Pemerintah Indonesia beradaptasi dengan media baru untuk menjaga demokrasi, namun ada kekhawatiran kooptasi ruang publik digital. Pertemuan Bakom dan INMF memicu perdebatan tentang peran media baru da [1,103] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Perubahan lanskap media dalam satu dekade terakhir berlangsung jauh lebih cepat dibanding kemampuan banyak negara menyesuaikan regulasi, komunikasi publik, maupun strategi penyebaran informasi pemerintah.
Di Indonesia, transformasi tersebut memasuki fase baru ketika pemerintah mulai membuka komunikasi dengan kelompok yang dikenal sebagai new media, homeless media, kreator konten, hingga podcaster.
Pertemuan antara Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) dan Indonesia New Media Forum (INMF) pada Mei 2026 pun memicu perdebatan.
Sebagian pihak menilai langkah itu sebagai bentuk adaptasi pemerintah terhadap perubahan ekosistem komunikasi digital. Namun sebagian lainnya memandangnya sebagai sinyal yang perlu diawasi agar tidak berkembang menjadi upaya kooptasi terhadap ruang publik digital.
Perdebatan tersebut muncul seiring bergesernya pola konsumsi informasi masyarakat. Selain televisi, surat kabar, dan radio, publik kini semakin banyak mengakses informasi melalui podcast, kanal YouTube independen, media sosial, hingga kreator konten tanpa institusi pers formal.
Indonesia sendiri termasuk negara dengan tingkat penetrasi media sosial tinggi. Laporan We Are Social dan Meltwater 2025 mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia telah melampaui 220 juta orang dengan rata-rata penggunaan lebih dari tujuh jam per hari.
Dalam konteks tersebut, pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan informasi resmi tetap menjangkau publik tanpa melampaui batas independensi media.
Kronologi Pertemuan Bakom–INMF
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI Kurnia Ramadhana menjelaskan pertemuan dengan INMF bermula dari permohonan audiensi yang diajukan organisasi tersebut pada 5 Mei 2026.
Menurut Bakom, audiensi tersebut hanya dimaksudkan sebagai ruang komunikasi untuk memahami perkembangan media baru di Indonesia.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak saling memperkenalkan diri. INMF memaparkan perkembangan new media sekaligus tujuan organisasi mereka untuk memperkuat kualitas dan ruang berkembang bagi media baru.
INMF juga menyampaikan sejumlah standar yang menurut mereka perlu dimiliki media baru, mulai dari keberadaan badan usaha, alamat yang jelas, hingga penanggung jawab.
Selain itu, organisasi tersebut menyerahkan dokumen New Media Forum 2026 yang berisi daftar “new media players”.
Bakom kemudian menanyakan mekanisme kerja media baru, termasuk penerapan prinsip cover both sides yang selama ini menjadi standar media konvensional.
NMF menjelaskan bahwa mereka menggunakan pendekatan “verifikasi” dalam memproduksi konten.
Sehari setelah audiensi tersebut, Bakom menggelar konferensi pers mingguan Program Hasil Terbaik Cepat yang juga dihadiri sejumlah pelaku new media.
Kepala Bakom RI Muhammad Qodari./BPMI Setpres
Kepala Bakom RI Muhammad Qodari mengatakan masih ada sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan antara new media, Dewan Pers, dan media konvensional.
Namun pemerintah menilai media baru tetap perlu dijangkau agar kualitas produknya meningkat.
“Kehadiran teman-teman new media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya, tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realitas komunikasi kita,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI.
Negara dan Kreator Digital
Fenomena pemerintah berinteraksi dengan kreator digital sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemerintah di dunia mulai menjadikan podcaster, kreator digital, dan media independen sebagai bagian dari strategi komunikasi publik.
Di Amerika Serikat, misalnya, tim kampanye presiden aktif mendekati podcaster populer untuk menjangkau pemilih muda. Podcast seperti The Joe Rogan Experience bahkan dinilai memiliki pengaruh besar terhadap opini publik generasi muda.
Data Edison Research 2025 menunjukkan lebih dari 55% warga Amerika Serikat berusia 18–34 tahun mendengarkan podcast setiap bulan.
Pemerintah Inggris juga pernah menggandeng kreator TikTok dan podcaster independen untuk menyampaikan pesan vaksinasi selama pandemi Covid-19 kepada kelompok muda yang sulit dijangkau media konvensional.
