ESDM: Indonesia miliki peran penting dalam transisi energi global
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan sebagai salah satu produsen utama berbagai mineral kritis, Indonesia memiliki peran strategis ...
(Antara) 17/06/26 20:06 252562
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan sebagai salah satu produsen utama berbagai mineral kritis, Indonesia memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan transisi energi global.
"Kita harus memastikan bahwa pengembangan industri hilir berjalan seiring dengan keberlanjutan sumber daya mineral," kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin di Jakarta, Rabu.
Cecep mengatakan bahwa Indonesia merupakan produsen utama berbagai mineral kritis, seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, besi dan lain sebagainya.
Ia mengatakan bahwa saat ini hampir seluruh teknologi energi besi saat ini membutuhkan mineral kritis, mulai dari panel surya, turbin angin, jaringan listrik, penyimpanan energi, kendaraan listrik, hingga pengembangan hidrogen.
Begitu juga dengan tembaga yang menjadi tulang punggung elektrifikasi. Nikel, kobalt, dan lithium menjadi komponen penting dalam industri baterai yang saat ini sedang terus digalakkan.
Untuk itu, kata Cecep, Indonesia sebagai salah satu produsen mineral kritis memiliki peran penting dan strategis dalam mendukung keberhasilan transisi energi global dari konvensional menjadi energi baru terbarukan.
"Posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama berbagai mineral menjadikan Indonesia memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan transisi energi global," ujarnya.
Cecep mengatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menghadapi perubahan, di mana Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan mampu bertahan 31 tahun dengan asumsi produksi per tahun 190 juta ton.
Selain itu ada juga cadangan timah setara 22 tahun dengan produksi per tahun 65 ribu ton dan menjadikan Indonesia sebagai pemilik cadangan timah terbesar kedua di dunia.
Dengan beragam cadangan mineral kritis tersebut, lanjut Cecep, perlu dibarengi dengan hilirisasi agar memiliki nilai tambah dan tidak boleh berhenti hanya pada tahap awal pengolahan.
Kementerian ESDM, lanjut Cecep, dalam melakukan hilirisasi harus terus berkembang dari bijih menjadi "Mixed Hydroxide Precipitate" (MHP), menjadi nikel matte, kemudian menjadi prekursor dan katoda hingga menghasilkan produk akhir seperti kendaraan listrik dan energy storage system.
"Sebab semakin panjang rantai nilai yang dibangun di dalam negeri, semakin besar nilai tambah ekonomi yang dapat dinikmati oleh Indonesia dan masyarakat Indonesia secara nasional," katanya menambahkan.
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026