Gapoktan Karya Abadi di Nganjuk, Jawa Timur, memproduksi bawang merah varietas Tajuk hingga 12.000 ton per tahun, mendominasi pasar nasional dan ekspor. [989] url asal
Bisnis.com, SURABAYA — Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Abadi yang berada di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, memperkuat posisi Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional melalui produksi bawang merah yang berpotensi mencapai 12.000 ton per tahun.
Produk unggulan varietas Tajuk yang dikembangkan para petani di wilayah setempat kini telah mendominasi pasar benih dan konsumsi di seluruh Indonesia, dengan menyumbang 40% produksi bawang merah di Provinsi Jawa Timur dan 30% kebutuhan bibit nasional.
Pembina Gapoktan Karya Abadi Nganjuk Bambang Suparno menjelaskan bahwa varietas Tajuk atau Tanaman Asli Nganjuk menjadi primadona oleh para petani dan masyarakat karena daya tahannya yang luar biasa terhadap berbagai serangan hama serta adaptasi cuaca dan lingkungan yang stabil di seluruh wilayah Tanah Air.
"Ini varietas unggulan kita. Yang penting ini kita memenuhi kebutuhan bawang merah, bibit bawang merah di seluruh provinsi di Indonesia ya. Hampir kita terdepan terbanyak memenuhi kebutuhan benih di seluruh wilayah Indonesia," ujar Bambang.
Ia menjelaskan luas areal tanam di bawah naungan Gapoktan Karya Abadi tercatat mencapai 284 hektar dengan melibatkan lebih dari 400 mitra petani. Dalam setahun saja, Kabupaten Nganjuk secara keseluruhan mampu memproduksi sekitar 300.000 ton bawang merah, di mana Gapoktan Karya Abadi menjadi salah satu pemasok utama.
Bambang menyebut varietas bawang merah Tajuk memiliki produktivitas tinggi di berbagai kondisi iklim, yakni mencapai 20 ton per hektar pada musim kemarau dan 12-17 ton per hektare pada musim hujan. Keunggulan lainnya terletak pada masa dormansi yang panjang, berkisar antara 90 hari hingga 7 bulan.
"Varietas ini digunakan mulai dari Provinsi Papua sampai Aceh, sudah pernah ditanam seluruh Indonesia, terutama yang banyak menggunakan di luar, yakni Kabupaten Enrekang di Makassar, Sulawesi Selatan, ya, di Yogyakarta, ada di Banyuwangi, Situbondo, juga larinya ke Medan dan juga Aceh," paparnya.
Selain itu, komoditas bawang merah asal Nganjuk juga tak hanya diminati oleh pasar domestik. Bambang menjelaskan hasil produksi para petani juga sudah menembus pasar ekspor hingga ke negara-negara di kawasan Asia Tenggara, walaupun jumlahnya masih jauh dibandingkan dengan stok yang beredar di pasar dalam negeri.
Selama ini, untuk bawang merah masih mengandalkan wilayah pasar ekspor di Asias] tetap itu Filipina, Thailand, dan Vietnam, masih di Asia. Karena ukurannya untuk internasional itu onion.
"Nah, ini kan shallots. Kalau onion itu, dia jenis bawang bombay. Kalau ini shallots ini banyak yang digunakan di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Tidak ada satu pun masakan tradisional kita, yang tidak pakai bawang merah. Ini yang mendorong petani kita untuk semangat untuk menanam bawang merah," ungkapnya.
Keberhasilan Gapoktan Karya Abadi tidak lepas dari peran Bank Indonesia (BI) yang mulai melakukan pendampingan sejak tahun 2014. Bambang menyebut BI memberikan berbagai dukungan, mulai dari sisi hulu hingga usaha hilirisasi produk.
Pembina Gapoktan Karya Abadi Nganjuk Bambang Suparno
Bambang mengungkapkan bahwa BI memfasilitasi pembangunan gudang penyimpanan benih yang sangat krusial bagi petani. Melalui gudang ini, petani dapat menyimpan benih dengan biaya sewa hanya Rp250 per kg, jauh di bawah harga pasar sebesar Rp500 per kg.
"Alhamdulillah, kita jadi klasternya BI itu tahun 2014 awal sekali. Banyak peran yang diinikan terutama dulu terhadap budidaya. Budidaya itu kami dibantu mulai dari menciptakan bagaimana mendapatkan benih yang bagus," kata Bambang.