Di India, Perdana Menteri Narendra Modi memanfaatkan program radio Mann Ki Baat yang kemudian berkembang menjadi konten digital lintas platform.
Sementara di Filipina, influencer digital juga memainkan peran penting dalam komunikasi politik pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Namun keterlibatan pemerintah dengan kreator digital juga menimbulkan kekhawatiran. Uni Eropa misalnya mulai memperketat aturan transparansi kerja sama antara pemerintah, influencer, dan media digital untuk mencegah propaganda terselubung maupun disinformasi.
Homeless Media dan Pergeseran Definisi Pers
Di Indonesia, perdebatan semakin kompleks karena munculnya istilah homeless media.
Istilah ini merujuk pada media atau kreator yang memproduksi konten jurnalistik tanpa berada di bawah struktur perusahaan pers konvensional. Mereka dapat berbentuk kanal YouTube independen, podcast personal, akun media sosial berbasis berita, hingga newsletter digital.
Sebagian menjalankan praktik jurnalistik serius, tetapi sebagian lain berada di area abu-abu antara opini, hiburan, propaganda, dan informasi.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Nani Afrida menilai ukuran utama tetap terletak pada kualitas karya jurnalistiknya.
“AJI menilai lebih pada karyanya. Jika sebuah karya itu melakukan atau memenuhi syarat jurnalistik, patuh pada kode etik jurnalistik, maka itu karya jurnalistik. Terlepas karya itu diunggah di media sosial atau website,” ujar Nani kepada Bisnis.
Menurut dia, media baru atau homelessmedia yang tidak memperhatikan kode etik jurnalistik tidak dapat dikategorikan sebagai karya jurnalistik.
“Homeless media atau kadang mereka lebih suka disebut new media, jika membuat karya tidak memperhatikan kode etik, berarti bukan karya jurnalistik. Meski ada juga homeless media yang menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perdebatan utama bukan terletak pada platform distribusi, melainkan pada kepatuhan terhadap prinsip jurnalistik.
Perubahan definisi media memang menjadi tantangan besar di era digital.
Jika sebelumnya media identik dengan institusi berbadan hukum dan ruang redaksi yang jelas, kini satu individu dengan jutaan pengikut di media sosial dapat memiliki pengaruh lebih besar dibanding media arus utama.
Fenomena ini menciptakan demokratisasi informasi sekaligus risiko penyebaran hoaks dan manipulasi informasi.
Laporan UNESCO 2024 menyebut era creator economy telah mengubah struktur komunikasi global, dengan banyak kreator independen menjadi “penjaga gerbang” informasi baru.
Di sisi lain, perubahan perilaku konsumsi informasi generasi muda juga mendorong pemerintah menyesuaikan strategi komunikasi.
Data Morning Consult 2025 menunjukkan generasi Z global lebih banyak memperoleh berita dari media sosial dibanding televisi.
Podcast juga semakin populer karena dianggap lebih personal dan tidak terlalu formal dibanding media konvensional.
Di banyak negara, pejabat publik kini rutin hadir dalam podcast independen untuk menjangkau audiens muda.
Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia, di mana sejumlah pejabat negara muncul dalam podcast populer yang memiliki jutaan penonton di YouTube.
Perkembangan ini menunjukkan komunikasi politik tidak lagi terbatas pada konferensi pers resmi atau wawancara media arus utama.
Menunggu Ujian Kualitas
Di tengah perubahan ekosistem media tersebut, AJI menilai kualitas karya tetap harus menjadi ukuran utama.
Nani mengatakan publik kini tinggal menunggu apakah media-media yang tergabung dalam INMF benar-benar menghasilkan karya jurnalistik yang memenuhi standar profesional.
“Kalau pernyataan mereka, pertemuan itu dalam rangka konfirmasi dan Bakom konon merangkul mereka agar kualitas beritanya, maka kita tunggu saja apakah nanti teman-teman INMF menghasilkan liputan berita-berita berkualitas. Jika tidak, ya berarti kemarin kerja sama dan rekrutmen saja,” tandasnya.
Perdebatan mengenai hubungan antara negara dan media baru kemungkinan akan terus berkembang. Namun satu hal yang jelas, perubahan pola distribusi informasi membuat pemerintah, media, dan publik harus menavigasi ulang batas antara komunikasi publik, kebebasan pers, dan independensi media di era algoritma.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — CapCut, solusi penyuntingan video terpadu, terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif dan ekonomi digital di Indonesia. Dengan menghadirkan berbagai fitur penyuntingan lengkap hingga templat siap pakai, CapCut memudahkan masyarakat menghasilkan konten berkualitas tanpa memerlukan keahlian profesional.
Sejalan dengan upaya tersebut, CapCut menghadirkan ruang bagi kreator untuk berkarya dan mengembangkan potensi ekonomi melalui berbagai inisiatif, salah satunya kompetisi terbuka bertajuk #CapCutGala2026 yang mengajak kreator membagikan karya terbaik mereka. CapCut juga menggelar malam penghargaan CapCut Gala 2026 pada akhir April lalu untuk mengapresiasi 21 kreator terbaik serta merayakan kontribusi komunitas kreator terhadap industri kreatif nasional.
Upaya CapCut dalam memberdayakan kreator sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan digital. Sebagai salah satu negara dengan perkembangan ekosistem kreator yang pesat, sektor ekonomi kreatif Indonesia menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja pada 2025, meningkat dari 26,48 juta pada tahun sebelumnya. Jumlah tersebut setara dengan 18,7 persen dari total tenaga kerja nasional.
Kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2024 mencapai Rp 1.611,2 triliun atau 7,28 persen, yang menegaskan peran sektor ini sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional.
Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat sektor ini mencakup 17 subsektor, termasuk film, animasi, video, aplikasi, dan konten digital yang terus berkembang seiring meningkatnya pemanfaatan platform digital. CapCut hadir membuka akses lebih luas bagi kreator lokal untuk berkarya, berkolaborasi, serta memperkuat posisinya dalam rantai nilai ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Meta mengembangkan AI kloning Mark Zuckerberg untuk menggantikan tugas CEO, meningkatkan interaksi dengan karyawan, dan mendukung efisiensi perusahaan. [446] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Meta mengembangkan karakter kecerdasan artifisial (AI) fotorealistik berbasis sosok CEO Mark Zuckerberg untuk berinteraksi dengan para karyawannya.
Teknologi ini dirancang untuk memberikan masukan dan saran strategi perusahaan secara otomatis saat sang pendiri tidak dapat hadir secara nyata.
Proyek ambisius ini melatih model AI menggunakan data perilaku, nada bicara, serta pernyataan publik Zuckerberg mengenai arah kebijakan korporasi. Pengembangan tersebut diharapkan mampu memperkuat koneksi antara pimpinan dan sekitar 79.000 karyawan Meta yang tercatat
Melansir dari Engadget, Zuckerberg terlibat langsung dalam proses pengembangan teknis ini secara personal. Sang pendiri Facebook ini dikabarkan meluangkan waktu sekitar lima hingga sepuluh jam setiap pekan untuk melakukan peninjauan teknis dan aktivitas pengodean mandiri atau vibe coding.
Karakter AI tersebut menggunakan data gambar dan suara tingkat tinggi untuk mereplikasi persona sang eksekutif secara akurat. Selain untuk kepentingan internal, Meta memproyeksikan teknologi ini nantinya dapat diadopsi oleh para kreator digital dan influencer untuk mengelola kehadiran virtual mereka di masa depan.
"Meta yakin teknologi ini dapat membantu pengguna mengelola kehadiran virtual mereka sendiri," ungkap sumber yang mengetahui rencana tersebut dilansir dari Engadget, Senin (20/4/2026).
Selain kloning diri sendiri, Meta juga dilaporkan sedang menggarap proyek terpisah berupa agen AI CEO. Alat tambahan ini berfungsi membantu Zuckerberg dalam mencari jawaban dan mengolah informasi internal secara lebih cepat guna mendukung produktivitas kerja harian.
Inisiatif ini muncul di tengah dorongan masif manajemen agar seluruh staf menggunakan alat AI secara maksimal dalam operasional harian. Zuckerberg menyatakan kepada investor bahwa investasi pada alat bantu berbasis AI dapat membantu perusahaan menyelesaikan lebih banyak tugas dengan struktur tim yang lebih ramping.
