Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten batu bara optimistis permintaan batu bara dapat membaik untuk 2026 dibandingkan pada 2025. Produsen batu bara diperkirakan akan menahan produksinya pada tahun ini.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan produksi batu bara Indonesia pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran 750 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 830 juta ton.
“Penurunan ini mencerminkan penyesuaian industri terhadap kondisi pasar global yang melemah,” kata Nico, Selasa (6/1/2026).
Meski demikian, lanjutnya, level produksi tersebut masih berada di atas target pemerintah, sehingga menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu produsen batu bara terbesar dunia, meskipun dengan laju pertumbuhan yang lebih terbatas.
Penurunan produksi pada 2025 terutama dipengaruhi oleh melemahnya permintaan global, khususnya dari negara tujuan ekspor utama seperti China dan India yang meningkatkan produksi domestik mereka.
Selain itu, kata Nico, tekanan harga batu bara internasional membuat sebagian produsen lebih berhati-hati dalam meningkatkan output.
“Faktor transisi energi global juga mulai memengaruhi keputusan produksi, meskipun dampaknya masih bertahap,” tutur Nico.
Memasuki 2026, menurutnya produksi batu bara Indonesia diperkirakan akan kembali mengalami penyesuaian ke level yang lebih rendah dibandingkan 2025. Sejalan dengan evaluasi pemerintah dan pelaku industri, target produksi 2026 berpotensi diturunkan sebagai respons terhadap tren permintaan global yang belum sepenuhnya pulih.
“Tahun 2026 dipandang sebagai fase konsolidasi, bukan ekspansi produksi,” kata dia.
Adapun sejumlah faktor utama yang memengaruhi prospek batu bara pada 2026 adalah stagnasi permintaan global, kebijakan energi bersih di berbagai negara, serta upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara produksi, ekspor, dan kebutuhan domestik.
Dia juga menuturkan konsumsi batu bara dalam negeri memang relatif stabil, tetapi peningkatannya belum cukup besar untuk sepenuhnya mengimbangi pelemahan ekspor.
“Oleh karena itu, kami memproyeksikan harga batu bara berada di rentang US$90–US$100 per metrik ton,” ucapnya.
Adapun dua saham batu bara yang menjadi pilihan Pilarmas Investindo Sekuritas untuk tahun ini adalah PTBA dan INDY.
Sebelumnya, Direktur PT Samindo Resources Tbk. (MYOH) Park Jung Ook memandang sepanjang 2025, harga batu bara telah mencapai level terendah. Park optimistis harga batu bara dapat sedikit meningkat pada 2026.
“Menurut kami harga batu bara tahun 2025 sudah paling rendah. Mungkin tahun depan bisa sedikit naik daripada tahun ini,” ucap Park, dalam paparan publik MYOH, Rabu (31/12/2025).
Dia juga menuturkan penurunan harga batu bara sepanjang 2025 membuat kinerja operasional maupun keuangan MYOH mengalami penurunan sampai kuartal III/2025.
Oversupply Batu Bara
Sementara itu, Direktur PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) Lie Luckman menuturkan secara global pada 2025 terdapat oversupply batu bara termal yang diakibatkan oleh adanya produksi dari negara-negara pengimpor utama seperti di China dan India.
Negara-negara tersebut memiliki kapasitas produksi yang cukup tinggi, sehingga batu bara yang mereka impor mengalami sedikit penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, karena mereka mengutamakan penggunaan produk dalam negeri.
“Hal ini mendorong harga batu bara jatuh sepanjang tahun 2025,” ucap Lie.
Dia melanjutkan, mengingat batu bara merupakan industri yang memiliki siklus harga bersifat fluktuatif dan cyclical, maka AADI tidak dapat memproyeksikan pasar batu bara.
Namun, kata dia, dari sentimen market, kondisi saat ini akan berlangsung sampai awal tahun 2026, dengan negara-negara seperti Cina dan India masih ingin mengutamakan penggunaan produk batu bara mereka sendiri.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.