Selain infrastruktur fisik, BI juga memberikan bantuan sumur bor (submersible) untuk menjaga pasokan air dan irigasi terhadap ladang petani di tengah ancaman kemarau panjang ataupun fenomena El Nino. Bambang menjelaskan pihaknya juga telah membangun 12 sumur bor di 12 titik menggunakan anggaran desa.
"Di Kementerian PU kan juga ada sumur yang untuk pertanian. Kebetulan arahnya untuk ketahanan pangan, dan itu padi bukan bawang merah. Kami nggak dapat bantuan, sehingga dibutuhkan bantuan-bantuan yang lain di luar. Karena fokusnya pemerintah untuk ketahanan pangan, padi terutama. Kalau untuk hortikultura, kami berupaya dari berbagai rekanan, dan APBDesa kita masih ada untuk itu," paparnya.
Bambang memprediksi bahwa sektor pengairan terhadap ratusan hektar lahan dari petani bawang merah di desanya dalam kondisi optimal meski musim kemarau akan mengintai. Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, puncak fenomena El Nino disebutnya akan jatuh pada akhir tahun.
Jadi, katanya, kebutuhan air diupayakan mencukupi untuk menghadapi kemarau panjang, meskipun dampak El Nino yang terkuat bakal terasa saat memasuki bulan September hingga Oktober.
"Kalau sekarang karena cadangannya kemarin masih ada hujan, belum sampai juga sebulan ini masih ada hujan sini. Dua minggu yang lalu masih hujan. Artinya, ketersediaan air dengan diambil baik itu submersible maupun pompa dari diesel juga masih kuat," tuturnya.
Namun begitu, Bambang juga mengungkapkan kekhawatiran pihaknya mengenai kinerja pompa irigasi saat puncak musim kemarau jatuh nanti. Pasalnya, terdapat pompa-pompa pengairan yang masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, di mana kuantitasnya terganggu akibat konflik geopolitik global.
Oleh sebab itu, selaku kepala desa dan pembina Gapoktan Karya Abadi, Bambang pun telah bergerak aktif untuk mengajukan berbagai bantuan pembiayaan untuk membangun sumur bor di lahan-lahan milik warga. Ia pun mengaku telah mengajukan proposal kepada BI untuk dapat menambah kuantitas submersible di wilayah setempat.
Masalahnya, lanjut Bambang, diesel saat ini menghadapi masalah harga BBM dan sulit didapatkan. Untuk itu, dilakukan edukasi di pemerintah desa bersama Bank Indonesia, supaya masyarakat beralih ke submersible.
"Kami juga kerja sama dengan PLN untuk listrik masuk sawah, kita tarik untuk apa pemasangan instalasi baru, dan alhamdulillah jalan semua. Meskipun pembiayaannya juga masih pure dari petani yang banyak. Nah, ini yang nanti kita coba proposal, kita godok, kita ajukan ke BI lagi untuk menambah submersible di Karya Abadi," ucapnya.
Di sektor hilir, pendampingan BI mendorong munculnya produk UMKM berbasis bawang merah seperti bawang goreng krispi, pasta bawang, hingga sambal. Hal ini menjadi solusi saat harga bawang merah di tingkat petani mengalami fluktuasi tajam.
Saat ini, harga benih di tingkat petani terpantau mengalami tren kenaikan di kisaran Rp56.000 hingga Rp57.000 per kilogram. Bambang memprediksi komoditas bawang merah Nganjuk akan mendominasi pasokan nasional selama 45 hari ke depan, terhitung sejak awal Agustus hingga akhir September.
"Artinya tanggal 5 Agustus sampai nanti akhir September, seluruh kebutuhan konsumsi di Indonesia pasarnya [bawang merah] banyak dipenuhi dari Nganjuk. Biasanya hampir 45 hari pasar di seluruh Indonesia dipenuhi barang (bawang merah) dari Nganjuk," ujarnya.
Nasib orang tak ada yang tahu, keputusan meninggalkan zona nyaman sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) justru menjadi titik balik kehidupan Tono Suwarna. Pria asal... | Halaman Lengkap [833] url asal
CIMAHI - Nasib orang tak ada yang tahu, keputusan meninggalkan zona nyaman sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) justru menjadi titik balik kehidupan Tono Suwarna. Pria asal Cimaung, Jawa Barat ini kini dikenal sebagai petani bawang merah sukses.
