Masalah Keamanan, Raksasa Pabrikan Pesawat Dunia Bakal Tinggalkan Google?
Pabrikan pesawat asal Eropa, Airbus dikabarkan telah memutuskan untuk memindahkan sistem digital mereka dari layanan cloud Google. Pabrikan pesawat asal Eropa,... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 22/12/25 06:18 80651
JAKARTA - Pabrikan pesawat asal Eropa, Airbus dikabarkan telah memutuskan untuk memindahkan sistem digital mereka dari layanan cloud Google . Para eksekutif perusahaan seperti dilansir RT, mengatakan keputusan ini didorong oleh kekhawatiran terkait keamanan dan kedaulatan data yang terkait dengan yurisdiksi AS atas informasi industri yang sensitif.Keputusan ini muncul saat Google menghadapi gugatan class-action di AS atas dugaan pelanggaran privasi yang terkait dengan asisten AI mereka, Gemini. Gugatan tersebut mengklaim bahwa alat ini diaktifkan secara diam-diam di Gmail, Chat, dan Meet pada bulan Oktober, memberikan Google akses ke email, lampiran, dan panggilan video tanpa izin pengguna, menurut Bloomberg. Meski begitu Google telah membantah tuduhan tersebut.
6.000 Pesawat Airbus A320 Ditarik karena Masalah Perangkat Lunak, Ini Update Terbarunya
Sementara itu Airbus sedang bersiap menawarkan kontrak besar untuk memindahkan data penting ke cloud Eropa agar berdaulat secara digital. Perusahaan yang saat ini menggunakan Google Workspace itu, berencana untuk memindahkan sistem on-premises utama setelah mengkonsolidasikan pusat data mereka.
Peralihan ini akan mencakup sistem inti, termasuk produksi, manajemen bisnis, dan data desain pesawat. Airbus memperkirakan hanya ada peluang 80% untuk menemukan penyedia Eropa yang mampu memenuhi persyaratan teknis dan hukumnya.
“Saya membutuhkan cloud yang berdaulat karena sebagian informasi sangat sensitif dari perspektif nasional dan Eropa,” kata Catherine Jestin, wakil presiden eksekutif digital Airbus, kepada The Register.
“Kami ingin memastikan informasi ini tetap berada di bawah kendali Eropa," paparnya.
Airbus Tuduh Radiasi Matahari Pemicu Ribuan Pesawat A320 Rusak
Tender tersebut diyakini bakal bernilai lebih dari USD58,5 juta, dan diperkirakan akan diluncurkan pada awal Januari, dengan harapan bakal terwujud sebelum musim panas. Airbus, yang memimpin perlombaan pesanan pesawat secara global selama enam tahun terakhir, mengakui awal bulan ini bahwa pesaingnya asal AS, Boeing kemungkinan akan melampauinya.
CEO Guillaume Faury mengatakan, bahwa Boeing mendapatkan keuntungan dari dukungan politik selama negosiasi perdagangan yang mencakup pembelian pesawat besar.
(akr)