Piala Dunia Jadi Medan Perang Nike vs Adidas, Siapa Kuasai Pasar Miliaran Dollar AS?

Piala Dunia Jadi Medan Perang Nike vs Adidas, Siapa Kuasai Pasar Miliaran Dollar AS?

Persaingan di Piala Dunia tak hanya terjadi di atas lapangan. Dua raksasa apparel olahraga dunia, Nike dan Adidas, juga saling adu strategi.

(Kompas.com) 21/06/26 07:02 255392

KOMPAS.com – Persaingan di Piala Dunia tak hanya terjadi di atas lapangan. Dua raksasa apparel olahraga dunia, Nike dan Adidas, juga saling beradu strategi untuk memenangkan perhatian miliaran penggemar sekaligus mendongkrak penjualan produk mereka.

Mulai dari kampanye iklan bertabur bintang, peluncuran jersey baru, hingga aktivasi pemasaran di berbagai kota tuan rumah, kedua merek berlomba menciptakan dampak sebesar mungkin selama turnamen berlangsung.

Adu bintang di iklan Piala Dunia

Nike menghadirkan kampanye bertajuk "Rip the Script" yang dibintangi sejumlah atlet kelas dunia seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, hingga LeBron James.

Sementara itu, Adidas merilis kampanye "Backyard Legends" dengan menampilkan Lamine Yamal, Jude Bellingham, Lionel Messi, Zinedine Zidane, bahkan versi digital berbasis AI dari David Beckham.

Kedua iklan dikemas layaknya film layar lebar dengan biaya produksi yang sangat besar.

Adidas disebut menggelontorkan sekitar 50 juta poundsterling atau sekitar 68 juta dollar AS (sekitar Rp 1,21 triliun, kurs Rp 17.804 per dollar AS) untuk kampanye tersebut. Baik Adidas maupun Nike tidak mengungkapkan angka resmi biaya produksi iklan mereka.

Nike unggul di media digital

Jika diukur dari jumlah penayangan YouTube, Nike sementara unggul jauh.

Iklan "Rip the Script" telah ditonton sekitar 76 juta kali, sedangkan "Backyard Legends" milik Adidas memperoleh sekitar 7 juta penayangan.

Wakil Presiden dan General Manager Nike Global Football, Camilo Andrade, mengatakan kampanye kali ini tidak hanya bertujuan menghasilkan sebuah iklan, tetapi menciptakan ekosistem yang dapat berkembang melalui media sosial.

Menurut dia, keberhasilan kampanye tidak lagi hanya diukur dari jumlah penonton, melainkan dari bagaimana penggemar dapat mengolah, membagikan, dan menjadikannya bagian dari budaya sepak bola.

AFP/CHARLY TRIBALLEAU Kylian Mbappe merayakan gol dalam pertandingan sepak bola Grup I Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Senegal di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 16 Juni 2026. (Foto oleh CHARLY TRIBALLEAU / AFP)

Adidas tampil dominan di New York

Meski kalah dari sisi penayangan digital, Adidas dinilai lebih menonjol dari sisi pemasaran langsung.

Laporan BBC Sport menyebut toko utama Adidas di kawasan Soho, New York, dipenuhi dekorasi dan merchandise bertema Piala Dunia.

Sebaliknya, toko Nike saat itu masih lebih berfokus pada perayaan keberhasilan klub NBA New York Knicks.

Adidas juga memperluas promosi melalui pop-up store, stan promosi, hingga berbagai iklan yang tersebar di sejumlah titik di Manhattan.

Selain itu, desain jersey sejumlah tim nasional seperti Jepang dan Curaçao dinilai sukses menarik perhatian kalangan pecinta mode dan streetwear sehingga memperkuat citra Adidas di luar dunia olahraga.

Iklan Piala Dunia terus berevolusi

Pengamat strategi merek olahraga, James Kirkham, mengatakan iklan Piala Dunia selalu menjadi bagian penting dari budaya populer.

Menurutnya, iklan legendaris seperti kampanye Brasil di Piala Dunia 1998 maupun iklan Jose+10 milik Adidas pada 2006 masih dikenang hingga kini layaknya film klasik.

Namun, pola konsumsi konten kini berubah drastis.

Media sosial seperti Instagram Reels, TikTok, YouTube Shorts, hingga platform video pendek lainnya membuat audiens lebih banyak mengonsumsi potongan-potongan konten dibanding menonton iklan berdurasi panjang.

AFP/JAVIER SORIANO Penyerang Spanyol Lamine Yamal merayakan trofi Pemain Muda Terbaik di samping Presiden UEFA Aleksander Ceferin setelah memenangi pertandingan final UEFA Euro 2024 antara Spanyol vs Inggris di Olympiastadion di Berlin pada 14 Juli 2024. (Foto oleh JAVIER SORIANO / AFP )

Adidas unggul jumlah tim, Nike andalkan bintang

Dalam hal penyediaan perlengkapan tim peserta Piala Dunia, Adidas sedikit unggul.

Adidas memasok jersey untuk 14 tim nasional, sedangkan Nike menjadi sponsor 12 tim. Puma menyusul dengan 11 tim, sementara beberapa merek lain seperti New Balance juga ikut meramaikan pasar.

Kirkham menilai tren saat ini menunjukkan banyak penggemar membeli jersey bukan hanya karena mendukung satu negara, tetapi juga karena mengidolakan pemain tertentu.

Hubungan yang semakin erat antara sepak bola dan dunia fesyen juga membuat jersey tim nasional kini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Sponsor pemain bernilai fantastis

Persaingan Nike dan Adidas juga terjadi dalam perebutan atlet sebagai duta merek.

Menurut Bloomberg, Cristiano Ronaldo memiliki kontrak jangka panjang dengan Nike senilai hampir 18 juta dollar AS per tahun, atau sekitar Rp 320,47 miliar.

Baik Nike maupun Adidas menilai Piala Dunia tetap menjadi panggung pemasaran olahraga terbesar di dunia karena mampu menjangkau miliaran penonton sekaligus memengaruhi tren budaya populer.

Meski demikian, siapa yang benar-benar memenangkan persaingan bisnis baru akan terlihat setelah data penjualan dan pangsa pasar usai turnamen diumumkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#adidas #nike #piala-dunia-2026 #piala-dunia #pasar-olahraga

https://money.kompas.com/read/2026/06/21/070250826/piala-dunia-jadi-medan-perang-nike-vs-adidas-siapa-kuasai-pasar-miliaran