Bisnis.com, JAKARTA — Para pemimpin perusahaan teknologi global menepis kekhawatiran mengenai pecahnya gelembung (bubble) di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), meskipun investasi di sektor ini dilaporkan telah menembus angka US$1 triliun atau sekitar 16.660 triliun (asumsi kurs Rp16,660 per dollar AS).
Sejumlah analisis memberikan peringatan dan menyamakan situasi saat ini dengan era dotcom. Namun, para eksekutif bersikeras bahwa industri AI baru saja memasuki fase awal pertumbuhan jangka panjang.
Melansir dari The Register Senin (08/12/2025), perdebatan ini mengemuka dalam berbagai konferensi teknologi minggu ini, termasuk HPE Discover di Barcelona dan UBS Global Technology and AI Conference.
Presiden dan General Manager divisi Networking Hewlett Packard Enterprise (HPE) Rami Rahim menegaskan bahwa pihaknya belum melihat tanda-tanda perlambatan permintaan perangkat keras berkinerja tinggi yang menjadi tulang punggung pengembangan AI.
"Saat ini, saya tidak melihat tanda-tanda perlambatan berdasarkan proyek-proyek yang ada di pasar serta percakapan dan rencana yang kami diskusikan dengan pelanggan," ujar Rahim.
Rahim mengakui bahwa koreksi pasar adalah hal lumrah dalam sejarah industri, namun ia menilai situasi saat ini berbeda dengan kejatuhan pasar dotcom. Menurutnya, tingkat kepercayaan dan adopsi teknologi saat ini jauh lebih matang.
Sebagai informasi, gelembung dotcom pada periode akhir 1990-an adalah ketika banyak perusahaan internet dihargai sangat tinggi padahal belum memiliki bisnis yang jelas. Saat kepercayaan investor runtuh, harga saham jatuh dan banyak perusahaan gulung tikar.
Rahim mencontohkan, efisiensi nyata telah tercipta di internal HPE, di mana pengembang perangkat lunak menjadi lebih produktif berkat bantuan teknologi copilot.
Senada dengan HPE, CEO Advanced Micro Devices (AMD) Lisa Su juga membantah keras narasi gelembung AI. Dalam forum UBS, Su menyebut industri teknologi tengah berada di awal "siklus super sepuluh tahun".
Su menjelaskan bahwa fase pelatihan model yang menjadi kasus penggunaan utama kini mulai bergeser ke arah inferensi. Hal ini memaksa pelanggan korporasi untuk terus menyesuaikan infrastruktur mereka, yang berujung pada lonjakan permintaan komputasi.
"Satu hal yang konstan saat kami berbicara dengan pelanggan adalah kebutuhan akan komputasi yang lebih besar," kata Su.
Optimisme Su bahkan mencakup valuasi fantastis OpenAI yang mencapai US$500 miliar atau sekitar Rp 8.330 triliun. Kendati pembuat ChatGPT itu diprediksi belum akan mencetak laba hingga 2030 dan harus membakar uang untuk investasi pusat data, Su menilai hal tersebut wajar bagi perusahaan bermodal kuat di momen krusial ini.
Namun, pandangan optimistis para bos teknologi ini kontras dengan sentimen pasar yang lebih berhati-hati.
Firma riset Forrester baru-baru ini melaporkan bahwa banyak organisasi besar berencana menunda belanja AI mereka hingga 2027. Penundaan ini dipicu oleh kesenjangan antara janji manis vendor teknologi dengan realitas implementasi di lapangan.
Sementara itu, Chairman SK Group Chey Tae-won memberikan pandangan yang lebih moderat. Chey menilai industri AI itu sendiri bukanlah gelembung, namun ia memperingatkan bahwa pasar saham telah bereaksi terlalu cepat.
"Ketika Anda melihat pasar saham, kenaikannya terlalu cepat dan terlalu tinggi, jadi saya pikir wajar jika akan ada periode koreksi," ujar Chey.
Peringatan serupa juga datang dari Komite Kebijakan Keuangan Bank of England yang menyoroti risiko koreksi mendadak di pasar keuangan akibat saham AI. Bahkan, CEO OpenAI Sam Altman pada awal tahun ini sempat mengakui adanya potensi gelembung di industri tersebut. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)