Mengapa Harga Minyak Dunia Tak Tembus 200 Dollar AS? Ini Penjelasan Analis

Mengapa Harga Minyak Dunia Tak Tembus 200 Dollar AS? Ini Penjelasan Analis

Dunia memiliki sekitar 407 juta barrel minyak siap pakai yang menjadi bantalan ketika pasokan terganggu.

(Kompas.com) 28/06/26 20:39 262137

KOMPAS.com - Guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah ternyata tidak membuat harga minyak dunia melesat seperti yang diperkirakan banyak analis.

Alih-alih menembus 200 dollar AS per barrel, harga minyak justru turun tajam setelah Amerika Serikat mencapai kesepakatan dengan Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak mentah juga tidak pernah mendekati rekor tertinggi yang tercipta pada 2008.

Kondisi tersebut membuat banyak analis harus mengakui bahwa prediksi mereka meleset.

Mengapa harga minyak dunia tidak melonjak meski pasokan sempat terganggu?

Menurut Peter Taylor, Kepala Strategi Komoditas Macquarie Group, pasar minyak terbukti jauh lebih fleksibel dibandingkan perkiraan.

"Pasar cenderung menyelesaikan masalah dengan lebih efisien daripada yang diperkirakan," ujarnya seperti dikutip dari CNN, Minggu (28/6/2026).

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa tekanan di pasar minyak belum sepenuhnya berakhir.

Pasokan minyak terjaga

Saat Iran menutup Selat Hormuz, sekitar 13 juta barrel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan minyak dunia sempat terganggu. JPMorgan memperkirakan dunia kehilangan sekitar 1,6 miliar barrel pasokan minyak sepanjang periode Februari hingga Agustus.

Gangguan tersebut sempat memicu prediksi bahwa harga minyak akan melonjak hingga 150 dollar AS bahkan 200 dollar AS per barrel. Namun kenyataannya, harga minyak Brent tidak pernah ditutup di atas 115 dollar AS per barrel, sementara minyak mentah Amerika Serikat juga tidak menembus 113 dollar AS per barrel.

Salah satu penyebabnya adalah besarnya cadangan minyak global sebelum konflik pecah. Menurut JPMorgan, dunia memiliki sekitar 407 juta barrel minyak siap pakai yang menjadi bantalan ketika pasokan terganggu.

Selain itu, Badan Energi Internasional (IEA) melepas sekitar 400 juta barrel cadangan minyak strategis ke pasar. Di saat bersamaan, keputusan Presiden AS Donald Trump mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Rusia dan Iran juga menambah pasokan dalam jumlah besar.

"Pasar berulang kali melakukan penyesuaian dengan cara yang mencegah harga bergerak jauh lebih tinggi," kata Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan Natasha Kaneva.

Kaneva mengaku terkejut karena selama Selat Hormuz ditutup masih ada puluhan kapal tanker yang berhasil keluar dari Teluk Persia dengan mematikan sistem pelacaknya. Langkah tersebut diperkirakan tetap mengalirkan sekitar 2 juta barrel minyak per hari ke pasar.

Berbagai tambahan pasokan itu membuat guncangan pasar lebih mudah diatasi dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Permintaan minyak melemah

Di sisi lain, permintaan minyak global turun lebih dalam dari perkiraan.

JPMorgan memperkirakan perang Iran mengurangi permintaan minyak hingga sekitar 800 juta barel sepanjang Februari-Agustus.

Penurunan terbesar berasal dari China. Data Kpler menunjukkan konsumsi minyak negara tersebut turun sekitar 2,6 juta barrel per hari karena memanfaatkan cadangan minyak yang telah disiapkan sebelum perang sekaligus meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Badan Energi Internasional juga memperkirakan peralihan besar-besaran ke kendaraan listrik memangkas konsumsi minyak China sekitar 1 juta barrel per hari.

Menurut Kaneva, penurunan permintaan memberikan dampak berbeda dibandingkan penyusutan stok.

Saat persediaan minyak menipis, harga biasanya naik karena kilang berebut pasokan. Namun ketika permintaan melemah, harga justru ikut turun.

FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.

Produksi meningkat

Faktor lain yang menekan harga minyak adalah meningkatnya produksi dari sejumlah negara, terutama Brasil dan Venezuela.

Amerika Serikat memang tidak menaikkan produksi secara signifikan, tetapi berperan sebagai pemasok terakhir untuk menutup kekurangan pasokan dari Timur Tengah. Langkah tersebut membantu mengatasi ancaman krisis bahan bakar pesawat di Eropa dan kelangkaan solar di Australia.

Pasar juga memperkirakan kenaikan produksi tidak akan berhenti setelah Selat Hormuz kembali dibuka. Kpler memperkirakan sekitar 93 juta barrel minyak mentah yang sempat tertahan akan kembali masuk ke pasar.

Negara-negara anggota OPEC yang sebelumnya memangkas produksi juga diperkirakan mulai meningkatkan produksinya.

"Pemulihan ekonomi Arab Saudi dari perang Iran akan melesat cepat berkat peningkatan produksi minyak," kata ekonom Capital Economics Jason Tuvey.

Ia juga memperkirakan Uni Emirat Arab akan meningkatkan produksi minyak secara agresif dalam beberapa bulan mendatang.

Taylor menilai proses normalisasi pasar minyak bisa berlangsung lebih cepat dibandingkan perkiraan banyak pihak.

"Bias kompleksitas telah membentuk narasi bahwa normalisasi pasar minyak akan memakan waktu yang sangat lama. Kami tidak setuju dengan hal itu," ujarnya.

IEA memperkirakan peningkatan produksi tersebut berpotensi menciptakan surplus pasokan minyak global sekitar 5 juta barel per hari pada tahun depan.

Risiko belum hilang

Meski harga minyak telah kembali mendekati level sebelum perang, sejumlah analis mengingatkan bahwa risiko belum benar-benar berakhir.

Persediaan minyak di Cushing, Oklahoma, yang menjadi pusat distribusi minyak Amerika Serikat, turun hingga di bawah 19 juta barrel atau menjadi yang terendah sejak Agustus 2014.

Kepala Makro Minyak Wood Mackenzie Alan Gelder mengatakan tercapainya kesepakatan politik dengan Iran belum otomatis membuat pasokan kembali normal.

"Mengembalikan pasokan minyak ke tempatnya adalah tantangan yang berbeda dari sekadar mencapai kesepakatan politik," ujarnya.

Gelder memperkirakan sekitar 90 persen produksi minyak sebelum perang dapat pulih dalam enam bulan, tetapi normalisasi penuh diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama.

Sementara itu, China dan sejumlah negara lain diperkirakan akan kembali mengisi cadangan minyak mereka setelah banyak menguras stok selama konflik berlangsung. Kondisi itu berpotensi meningkatkan kembali permintaan minyak pada akhir 2026 hingga 2027.

Karena itu, sebagian analis menilai ruang penurunan harga minyak mulai terbatas. Namun, seperti yang terjadi beberapa bulan terakhir, pasar minyak masih sangat dinamis dan terus mematahkan berbagai prediksi.

"Harus gesit," kata Taylor, menggambarkan strategi yang harus dimiliki pelaku pasar dalam menghadapi perubahan cepat di industri minyak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#minyak-mentah #harga-minyak #minyak-dunia

https://money.kompas.com/read/2026/06/28/203900426/mengapa-harga-minyak-dunia-tak-tembus-200-dollar-as-ini-penjelasan-analis