Kunci keberhasilannya bukan semata kerja keras, tetapi keberanian mengadopsi inovasi budidaya bawang merah dari biji atau True Shallot Seed (TSS). Di tengah fluktuasi harga dan tantangan produksi bawang merah konvensional, Tono memilih jalan berbeda.
Tono meninggalkan metode menanam dari umbi yang selama ini umum digunakan petani dan memilih teknologi TSS. Keputusan tersebut terbukti menjadi pilihan yang tepat. “Awalnya banyak yang bilang saya nekat. Tapi saya percaya kalau mau maju, harus berani mencoba hal baru,” ujar Tono, Sabtu (18/4/2026).
Kepercayaan itu kini terbayar lunas. Dengan teknologi TSS, Tono mampu menghasilkan hingga belasan ton per hektare dengan kualitas umbi yang lebih seragam. Tidak hanya itu, efisiensi biaya juga menjadi keuntungan besar. Cara budidaya TSS mampu menekan biaya produksi, terutama untuk kebutuhan bibit yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam budidaya bawang merah.
“Inovasi ini benar-benar mengubah hidup saya. Biaya lebih hemat, hasil lebih banyak. Dari sini saya bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi,” katanya.
Seperti diketahui komoditas bawang merah di Indonesia sangat strategis. Bawang merah merupakan kebutuhan pokok rumah tangga dan bahan utama dalam berbagai masakan Nusantara. Rata-rata konsumsi bawang merah masyarakat Indonesia mencapai sekitar 2,8 hingga 3 kilogram per kapita per tahun.
Namun, tingginya kebutuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan produktivitas di tingkat petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata produktivitas bawang merah nasional masih berada di kisaran 9–10 ton per hektare. Angka ini tergolong relatif rendah jika dibandingkan dengan potensi hasil yang bisa dicapai melalui penerapan teknologi dan benih unggul.
Kesenjangan antara kebutuhan dan produktivitas inilah yang membuka ruang bagi inovasi seperti TSS untuk berperan lebih besar dalam meningkatkan hasil panen sekaligus kesejahteraan petani. Teknologi TSS, khususnya benih bawang merah MERDEKA F1, terbukti mampu memberikan potensi hasil panen mencapai 14–18 ton per hektare. Angka ini meningkat sekitar 40 hingga 80% dibandingkan metode konvensional.
Selain itu, penggunaan TSS juga mampu menekan biaya bibit hingga 30–50 persen. Efisiensi ini memberikan ruang keuntungan yang lebih besar bagi petani, sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat tingginya biaya awal produksi.
Managing Director perusahaan benih unggul sayuran PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Glenn Pardede, menjelaskan inovasi merupakan kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa tantangan pertanian ke depan tidak bisa dihadapi dengan cara-cara lama.
“Inovasi adalah hal yang sangat penting bagi petani. Tanpa inovasi, produktivitas akan stagnan, sementara tantangan terus meningkat. Karena itu, kami berkomitmen menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak langsung bagi petani,” ujar Glenn.
Sebagai perusahaan benih sayuran unggul yang telah berdiri lebih dari 35 tahun di Indonesia, Ewindo terus mendorong pengembangan teknologi pertanian, termasuk melalui TSS. Glenn menambahkan, kehadiran benih unggul seperti MERDEKA F1 bukan hanya soal meningkatkan hasil, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha tani. “Kami ingin petani tidak hanya panen lebih banyak, tetapi juga lebih efisien dan berdaya saing. TSS adalah salah satu inovasi yang kami dorong untuk mencapai tujuan tersebut,” katanya.
Di lapangan, dampak inovasi ini mulai terasa. Semakin banyak petani yang tertarik mengikuti jejak Tono termasuk perubahan model bisnis petani dimana awalnya tidak ada penyemai bawang merah kini mulai bermunculan. Para petani juga melihat langsung perubahan yang terjadi, dari peningkatan hasil hingga stabilitas pendapatan.
Bagi Tono yang juga merupakan perintis penyemai bawang merah, keberhasilan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar. Ia kini aktif berbagi pengalaman kepada petani lain di “Rumah Bawang” – tempat dimana dia pertama kali berkenalan dengan inovasi TSS - sebagai sentra belajar budidaya bawang merah yang diinisasi Ewindo. Selain di Cimaung, Jawa barat, Rumah Bawang juga dibangun di Wonosobo, Jawa Tengah dan Solok, Sumatera Barat.
Dengan adanya Rumah Bawang, petani dan penyemai bawang merah dapat mempelajari secara detail semua proses budidaya bawang merah TSS. Mulai dari proses pengolahan, persiapan lahan, persemaian, transplanting, perawatan, panen hingga pasca panen dapat dipelajari oleh petani secara detail. Tujuannya adalah agar keberhasilan petani bisa meningkat dan manfaat penanaman bawang merah TSS bisa dirasakan oleh petani. Selain itu, penyemai bawang merah TSS yang menyediakan semaian bawang merah TSS ke petani juga dapat belajar dan mengadopsi sebagai ekosistem baru.
Pelatihan di rumah bawang dilakukan dengan diskusi dan praktek di kelompok-kelompok kecil sehingga lebih efektif serta lebih dapat diserap oleh petani. Setelah belajar dan cultivation level petani dan penyemai sudah meningkat, maka dilanjutkan dengan experience petani yang perlu ditingkatkan dengan cara penanaman langsung oleh petani yang sudah teredukasi. Kemudian petani ahli dapat menyebarkan ilmunya ke petani yang lain sehingga petani yang ahli dalam menanam TSS meningkat dan semakin banyak sehingga ekosistem TSS semakin cepat akan terbentuk.
Di tengah tingginya kebutuhan bawang merah nasional, langkah-langkah inovatif seperti Tono Suwarna dan Rumah Bawang menjadi semakin relevan. Jika semakin banyak petani memanfaatkan inovasi dan beralih ke teknologi yang lebih efisien dan produktif, sistem pangan Indonesia akan semakin kuat termasuk memberikan dampak kepada meningkatnya kesejahteraan petani.
Kasus impor ilegal bawang bombai asal Belanda berhasil terungkap di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman tegaskan... | Halaman Lengkap [366] url asal
JAKARTA - Kasus impor ilegalbawang bombai asal Belanda berhasil terungkap di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Menteri Pertanian ( Mentan ), Andi Amran Sulaiman pun meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas dan menindak tanpa kompromi temuan tersebut.
Mentan Amran menyebut bahwa selain masuk tanpa izin resmi, komoditas bawang bombai itu juga terbukti mengandung Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), yakni Aphelenchoides fragariae, Rhabditis sp., Alternaria alternata, dan Drechslera tertramera yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar pada sektor pertanian nasional.
Ia mengatakan total bawang bombai ilegal yang teridentifikasi mencapai 18 kontainer, terdiri atas 14 kontainer yang telah terdeteksi sebelumnya dan tambahan 4 kontainer atau setara dengan kurang lebih 72 ton dalam pengungkapan terbaru.
“Bayangkan jika penyakit ini menyebar ke tanaman lain. Dampaknya sangat besar dan sulit dikendalikan. Karena itu, langkah cepat dan tegas harus dilakukan untuk melindungi pertanian Indonesia,” kata Mentan Amran dalam keterangan resminya, Rabu (24/12/2025).
Ia menyebut tindak tegas dan penegakan hukum perlu dilakukan secara menyeluruh dan tanpa kompromi guna memberikan efek jera, sekaligus memastikan perlindungan maksimal terhadap sektor pertanian nasional dan ketahanan pangan Indonesia.
Menurutnya, sangat penting kasus ini ditelusuri hingga ke akar, termasuk jaringan importir, pelaku logistik, serta seluruh pihak yang terlibat dalam praktik penyelundupan tersebut.
“Ini tidak boleh diberi kompromi. Seluruh pihak yang terlibat harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku, karena ini membahayakan tanaman kita dan dapat berdampak luas terhadap ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Dirinya menambahkan, bawang bombai ilegal tersebut diketahui masuk ke Indonesia melalui Malaysia sebelum akhirnya diselundupkan ke dalam negeri. Berdasarkan laporan aparat penegak hukum, pengungkapan penyelundupan bawang bombai ilegal tersebut terjadi pada 2 Desember 2025 sekitar pukul 10.00 WIB.
Informasi awal mengindikasikan adanya rencana pengiriman bawang bombai dari Kalimantan menuju Jawa Timur melalui jalur laut. Komoditas tersebut dikirim dari Pelabuhan Kumai, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.
"Saat kami sedang gencar meningkatkan produksi pangan nasional, justru masih ada oknum yang mencoba menyeludupkan beras, bawang, dan komoditas pangan lainnya. Ini tidak bisa ditoleransi dan harus ditindak tegas. Saya percaya Bapak Kapolda Jawa Timur bersama jajaran Dirkrimsus akan menindaklanjuti kasus ini secara serius,” pungkas Mentan Amran.
