Meski El Nino Mengintai, Amran Yakin RI Tak Kekurangan Beras: Stok Tertinggi dalam Sejarah

Meski El Nino Mengintai, Amran Yakin RI Tak Kekurangan Beras: Stok Tertinggi dalam Sejarah

Meski BMKG memprediksi El Nino pada 2026, Amran memastikan stok beras Indonesia tertinggi sepanjang sejarah dan aman memenuhi kebutuhan hingga Mei 2027.

(WE Finance) 28/06/26 20:02 262127

Warta Ekonomi, Jakarta -

Ancaman El Nino yang diperkirakan terjadi pada puncak musim kemarau Juli hingga September 2026 diyakini tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional karena pemerintah memastikan stok beras Indonesia berada pada level yang sangat aman.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi jauh sebelum potensi El Nino muncul, sehingga cadangan beras dipastikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga tahun depan.

"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita (El Nino) tahun 2023. Alhamdulillah kita lolos. Stok beras kita tertinggi sepanjang sejarah. Insyaallah aman, katakanlah sampai Desember. (Bahkan) beras kita sudah sampai Mei pun cukup. Jadi tidak masalah," kata Amran dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026).

Optimisme tersebut didukung proyeksi neraca pangan nasional yang menunjukkan stok beras pada akhir 2026 diperkirakan mencapai 16,24 juta ton setelah memperhitungkan stok awal tahun, produksi nasional, dan kebutuhan konsumsi sepanjang tahun.

Cadangan tersebut berasal dari stok awal 2026 sebesar 12,54 juta ton yang ditambah proyeksi produksi beras mencapai 34,76 juta ton, sementara total kebutuhan konsumsi nasional diperkirakan sekitar 31,1 juta ton.

Dengan proyeksi stok akhir tahun sebesar 16,24 juta ton, Indonesia diperkirakan masih memiliki cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat selama sekitar lima bulan pada 2027.

Pemerintah juga memastikan dampak El Nino hingga saat ini belum memberikan pengaruh signifikan terhadap aktivitas pertanian di berbagai daerah.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, mengatakan perkembangan musim masih relatif normal sehingga proses tanam dan produksi pangan tetap berjalan sesuai target.

"Terkait dengan cuaca selama ini masih cukup normal, sehingga belum berpengaruh terhadap pertanaman. Jadi peningkatan produksi tetap dapat tercapai. Kita selalu koordinasi dengan BMKG kaitan dengan perubahan cuaca dan kita juga sudah sosialisasi ke para petani untuk melakukan pola tanam sesuai dengan anjuran dari pemerintah," ujar Sarwo Edhy.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan hingga Juni 2026, produksi beras nasional selama semester pertama diperkirakan mencapai 19,2 juta ton, lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat yang berada di kisaran 15,4 juta ton.

Surplus sekitar 3,7 juta ton tersebut sebagian besar telah dikonversi menjadi Cadangan Beras Pemerintah melalui penyerapan hasil panen petani oleh Perum Bulog.

Hingga 26 Juni 2026, Bulog telah menyerap setara 3,2 juta ton beras dari produksi dalam negeri, sementara penyaluran Cadangan Beras Pemerintah kepada masyarakat telah mencapai sekitar 1,07 juta ton melalui berbagai program pemerintah.

Saat ini, stok beras yang tersimpan di gudang Bulog juga masih mencapai sekitar 5,17 juta ton, sehingga menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional dalam menghadapi potensi gangguan cuaca akibat El Nino.

#badai-el-nino #stok-beras #n-a

https://wartaekonomi.co.id/read619400/meski-el-nino-mengintai-amran-yakin-ri-tak-kekurangan-beras-stok-tertinggi-dalam-sejarah