Poin-Poin Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Bahas Minyak hingga AI
Pertemuan penting Xi Jinping dan Trump dipenuhi dengan gestur persahabatan antara dua negara yang telah berselisih selama bertahun-tahun.
(Kompas.com) 15/05/26 05:45 221461
BEIJING, KOMPAS.com - Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sepakat untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan berlandaskan stabilitas strategis.
Hal tersebut dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi kedua tokoh penting dunia tersebut di Beijing, Kamis (14/5/2026).
Pertemuan penting tersebut dipenuhi dengan gestur persahabatan antara dua negara yang telah berselisih selama bertahun-tahun.
Berbagai isu menjadi perbincangan mulai dari kekayaan intelektual dan hak asasi manusia hingga teknologi dan perdagangan.
Dilansir dari CNBC, sekurang-kurangnya terdapat lima poin penting yang dapat dirangkum dari pertemuan pemerintah China dan AS tersebut.
Penempatan posisi baru
Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump sepakat untuk mengembangkan hubungan China-AS yang konstruktif dan stabil secara strategis.
Xi mengungkapkan, Beijing akan menjadikan ini sebagai kerangka panduan untuk tiga tahun ke depan dan seterusnya.
Xi mengatakan, strategi penentuan posisi produk (pen-positioning) strategis akan dipimpin oleh kerja sama dan persaingan yang terukur dengan perbedaan yang dapat dikelola.
Ia juga menekankan, kerangka kerja tersebut harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.
Ekonom senior di Economist Intelligence Unit, Tianchen Xu mengatakan, ini menandakan periode stabilitas terkendali’ yang akan bertahan untuk beberapa waktu.
"Meskipun gesekan diperkirakan akan terus berlanjut, akan ada pengaman, dan keadaan tidak akan lepas kendali kedua belah pihak seperti yang hampir terjadi pada 2025,” ungkap dia.
Pertemuan pra-KTT, seimbang dan positif
Menurut Xi, utusan perdagangan kedua negara mencapai hasil yang seimbang dan positif secara keseluruhan.
Delegasi tersebut dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.
“Kedua belah pihak harus bekerja sama untuk mempertahankan momentum positif yang telah diraih dengan susah payah ini,” kata Xi.
Beijing menyambut baik keterlibatan komersial yang lebih dalam dari AS. Untuk itu, China akan membuka pitu seluas-luasnya untuk menerima berbagai kemungkinan.
Komentar tersebut muncul ketika selusin pemimpin bisnis dari beberapa perusahaan terbesar Amerika bergabung dalam kunjungan Trump, termasuk inisiator Tesla Elon Musk dan pimpinan Nvidia, Jensen Huang.
Memperdalam kerja sama
Xi mengatakan, kedua belah pihak harus memanfaatkan saluran komunikasi diplomatik dan militer dengan lebih baik.
Ia juga menyerukan kerja sama yang lebih dalam di bidang ekonomi dan perdagangan, pertanian, dan pariwisata.
Menurut seorang pejabat Gedung Putih, Trump, Xi, dan tim mereka membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi.
Langkah tersebut termasuk memperluas akses pasar bagi bisnis AS ke China dan meningkatkan investasi China ke industri Amerika.
Menurut pejabat AS tersebut, Trump juga menyerukan agar Beijing terus berupaya untuk mengekang aliran fentanyl ke AS dan meningkatkan pembelian barang-barang pertanian Amerika.
Selat Hormuz, pembelian minyak
Kedua pihak juga membahas konflik Timur Tengah, krisis di Ukraina dan Semenanjung Korea.
Menurut pejabat Gedung Putih, Trump dan Xi sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk memulihkan aliran energi melalui jalur air yang sangat penting tersebut.
"Xi menegaskan kembali penentangan Beijing terhadap militerisasi jalur energi tersebut dan segala upaya untuk mengenakan biaya tol atas penggunaannya,” kata pejabat itu.
China juga menyatakan minat untuk membeli lebih banyak minyak AS untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak mentah Timur Tengah.
Kedua negara sepakat, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Taiwan jadi isu terpenting
Xi melontarkan kata-kata paling tajamnya kepada Taiwan, menyebutnya sebagai isu terpenting dalam hubungan AS-China.
Menurut dia, taruhan terkait nasib Taiwan sangat tinggi.
“Jika ditangani dengan baik, hubungan akan tetap terjaga, jika ditangani dengan buruk, kedua negara berisiko mengalami bentrokan atau konflik,” ujar dia.
Pertemuan Xi-Trump dorong pasar saham China
nvestor memandang pertemuan Trump-Xi sebagai potensi pendorong bagi pasar saham China
Para investor mengatakan, pertemuan puncak tersebut dapat meredakan ketegangan perdagangan dan menghidupkan kembali momentum, terutama pada saham-saham teknologi negara yang tertinggal.
Analis Goldman Sachs mengatakan diskusi diperkirakan akan fokus secara sempit pada perdagangan dan kontrol ekspor, termasuk tarif, pembatasan semikonduktor, dan ekspor logam tanah jarang.
Bank tersebut mengatakan pihaknya memperkirakan China akan setuju untuk membeli lebih banyak produk pertanian, energi, dan pesawat terbang AS sebagai imbalan untuk menghindari peningkatan tarif lebih lanjut.
Meskipun tidak mengharapkan kesepakatan besar yang menyeluruh, Goldman mengatakan pertemuan tersebut masih dapat bertindak sebagai katalis taktis untuk penguatan yuan China dan ekuitas China.
Sementara itu, kepala bagian investasi di Bank J Safra Sarasin, Dong Chen memandang KTT tersebut sebagai katalis jangka pendek untuk saham-saham China.
Harapan tersebut muncul setelah pasar modal China selama berbulan-bulan mengalami kinerja yang kurang baik dibandingkan dengan perusahaan teknologi AS yang sedang menikmati peningkatan kecerdasan buatan.
Meskipun pasar tampaknya tidak memiliki ekspektasi yang sangat tinggi untuk pertemuan tersebut, Chen mengatakan investor cukup optimis.
"Fakta bahwa Trump dan Xi sudah bertemu mengirimkan sinyal positif,” tambah dia.
Prospek pencairan hubungan, meskipun terbatas, sangat penting bagi perusahaan teknologi China, yang masih dibatasi oleh pembatasan ekspor chip AS.
Hal ini juga terjadi ketika investor global terus berinvestasi dalam perdagangan terkait AI, khususnya di Korea Selatan dan Taiwan.
Akses ke chip Nvidia
Analis internet China di Barclays, Jiong Shao menyoroti bahwa arena persaingan terpenting saat ini, terutama antara AS dan China, adalah di bidang AI.
Sedangkan, hambatan terbesar saat ini dalam AI adalah daya komputasi.
“Senjata rahasia, atau senjata yang tidak begitu rahasia bagi para pemain AI AS, adalah akses ke chip Nvidia, yang tidak dimiliki oleh perusahaan-perusahaan China,” kata dia.
Hal itu membuat kehadiran CEO Nvidia, Jensen Huang, di Beijing bersama Trump menjadi sangat penting bagi investor yang mengamati persaingan AI.
“Memiliki akses ke chip terbaru Nvidia sangat, sangat penting bagi para pemain China untuk bersaing di panggung global,” tutup Shao.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang