Kala Teknologi Korea Selatan Bertemu Sumber Daya Indonesia, Ini Harapan Dubes RI di Seoul

Kala Teknologi Korea Selatan Bertemu Sumber Daya Indonesia, Ini Harapan Dubes RI di Seoul

Kolaborasi Indonesia-Korsel berpotensi besar di sektor kendaraan listrik, AI, dan energi terbarukan, didukung investasi dan teknologi Korsel serta sumber daya Indonesia.

(Bisnis.Com) 17/06/26 16:06 252280

Bisnis.com, SEOUL – Kolaborasi antara Indonesia dan Korea Selatan masih sangat potensial, didukung oleh sumber daya alam di Tanah Air bertemu dengan teknologi dari Negeri Ginseng. Beberapa sektor strategis yang dapat digarap seperti kendaraan listrik hingga AI.

Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan Cecep Herawan mengatakan sejauh ini sudah banyak perusahaan Korsel yang berinvestasi di Indonesia, terutama di industri kendaraan listrik hingga baja.

"Ke depan, masih terbuka lebar [investasi Korsel di RI] terutama di sektor kendaraan listrik, semikonduktor, energi terbarukan, dan industri," kata Cecep dalam pertemuan Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan Korea Foundation (KF) dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), dikutip Rabu (16/6/2026).

Terbaru, Cecep menunjukkan investasi dari perusahaan baja Posco Holdings yang akan menambah kerja sama dengan RI lewat produksi specialized steel atau baja bernilai tambah tinggi, termasuk untuk sektor otomotif.

Dalam catatan Bisnis, Posco Holdings menyampaikan minat untuk menambah investasi di Indonesia melalui pengembangan tahap kedua proyek PT Krakatau Posco (PTKP).

Pada kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada 1 April 2026 lalu, Posco menyerahkan Surat Pernyataan Minat (Letter of Intent/LOI) kepada pemerintah Indonesia untuk menjajaki peluang kerja sama lanjutan. Fokusnya yakni pada proyek pengembangan tahap kedua PTKP.

Lebih lanjut, Cecep juga mendorong kolaborasi di sektor energi baru dan terbarukan (EBT) dengan Korea Selatan. Dia mengakui penutupan Selat Hormuz sebelum ini telah menjadi "alarm" bagi seluruh dunia untuk lebih memperkuat kerja sama energi.

"Korea Selatan cukup kuat di sektor EBT, kami melihat sektor energi adalah sektor yang menjadi fokus yang perlu kita terus kembangkan dalam kerja sama hubungan Indonesia dan Korea," kata Cecep.

Tak hanya kerja sama industri berat, pihak Kedutaan Besar RI di Seoul juga mengincar kerja sama bilateral di bidang kecerdasan buatan (AI), mengingat ambisi Presiden Korea Selatan Jae-myung Lee yang ingin membawa negaranya sebagai kekuatan AI nomor 3 di dunia.

Harapannya, Indonesia dapat ikut dengan Korea Selatan dalam pengembangan AI ini pada tahap awal. Adapun, penting untuk diingat adalah pengembangan AI memerlukan peran tata kelola yang baik, baik dari sisi regulator maupun Sumber Daya Manusia.

"Di bidang AI kita juga sudah punya MoU kerja sama AI di bidang kesehatan dan kerja sama dalam pengembangan digital antara Indonesia dan Korea," ujar Cecep.

Cecep mengingatkan dalam pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Lee pada awal April 2026 ini, kedua belah pihak telah menyiapkan langkah-langkah konkrit untuk merealisasikan komitmen kerja sama.

Adapun, Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungannya ke Korea Selatan pada 1 April 2026 sudah membawa komitmen investasi Rp173 triliun dari Negeri Ginseng. Ada lebih dari 20 kesepakatan senilai US$102 miliar atau setara dengan Rp173 triliun untuk sektor strategis Indonesia.

Gayeon Jung, Wakil Direktur Jenderal untuk Urusan Asean dan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, menambahkan kerja sama antara Korsel dan Indonesia berlandaskan manfaat untuk bersama, saling melengkapi, kesamaan kepentingan, dan kepercayaan yang terbangun selama lima dekade.

"Kerja sama ekonomi kita saling melengkapi. Sumber daya alam dan skala pasar Indonesia bertemu dengan teknologi, modal, dan pengalaman industrial Korea," kata Jung dalam kesempatan terpisah di Seoul.

Jung menunjukkan Indonesia telah menjadi tujuan investasi pertama di luar negeri pada tahun 1968. Kerja sama bilateral pun terus dipererat seiring berjalannya waktu, dengan masuknya perusahaan manufaktur seperti Samsung, LG, hingga CJ ke pasar Indonesia pada 1990-an.

Selanjutnya, pada awal 2020an, Korsel turut memperkuat ekosistem mobil listrik di Indonesia, terutama dengan memanfaatkan sumber daya nikel.

"Tantangan yang muncul tidak menjadi alasan untuk memperlambat kerja sama, justru itu menjadi alasan untuk memperkuat," tutup Jung.

#teknologi-korea #sumber-daya-indonesia #investasi-korsel #kendaraan-listrik #energi-terbarukan #industri-baja #specialized-steel #sektor-otomotif #kolaborasi-energi #kecerdasan-buatan #ai-kesehatan #p

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260617/620/1981369/kala-teknologi-korea-selatan-bertemu-sumber-daya-indonesia-ini-harapan-dubes-ri-di-seoul