Sejumlah petani bawang merah di wilayah Pantura mengeluhkan masuknya bawang bombai mini di pasaran. Sejumlah petani bawang merah di wilayah Pantura mengeluhkan... | Halaman Lengkap [531] url asal
JAKARTA - Sejumlah petani bawang merah di wilayah Pantura mengeluhkan masuknya bawang bombai mini di pasaran. Petani menyebut keberadaan bawang bombai mini merusak harga bawang lokal. Salah seorang petani sekaligus pedagang bawang, Muhamad Soleh (51), mengatakan belakangan ada serbuan bawang impor jenis bombai kecil yang beredar di pasaran.
Secara fisik, bentuknya sangat mirip bawang merah lokal dan dijual dengan harga sangat murah. Dikatakan bawang bombai mini merusak harga pasaran produk lokal. Dia mengungkapkan, sebelum masuk bawang impor tersebut harga bawang merah di tingkat petani Rp 32 ribu per kg. Harga produk lokal kemudian turun menjadi Rp 26 ribu per kg.
"Banyak beredar sampai ke Kendal, di sana banyak ditemukan bombai mini. Harganya murah. Dampaknya, harga bawang merah kemarin di petani di angka Rp 32 ribu langsung turun di Rp 26 ribu per kg," ungkap Soleh saat acara diskusi bersama Kementan di Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Brebes.
Sebagai petani, Soleh meminta agar ada tindakan tegas dalam masuknya bawang impor ilegal ini. Terutama pihak importir bawang bombai mini agar dikenai sanksi pidana.
"Kami minta negara membuat regulasi dan bersikap tegas. Kalau memang impor tidak sesuai aturan, tindak saja. Ini jelas pidana bukan delik aduan, ini pidana murni. Sebagai petani bawang merah, kami minta benar benar ada penegakan hukum atas beredarnya bawang ilegal," tuturnya.
Senada dengan petani, Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra menegaskan, peredaran bawang bombai mini sangat merugikan petani. Karena selisih harga yang sangat jauh, maka banyak konsumen yang melirik bawang bombai mini tersebut.
"Jelas sangat berdampak, karena bombai mini dijual terpaut sangat tinggi, bedanya bisa sampai Rp 10 ribu," ucapnya.
Ditambahkan lebih lanjut, harga bawang bombai mini di kisaran Rp18 ribu per kg, sedangkan bawang merah lokal kisarannya antara Rp26 ribu sampai Rp28 ribu per kg. Selisih harga inilah yang memaksa petani menyesuaikan harga jual dengan bombai mini.
"Jadi otomatis pada saat masyarakat dihadapkan pada pilihan harga sampai Rp 10 rb ya bawang kita kalah. Bawang kita harganya akan anjlok menyesuaikan harga bombai mini. Dulu harga Rp 32 ribu sampai Rp 35 ribu per kg, sekarang turun Rp 26-Rp 28 ribu," terangnya.
Alex meneruskan, impor bawang bombai dibolehkan dengan syarat diameter bawang lebih dari 5 cm. Jadi bila ada bombai kecil menyerupai bawang lokal itu jelas ilegal.
"Impor bombai itu syaratnya diameter bawang di atas 5 cm. Kalau yang mini mirip bawang merah jelas ilegal," tambah Alex.
Terpisah, Taufik Irawan, Ketua Tim Kerja Hukum Ditjen Holtikultura Kementerian Pertanian menerangkan, dalam keputusan Mentan 105 tahun 2017 disebutkan, bawang bombai bisa masuk ke Indonesia dengan syarat diameter di atas 5 cm sehingga tidak menyerupai bawang merah nasional. Ditambahkan, Kementan sejauh ini tidak mengatur soal impor bombai ukuran mini.
"Perlu digarisbawahi, dalam keputusan Mentan nomor 105 tahun 2017 itu jelas, bawang bombai yang bisa masuk Indonesia harus memiliki diameter di atas 5 cm, tidak menyerupai bawang nasional. Kementerian pertanian tidak ada ketentuan yang mengatur masuknya bawang bawang bombai mini. Aturan kami jelas melarang itu," tegas Taufik.
Soal masuknya bombai mini, Taufik mengaku, Kementan tidak pernah memberikan rekomendasi pada siapapun. Karena dalam Keputusan Mentan, sudah jelas ada pelarangan impor bawang merah konsumsi.