berani membuat tempat-tempat merokok itu makin dipersempit," ucapnya.
Ia menyebut memang sangat sulit untuk melarang masyarakat sepenuhnya untuk tidak merokok secara total. Namun, pembatasan ruang merokok yang dibarengi dengan edukasi bahaya rokok dinilainya dapat secara efektif menekan angka konsumsi rokok di tanah air.
"Kalau melarang orang merokok sulit, tapi kita persempit lalu menjelaskan kepada orang Indonesia, bahayanya merokok apa, dampaknya merokok apa," pungkasnya.