Fokus pada efisiensi ini bertepatan dengan kabar mengenai rencana restrukturisasi besar-besaran yang diprediksi akan berdampak pada 20% tenaga kerja Meta. Para manajer produk dilaporkan mulai melatih staf melalui latihan standarisasi kemampuan berbasis AI dan latihan vibe coding.
Namun, pengembangan avatar fotorealistik ini tidak lepas dari tantangan teknis, terutama terkait kebutuhan daya komputasi yang sangat besar. Sejumlah narasumber internal menyebut proyek ini berisiko menyedot sumber daya infrastruktur digital perusahaan yang saat ini sudah sangat terbatas.
Sebelumnya, Meta sempat meluncurkan fitur chatbot berbasis selebritas pada Oktober 2023 dengan investasi jutaan dolar. Namun, proyek tersebut dihentikan kurang dari setahun setelah peluncurannya menyusul berbagai ulasan negatif dan klaim kontroversial yang dihasilkan oleh sistem tersebut.
Meta juga baru saja merilis model AI "Muse Sparks" melalui unit Superintelligence Labs yang diklaim hemat daya namun memiliki kecepatan tinggi. Meski demikian, performa model tersebut dinilai sejumlah pengamat masih tertinggal jika dibandingkan dengan para pesaing di industri AI saat ini.
Terkait pengembangan kloning digital ini, perusahaan berharap dapat menciptakan standar baru dalam interaksi kepemimpinan di era digital. Karyawan yang tetap bertahan di perusahaan kemungkinan besar akan segera berinteraksi dengan versi digital Zuckerberg untuk mendapatkan arahan operasional.
REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR — Pemerintah Indonesia mulai menyusun proposal internasional untuk membenahi tata kelola royalti hak cipta digital global. Langkah ini ditempuh untuk menjawab persoalan transparansi dan distribusi royalti lintas negara yang selama ini dinilai belum adil bagi kreator.
Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum menggelar diskusi penyusunan draftElement Paperbersama Kementerian Luar Negeri dan para ahli dari South Center di Denpasar, Bali, sebagai fondasi proposal Indonesia dalam forum internasional.
Diskusi tersebut menargetkan perumusan elemen substantif instrumen internasional yang mengikat secara hukum dalam tata kelola royalti digital. Pemerintah menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah cara karya diakses, didistribusikan, hingga dimonetisasi sehingga sistem perlindungan hak cipta perlu diperbarui secara global.
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno optimistis diskusi ini akan sangat bermanfaat. "Kami tahu bahwa ada banyak kondisi yang kurang baik secara geopolitik, tetapi tetap ada masalah yang sama dari negara berkembang maupun maju," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, penyusunan dokumen tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga membangun kesepahaman antarnegara. Proposal tersebut dinilai bukan gagasan baru, namun belum pernah diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional yang benar-benar mengikat.
“Kita tidak hanya melihat draft legally binding document, tetapi juga bagaimana kebanyakan negara akan setuju dengan draft ini. Saya ingin kita melihat ini sebagai lanjutan dari GRULAC, bukan hanya inisiatif kita. Saya yakin 100 persen bahwa tidak semua negara akan setuju, tetapi itu adalah hal yang normal,” katanya.
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar mengatakan, perkembangan platform digital dan sistem berbasis algoritma telah mengubah ekosistem industri kreatif secara fundamental. Menurutnya, instrumen internasional diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara norma hukum dan praktik distribusi royalti di lapangan.
“Oleh karena itu, diperlukan instrumen internasional yang mampu menjembatani kesenjangan antara norma hukum yang ada dengan praktik di lapangan,” ujarnya.
Hermansyah menambahkan, perlindungan kekayaan intelektual harus memastikan kreator menerima remunerasi yang adil dan transparan melalui pencatatan karya, kelengkapan metadata, serta pemanfaatan sistem pengelolaan royalti.
Kepala Badan Strategi Kebijakan Kementerian Hukum Andry Indrady mengatakan, proposal Indonesia tidak bertujuan menciptakan hak baru, melainkan memperkuat tata kelola global yang sudah ada. Fokus utama diarahkan pada transparansi data, interoperabilitas sistem, dan distribusi royalti lintas negara yang akuntabel.
