Anak Usaha BUMA (DOID) Lunasi Utang US$212,25 Juta Lebih Awal
Anak usaha BUMA, PT Bukit Makmur Mandiri Utama, melunasi utang US$212,25 juta lebih awal, yang didanai fasilitas sindikasi bank jumbo.
(Bisnis.Com) 19/11/25 08:53 42900
Bisnis.com, JAKARTA — Anak usaha PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID), PT Bukit Makmur Mandiri Utama, melakukan pelunasan lebih awal utang senilai US$212,25 juta atau setara Rp3,55 triliun (kurs Jisdor Rp16.760) dengan kupon tetap 7,75% yang jatuh tempo pada 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi, Direktur BUMA, Silfanny Bahar menjelaskan Senior Notes 7,75% tersebut awalnya diterbitkan pada Februari 2021 dengan nilai pokok US$400 juta, dan kemudian diamendemen melalui perjanjian tambahan pada Juni 2022 dan Maret 2024.
"Dengan pembayaran ini, seluruh sisa obligasi telah dilunasi sepenuhnya, dan bunga tidak lagi berjalan, menandai selesainya kewajiban atas Senior Notes 2026," katanya, Rabu (19/11/2025).
Transaksi tersebut, lanjutnya, sebagian besar didanai melalui fasilitas sindikasi BUMA yang bekerja sama dengan sejumlah bank, termasuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk.
Menurutnya, hal ini mencerminkan kepercayaan kuat dari institusi keuangan terhadap BUMA serta akses Perusahaan yang tetap solid terhadap likuiditas.
Dia menjelaskan langkah ini merupakan bagian dari strategi keuangan jangka panjang Perseroan yang bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan, mengoptimalkan leverage, serta meningkatkan efisiensi pembiayaan.
BUMA terus menjalankan strategi pendanaan yang disiplin dan terdiversifikasi, memastikan akses ke berbagai sumber pembiayaan, termasuk fasilitas perbankan konvensional dan syariah, Sukuk, obligasi dolar AS dan Rupiah, serta pembiayaan leasing.
Dia menuturkan pendekatan yang seimbang ini menjaga fleksibilitas keuangan dan menempatkan BUMA pada posisi yang kuat untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan di masa depan.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, Rabu (1/10/2025), DOID membukukan rugi bersih sebesar US$74,20 juta atau setara Rp1,20 triliun (kurs Jisdor Rp16.231 per dolar AS) sepanjang Januari–Juni 2025. Capaian ini dipengaruhi penurunan EBITDA dan pencadangan piutang pada operasional Australia.
EBITDA tercatat mencapai US$64 juta dengan margin 11% atau lebih rendah dibandingkan 22% pada periode sama tahun lalu. Di samping itu, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$730 juta atau terkoreksi 15% secara tahunan (year on year/YoY).
Adapun produksi batu bara perseroan mencapai 38 juta ton, terkoreksi 10% YoY. Sementara volume pemindahan lapisan penutup (overburden removal) tercatat 209 juta bcm, turun 23% YoY akibat cuaca ekstrem dan penghentian operasional pada awal tahun.
Kendati demikian, DOID menunjukkan pemulihan kuat di kuartal II/2025. EBITDA naik lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi US$50 juta. Pendapatan juga naik 8% menjadi US$378 juta, seiring produksi batu bara yang tumbuh 8% menjadi 20 juta ton.
Perbaikan tersebut membuat rugi bersih kuartalan perseroan menyempit menjadi US$10 juta. DOID bahkan berhasil mencatat profitabilitas bulanan pada Mei dan Juni 2025.
#buma-utang-lunas #doid-pelunasan-utang #buma-senior-notes #buma-strategi-keuangan #buma-fasilitas-sindikasi #buma-bank-kerjasama #buma-struktur-permodalan #buma-efisiensi-pembiayaan #buma-pendanaan-te