Manuver Refinancing Utang ENRG & MEDC Lewat Emisi Obligasi
ENRG dan MEDC menerbitkan obligasi untuk refinancing utang. ENRG fokus pada likuiditas jangka pendek, sementara MEDC stabil dengan leverage lebih rendah.
(Bisnis.Com) 04/12/25 15:05 60856
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten minyak dan gas (migas) menempuh opsi pembiayaan melalui surat utang sebagai ongkos ekspansi. Risiko peningkatan liabilitas bisa menjadi bumerang bila neraca keuangan tak dikelola baik. Hal ini menjadi pertaruhan jangka panjang.
Sebagai contoh, emiten migas Grup Bakrie PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) bersiap menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 dengan nilai emisi Rp500 miliar. Penggunaannya akan digunakan untuk pembiayaan kembali utang (refinancing) dan beberapa pos biaya lainnya. Obligasi tersebut menjadi bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi berkelanjutan I Energi Mega Persada senilai Rp4 triliun.
Dari sisi negara keuangan, ENRG per akhir September membukukan peningkatan liabilitas dari US$926,12 juta jadi US$947,45 juta. Komposisinya hampir seimbang antara liabilitas jangka pendek dan panjang, masing-masing US$469,82 juta dan US$477,64 juta.
Sementara itu, emiten migas keluarga Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) pada Juni 2025 lalu menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VI Tahap I Tahun 2025 dengan nilai emisi sebesar Rp1 triliun.
Instrumen tersebut merupakan bagian dari program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) senilai total Rp5 triliun yang ditujukan khusus untuk pemodal profesional. Pendanaan dari surat utang ini digunakan untuk membiayai kebutuhan umum perusahaan dan refinancing utang.
Per akhir September 2025, liabilitas MEDC naik dari US$5,57 miliar menjadi US$6,04 miliar, didominasi liabilitas jangka panjang sebesar US$4,67 miliar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Iman Gunadi membandingkan dari sisi fundamental ENRG dan MEDC menunjukkan karakter pertumbuhan yang berbeda jika dilihat melalui rasio keuangannya.
Dia menjabarkan, ENRG mencatat kenaikan pendapatan dan laba per September 2025, dengan margin laba bersih sekitar 15%, namun struktur permodalannya masih menunjukkan tingkat leverage yang tinggi dengan debt-to-equity ratio (DER) sekitar 1,29 kali, serta current ratio sekitar 0,54 kali.
"Rasio ini menunjukkan kebutuhan pengelolaan likuiditas yang ketat, terutama karena sebagian besar kewajibannya berada pada horizon jangka pendek," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (3/12/2025).
Sementara itu, Iman menjabarkan bahwa MEDC memiliki skala operasi yang lebih besar dan rasio keuangan yang lebih stabil, dengan EBITDA sekitar US$940 juta dan proyeksi DER sepanjang 2025 di 1,6 kali, yang kemudian diperkirakan turun menuju 1,4 kali pada 2027.
Proyeksi ini seiring peningkatan produksi blok Corridor dan kontribusi AMMN. Selain itu, normalisasi laba pada 2025 juga diproyeksikan pulih secara signifikan pada 2026–2027 sehingga memberi visibilitas laba yang lebih kuat.
Dalam konteks ekspansi berbasis utang, Iman mengatakan efektivitas pengelolaan neraca menjadi faktor penentu keberlanjutan pertumbuhan. ENRG dengan current ratio kurang dari 1 kali menurutnya perlu memastikan perputaran arus kas operasi, capex, dan strategi refinancing berjalan efisien agar mampu menjaga rasio likuiditas pada level yang mendukung aktivitas bisnis.
Sementara itu, MEDC menurutnya didukung oleh kapasitas interest coverage ratio (ICR) 2,2–2,4 kali dan komposisi utang jangka panjang yang lebih dominan, sehingga memberikan ruang lebih luas dalam manajemen struktur jatuh tempo.
"Dengan EBITDA yang besar dan kestabilan arus kas dari segmen power dan AMMN, MEDC memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam mendukung pertumbuhan serta mengelola leverage secara bertahap," tandasnya.
Keberhasilan kedua emiten migas ini melakukan ekspansi dari pendanaan utang juga menjadi magnet di lantai bursa. Iman bilang, dari sudut pandang investor pasar cenderung memberikan apresiasi kepada emiten yang mampu menjaga disiplin struktur modal serta menampilkan indikator eksekusi jangka pendek yang konkret.
Menurutnya, proyeksi jangka panjang biasanya baru dihargai pasar apabila didukung oleh tren perbaikan rasio keuangan seperti penurunan DER, peningkatan ICR, perbaikan arus kas operasi, atau kenaikan produksi. Dalam konteks ini, menurutnya MEDC memiliki keunggulan berkat diversifikasi bisnis dan kemampuan mempertahankan rasio keuangan yang lebih kuat.
"Sementara itu, ENRG berpotensi mendapatkan penilaian yang lebih konstruktif apabila dapat menunjukkan konsistensi perbaikan leverage dan likuiditas di tengah strategi pertumbuhan berbasis utangnya," pungkasnya.
#refinancing-utang #emisi-obligasi #obligasi-berkelanjutan #enrg-medc #liabilitas-jangka-panjang #rasio-keuangan #debt-to-equity-ratio #current-ratio #interest-coverage-ratio #ebitda-medc #pertumbuhan