“Masalah utama bukan pada kurangnya norma hukum, tetapi pada bagaimana sistem pengelolaan royalti lintas negara dapat berjalan secara efektif. Oleh karena itu, kita mendorong adanya standar global yang menjamin aliran data yang konsisten, akurasi metadata, serta koordinasi antar lembaga,” jelasnya.
Melalui penyusunanElement Paperini, Indonesia menegaskan upaya memperkuat perlindungan kekayaan intelektual sebagai fondasi ekonomi kreatif global. Dokumen tersebut ditargetkan menjadi dasar pengajuan proposal Indonesia dalam forum internasional mendatang guna menciptakan sistem royalti digital yang lebih transparan dan berpihak pada kreator.
TikTok Shop by Tokopedia mendukung UMKM Ibu & Anak di IMBEX 2025, mendorong ibu-ibu jadi kreator dan seller digital melalui fitur video pendek dan live shopping [701] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - TikTok Shop by Tokopediaterus mendukung para pegiat usaha lokal di seluruh Indonesia, terutama UMKM lokal kategori Ibu dan Anak (Mom & Baby), dengan membangun ekosisteme-commerceyang aman dan inklusif melalui pemanfaatan teknologi. Kali ini, TikTok Shop by Tokopedia hadir di acara Indonesia Maternity and Baby Expo (IMBEX) 2025, dalamtalkshowbertajuk “Dari Hobi Review Jadi Penghasilan: Cara MulaiAffiliateTikTok Shop untuk Para Ibu,” untuk mendorong para pelaku usaha lokal memanfaatkan platform digital secara optimal, lewat fitur video pendek danlive shoppingdalam berjualan serta memberdayakan para IbuAffiliate Creatoruntuk memasarkan produknya.
“Di TikTok Shop by Tokopedia, kami selalu berupaya mendukung para pegiat usaha lokal di seluruh Indonesia, terutama pelaku usaha lokal pada kategori Ibu dan Anak, agar memiliki kesempatan yang sama dalam meningkatkan daya saing bisnis melalui pemanfaatan teknologi. Kami juga ingin memastikan kreator dan afiliator khususnya Ibu-Ibu juga dapat memanfaatkan platform digital secara optimal, agar kreativitas mereka berbuah dampak ekonomi yang nyata,” ujarRizky Juanita Azuz, Communications Senior Lead Tokopedia dan TikTok E-commerce, Indonesia.
Sepanjang semester 1/2025, kategori Mom & Baby menjadi salah satu kategori yang mengalami pertumbuhan signifikan di Tokopedia dan TikTok Shop. Transaksi di kategori ini rata-rata meningkat hampir 2 kali dibanding semester 2/2024, dengan kontribusi signifikan dari pelaku usaha lokal yang menawarkan makanan anak berbasis bahan alami.
Beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banteng dan DKI Jakarta juga mengalami lonjakan transaksi pada kategori Mom & Baby selama semester 1/2025 dibandingkan semester 2/2024.
Berawal dari usaha rumahan, Yummys Mom N Babe raih rekor MURIYummys Mom N Babe memulai perjalanannya berupa susu almond cair rumahan melalui media sosial di Surabaya. Meski hanya bertahan sebentar di suhu ruang, tingginya antusiasme pelanggan mendorongbrandini terus berinovasi. Dari produk susu cair tersebut, Yummys Mom N Babe kemudian mengembangkan susu almond bubuk tersertifikasi yang lebih praktis dan mampu menjangkau lebih banyak ibu di seluruh Indonesia.
Seiring berkembangnya usaha, Yummys Mom N Babe memperluas misinya dengan menggandeng para bidan dan tenaga pendamping ibu untuk menyediakan edukasi, konsultasi, serta menghadirkan berbagai produk solutif bagi ibu dan calon ibu. Puncak pencapaiannya hadir pada 2024 ketika Yummys Mom N Babe meraih rekor MURI lewat pembagian ribuan susu pelancar ASI bersama para bidan di seluruh Indonesia, sebuah pembuktian bahwa kehadirannya memberikan dampak nyata bagi kesehatan keluarga Indonesia.
