Menimbang Efek Kontraksi Sektor Listrik dan Gas ke Performa Manufaktur

Menimbang Efek Kontraksi Sektor Listrik dan Gas ke Performa Manufaktur

Kontraksi sektor listrik dan gas pada kuartal I/2026 dipicu oleh faktor musiman seperti libur Idulfitri dan normalisasi konsumsi listrik, namun dampaknya pada manufaktur nasional tetap terkendali.

(Bisnis.Com) 15/05/26 05:00 221453

Bisnis.com, JAKARTA — Global Research on Economics, Advance Technology and Politics atau Great Institute menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan kontraksi sektor listrik, gas, dan air tanpa harus bertentangan dengan pertumbuhan manufaktur pada kuartal I/2026.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adhamaski Pangeran mengatakan pada kuartal I/2026, ada beberapa faktor yang menjelaskan konsumsi listrik memang secara historis cenderung menurun pada periode Idulfitri karena aktivitas komersial bisnis dan perkantoran berhenti sementara selama libur hari raya.

"Kondisi tersebut juga pernah terjadi pada periode lebaran kuartal II/2025 sehingga dinilai sebagai faktor musiman yang wajar," ujarnya dalam laporannya dikutip, Kamis (14/5/2026).

Di sisi lain, tekanan geopolitik di Timur Tengah memang sempat memengaruhi distribusi gas global. Namun, Adhamaski menilai dampaknya terhadap industri manufaktur nasional masih relatif terkendali.

“Terbatasnya pasokan gas bumi domestik dan penyesuaian kuota gas industri memang menekan beberapa industri energi-intensif seperti keramik, kaca, dan semen. Namun, dampaknya terhadap manufaktur nasional relatif terbatas karena tidak semua subsektor memiliki ketergantungan yang sama terhadap gas,” jelasnya.

Menurut Adhamaski, normalisasi konsumsi listrik setelah berakhirnya program diskon tarif listrik pemerintah pada kuartal I/2025 juga menjadi faktor lain yang memicu kontraksi sektor pengadaan listrik dan gas pada awal tahun ini.

"Pada kuartal I/2025 terdapat stimulus diskon listrik pemerintah yang mendorong konsumsi listrik masyarakat. Ketika kebijakan tersebut tidak kembali diterapkan pada kuartal I-2026, maka secara statistik terjadi normalisasi dari sisi permintaan listrik,” katanya.

Lebih lanjut, Adhamaski menekankan pentingnya memahami perbedaan konsep dalam membaca data sektor listrik dan manufaktur pada struktur Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menyebut kontraksi pada sektor listrik tidak selalu berarti volume distribusi listrik ikut turun secara signifikan.

Nilai tambah sektor listrik, gas, dan air dalam PDB dihitung berdasarkan margin produsen listrik, yaitu selisih antara output dan biaya produksi PLN maupun Independent Power Producer (IPP). Artinya, kontraksi nilai tambah sektor listrik tidak otomatis berarti volume fisik listrik yang disalurkan juga mengalami kontraksi pada tingkat yang sama.

Ia menambahkan, kenaikan biaya produksi listrik, harga energi, hingga besarnya beban subsidi dapat memengaruhi nilai tambah sektor listrik dalam perhitungan PDB nasional.

#kontraksi-listrik #kontraksi-gas #performa-manufaktur #sektor-listrik #sektor-gas #konsumsi-listrik #distribusi-gas #industri-manufaktur #pasokan-gas #diskon-listrik #nilai-tambah-listrik #biaya-produ

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260515/257/1973839/menimbang-efek-kontraksi-sektor-listrik-dan-gas-ke-performa-manufaktur