Memperkuat visinya untuk menjangkau lebih banyak ibu, Yummys Mom N Babe juga memanfaatkan platform digital untuk memperbesar jangkauan dan dampak.Widya Farha Nuramalina, Direktur Utama Yummys Mom N Babe,mengatakan, “Sejak kehadiran Yummys Mom N Babe di Tokopedia dan TikTok Shop by Tokopedia, kami sangat terbantu untuk menjangkau lebih banyak lagi ibu-ibu di Indonesia yang ingin mencari produk untuk mendukung pelancaran ASI. Dengan mengikuti berbagai kampanye dari Tokopedia dan TikTok Shop serta berkolaborasi dengan para afiliator, produk kami semakin bisa dikenal dan dirasakan keluarga Indonesia.”
Konsistensi membuat konten danLIVE Shoppingmembuka peluang ekonomi keluarga
Di eradiscovery e-commerce, TikTok Shop by Tokopedia membuka ruang baru bagi siapa saja yang ingin membangun peluang ekonomi melalui kreativitas.LIVE streamingmenjadi salah satu jembatan utama, termasuk bagi kreator sekaligus afiliator sepertiSania (@ranisalep)
Ibu dua anak asal Bekasi ini awalnya hanya ingin mengisi waktu luang dengan membuat konten seputar produk ibu dan anak di TikTok. Pelan-pelan, konsistensinya berbuah hasil. Dari akun kecil, kini Sania memiliki lebih dari 131 ribu pengikut, serta berbagai kesempatan kolaborasi dengan brand ibu dan anak, termasuk Yummys Mom N Babe. Pendapatannya pun meningkat signifikan, cukup untuk memberikan kehidupan yang lebih nyaman bagi keluarganya.
“Kalau punya kesempatan, coba saja dulu. Kreator dan afiliator itu butuh keberanian dan ketekunan, tapi hasilnya bisa luar biasa. Yang penting kita jujur saat mengulas produk dan terus konsisten. Kalau kita tulus, orang akan percaya dan kembali lagi,” ujarSania (@ranisalep),yang sejak 2022 mantap menjadi afiliator penuh waktu.
“Saat ini, para pelanggan di Tokopedia dan TikTok Shop bisa menemukan produk pelaku usaha lokal terpercaya dengan jauh lebih mudah, berkat review jujur dari lebih dari 8 juta kreator di platform kami. Melalui Creators Lab, kami juga membantu para kreator berkembang agar mereka bisa menghadirkan konten video pendek danlive shoppingyang kreatif, informatif, dan bermanfaat, khususnya di eradiscovery commercesaat ini. Harapan kami sederhana, yaitu agar produk pelaku usaha lokal bisa dipasarkan dengan cara yang tepat, dan dampaknya benar-benar dirasakan oleh para pelaku usaha maupun masyarakat,” tutup Rizky.
Daftar 10 kreator terkaya dunia 2025: dari MrBeast hingga Khaby Lame, para raja konten digital dengan penghasilan fantastis dan pengaruh global. [517] url asal
Jakarta: Era kejayaan kreator digital belum berakhir. Justru, semakin menggila di 2025. Dari YouTube hingga TikTok, para kreator kini bukan sekadar pembuat konten, tapi penguasa ekonomi baru dengan pengaruh global dan cuan fantastis.
Tahun 2025 menandai babak baru bagi industri kreator digital. Para kreator kini menulis ulang aturan main di dunia media dan hiburan.
Merangkum laman Forbes, acara reality show MrBeast memecahkan rekor penonton di Amazon, sementara Alex Cooper, Matt Rife, dan Jake Shane sukses memenuhi bioskop dengan pertunjukan langsung yang tiketnya selalu ludes.
Nama-nama lain seperti Addison Rae juga unjuk gigi lewat album pop suksesnya, sementara Adam W dan Hannah Stocking kini punya lebih banyak pengikut dibanding acara legendaris Saturday Night Live (SNL).
Bahkan, kreator seperti Dhar Mann, Rhett & Link, dan Alan Chikin Chow telah naik level dengan mendirikan studio produksi sendiri yang membuktikan bahwa dunia digital bukan lagi “sekadar konten”, tapi bisnis besar yang menopang industri hiburan global.
Media sosial sudah jadi mainstream
YouTube melaporkan bahwa mayoritas penggunanya kini menonton lewat TV rumah, bukan lagi layar ponsel. Setiap harinya, satu miliar jam video YouTube ditonton di layar televisi.
Itu artinya, dunia kreator kini benar-benar telah menembus ruang tamu jutaan keluarga di seluruh dunia.
Investasi dan uang besar di dunia kreator
“Lingkungan pendanaan swasta untuk kreator sekuat yang pernah saya lihat,” kata Kepala Riset Teknologi di Goldman Sachs, Eric Sheridan.
Semakin banyak investor besar yang menanamkan modal langsung ke merek dan perusahaan milik para kreator.
Tak heran, pendapatan gabungan 50 kreator terkaya dunia tahun ini mencapai USD853 juta (sekitar Rp13,7 triliun), naik 18 persen dibanding tahun 2024.
Jumlah itu belum termasuk nilai saham dan kesepakatan ekuitas yang mereka raih lewat kolaborasi dengan merek global di bidang makanan, fesyen, hingga minuman.
Jumlah pengikut dan kreator terus meningkat
Basis penggemar kreator dunia terus membengkak. Tahun ini, total pengikut gabungan 50 kreator terkaya mencapai 3,4 miliar orang, naik 24 persen dari tahun sebelumnya.
Goldman Sachs mencatat, jumlah kreator di seluruh dunia kini mencapai 67 juta orang, dan akan tumbuh menjadi 107 juta pada 2030. Artinya, kompetisi di dunia kreator semakin ketat, tapi peluang cuan juga makin besar.
AI jadi asisten baru para kreator
Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini membantu kreator bekerja lebih cepat dan efisien.
“Perangkat AI dapat memberi tahu saya siapa audiens saya, membuat konten lebih cepat, dan menurunkan hambatan produksi,” jelas Sheridan.
Menurutnya, kemajuan AI membawa kemudahan bagi para kreator yang selama ini menghadapi tekanan dan kelelahan dalam membuat konten setiap hari.
Daftar 10 kreator terkaya dunia 2025
MrBeast Penghasilan: USD85 juta Total Pengikut: 634 juta
Dhar Mann Penghasilan: USD56 juta Total Pengikut: 137 juta
Jake Paul Penghasilan: USD50 juta Total Pengikut: 79 juta
Rhett & Link Penghasilan: USD36 juta Total Pengikut: 33,8 juta
Alex Cooper Penghasilan: USD32 juta Total Pengikut: 15 juta
Charli D’Amelio Penghasilan: USD23,5 juta Total Pengikut: 216 juta
Matt Rife Penghasilan: USD50 juta Total Pengikut: 42 juta
Mark Rober Penghasilan: USD25 juta Total Pengikut: 80 juta
Druski Penghasilan: USD14 juta Total Pengikut: 25 juta
Khaby Lame Penghasilan: USD20 juta Total Pengikut: 258,5 juta
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
Shopee berkolaborasi dengan Meta untuk menghadirkan pengalaman belanja baru di Facebook. Kreator kini bisa menautkan konten dan menjual produk langsung lewat Shopee. [737] url asal
Jakarta: Shopee, platform e-commerce terkemuka di Asia Tenggara, Taiwan, dan Brasil, berkolaborasi dengan Meta dalam meluncurkan serangkaian fitur baru untuk memudahkan pengguna menemukan produk di Facebook dan melakukan pembelian langsung melalui Shopee.
Fitur baru ini menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana untuk pemasaran afiliasi, serta kemampuan untuk meningkatkan fitur Facebook Live dengan menambahkan Collaborative Ads.
“Shopee berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem kami dan meningkatkan pengalaman belanja e-commerce. Sejalan dengan komitmen ini, kami terus berupaya membantu brand dan penjual memperluas jangkauan mereka, sekaligus menciptakan peluang baru bagi para affiliate untuk berkembang dan berkreasi. Melalui kerjasama dengan Meta ini, kami memberikan kemudahan bagi kreator, brand, dan penjual untuk menghubungkan komunitas Facebook mereka dengan beragam produk dan platform tepercaya milik Shopee,” ujar Head of Brand and Growth Marketing at Shopee, Peggy Zhu, dalam keterangan tertulis, Rabu, 29 Oktober 2025.
Membuka Peluang Baru bagi Kreator dan Penjual Melalui Kemitraan Afiliasi Facebook
Kreator dengan akun affiliate dapat mengunjungi Kemitraan Afiliasi Facebook, one-stop portal yang memungkinkan mereka untuk menautkan akun Facebook dengan akun affiliate mereka. Fitur ini memungkinkan kreator memilih produk yang relevan dan menautkan tautan produk afiliasi secara langsung di dalam konten Feed dan Reels mereka. Pembeli dapat mengklik tautan tersebut dan menyelesaikan pembelian langsung di situs yang diberikan oleh affiliate.
Shopee adalah mitra pertama untuk program Kemitraan Afiliasi Facebook secara global, yang membuka jalan untuk memberdayakan kreator dalam memonetisasi konten mereka, berinteraksi dengan audiens, serta menghubungkan brand dan penjual dengan pelanggan baru.
Kreator juga dapat memperoleh berbagai insentif melalui Program Afiliasi Shopee, seperti pendapatan komisi, sampel produk gratis, voucher bagi pelanggan, dan dukungan produk sponsor.
Shopee juga turut memberikan dukungan bagi affiliate dengan menyediakan akses ke bootcamp dan acara pelatihan yang membekali mereka dengan pengetahuan serta fitur untuk menciptakan konten yang autentik dan menarik, membantu mereka memperluas jangkauan serta pendapatan.
Melalui kolaborasi ini, Shopee menunjukkan komitmennya terhadap pertumbuhan ekonomi kreator yang sedang berkembang pesat dan turut mengubah cara orang menemukan, berinteraksi, dan berbelanja secara online.
Selain itu, kolaborasi ini juga memperkuat momentum Shopee dalam membangun ekosistem konten yang solid, dengan lebih dari 100 juta konten Shopee Live dan Shopee Video yang dibuat oleh para affiliate pada tahun 2024 meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Afiliasi merupakan bagian penting dari ekonomi digital saat ini, yang turut membentuk cara orang menemukan dan mencari informasi produk secara online. Melalui afiliasi, kami memperkaya pengalaman belanja lintas platform, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi penjual dan brand untuk meraih kesuksesan,” tambah Peggy Zhu.
Kreator asal Thailand, Suparat, yang menyalurkan kecintaannya terhadap bonsai melalui halaman Facebook-nya, RakBonsai, mengatakan bahwa ia mengetahui tentang Kemitraan Afiliasi Facebook dari Shopee. “Program ini sangat mudah digunakan, dan dilengkapi sistem yang dapat memproses unggahan dengan cepat dan lancar. Hanya dalam waktu sekitar sepuluh hari, saya sudah melihat penghasilan yang menjanjikan dari tautan produk saya. Secara keseluruhan, tanggapan dari komunitas kreator juga sangat positif,” ujarnya.
Program Kemitraan Afiliasi Facebook bersama Shopee kini telah tersedia di Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Brasil.
Meningkatkan Fitur Facebook Live dengan Proses Checkout yang Mulus di Shopee
Brand dan penjual yang berfokus pada penjualan online kini dapat memaksimalkan manfaat fitur Facebook Live mereka dengan menambahkan Collaborative Ads, yang menghadirkan cara lebih mudah untuk menampilkan produk dari katalog Shopee dalam siaran langsung.
Pembeli dapat mengklik produk yang ditampilkan selama siaran langsung berlangsung, dan kemudian diarahkan untuk menyelesaikan pembelian mereka di Shopee. Brand dan penjual juga dapat menyematkan produk dari katalog mereka di dalam siaran langsung, mengarahkan penonton ke Shopee untuk melihat informasi produk, ulasan, serta melakukan checkout dengan lebih mudah.
Shopee menjadi marketplace pertama yang terintegrasi dengan fitur beta ini, yang saat ini dalam tahap uji coba di Thailand, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan akan segera diluncurkan di beberapa negara lainnya.
“Melalui fitur terbaru ini, Meta menunjukkan bagaimana kami terus beradaptasi untuk menjawab perubahan perilaku konsumen yang terjadi di kawasan ini. Dengan mengintegrasikan konten sosial melalui pemasaran afiliasi dan siaran langsung, kami menciptakan peluang bagi masyarakat untuk menemukan dan mengekspresikan minat mereka melalui pengalaman sosial yang lebih interaktif. Respon positif yang kami terima pada tahap awal integrasi dengan produk-produk di Shopee ini menegaskan kesamaan komitmen kami dalam membantu pengguna menemukan dan terhubung dengan hal yang lebih bermakna,” ujar Damian Kim, APAC Director of Monetisation, Meta.