Paviliun Indonesia di Biennale Venesia Resmi Dibuka, Pamerkan Karya Residensi Tujuh Seniman
Paviliun Indonesia menawarkan pendekatan berbeda dalam memahami dunia seni.
(Republika) 14/05/26 17:36 221294
REPUBLIKA.CO.ID, VENESIA – Paviliun Indonesia pada ajang Biennale Venesia resmi dibuka untuk publik pada Kamis (7/5/2026) di Scuola Internazionale di Grafica Venezia. Pameran bertema “Printing the Unprinted” menampilkan hasil residensi tujuh seniman Indonesia yang mengangkat eksplorasi sejarah, ingatan, dan praktik seni cetak dalam konteks percakapan global.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka langsung paviliun tersebut yang menghadirkan karya Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agusyina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Kurator pameran Aminudin TH Siregar mengatakan, Paviliun Indonesia menawarkan pendekatan berbeda dalam memahami dunia seni melalui perjalanan kolektif dan pertukaran gagasan lintas batas. “Bukan melalui pencarian tunggal, melainkan melalui perjalanan yang saling terkait, pertukaran yang bertimbal balik, juga irisan-irisan narasi yang senantiasa hadir melampaui berbagai batasan pencatatan resmi yang diakui,” kata Aminudin dalam siaran pers, Kamis (14/5/2026).
Aminudin menjelaskan, narasi pameran berangkat dari manuskrip rekaan berjudul “Mentjap jang Tiada Bertjap: Plajeran Agoeng” yang digunakan sebagai titik awal pembacaan karya. Menurutnya, meski berbasis fiksi, gagasan tersebut tetap berkelindan dengan sejarah dan menghadirkan pertanyaan mengenai siapa yang memiliki kuasa dalam menulis serta mengarsipkan pengetahuan. “Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta kita untuk kembali menyadari siapa yang memiliki kuasa untuk menarasikan dunia dan kemudian mencatatkan pengetahuan tersebut sebagai arsip serta siapa-siapa yang pengalamannya terus terkubur tanpa catatan,” ujarnya.
Berbeda dari praktik pameran pada umumnya, para seniman tidak membawa karya jadi dari Indonesia, melainkan memproduksi karya langsung di Venesia melalui program residensi di Scuola Internazionale di Grafica Venezia.
Selama empat pekan, para perupa mengikuti lokakarya seni cetak bersama pengajar setempat, mengeksplorasi teknik printmaking menggunakan pelat tembaga dan cat berbasis air yang ramah lingkungan.
R.E. Hartanto mengatakan proses tersebut membutuhkan berbagai eksperimen sebelum menemukan bentuk visual yang sesuai. “Perlu berkali-kali percobaan hingga saya bisa menemukan bentuk dan komposisi warna yang tepat bagi gambar-gambar portrait yang saya buat,” ujarnya.
Theresia Agusyina Sitompul turut berperan membantu seniman lain yang belum terbiasa dengan teknik seni cetak, sementara Syahrizal Pahlevi mengeksplorasi teknik cukil kayu dengan melibatkan warga Venesia sebagai model karya potret yang kemudian dicetak di atas kain berwarna biru. Menjelang pembukaan, Pahlevi juga menggelar demonstrasi cukil kayu di area paviliun dengan Menteri Kebudayaan sebagai model.
Dalam sambutan pembukaan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, partisipasi Indonesia pada Biennale Venesia ke-61 mencerminkan komitmen negara menempatkan kebudayaan sebagai elemen penting pembangunan nasional, diplomasi internasional, serta kontribusi terhadap peradaban dunia.
Ia mengaitkan tema paviliun dengan identitas Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki mega diversitas budaya, terdiri atas lebih dari 17.000 pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah. “Kedalaman sejarah ini memberi kami keharusan untuk bertanggungjawab dan inspirasi untuk melanjutkan narasi peradaban kami bagi dunia,” katanya.
Fadli Zon mengajak publik internasional melihat tema “Printing the Unprinted: The Reversal of World Discovery” sebagai ajakan untuk terus terlibat dalam dialog global mengenai sejarah, ingatan, imajinasi, dan masa depan kebudayaan.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam pengembangan ekosistem budaya. Kementerian Kebudayaan mendukung inisiatif Komunitas Kreatif Negeri Elok yang mempertemukan tujuh seniman Paviliun Indonesia dengan tujuh talenta muda yang sebelumnya mengikuti residensi art healing di Florence. Para seniman senior bertindak sebagai mentor dalam proses kolaborasi yang menghasilkan karya bersama dan dipamerkan di salah satu ruang Scuola Internazionale di Grafica Venezia.
Pameran Paviliun Indonesia bertajuk “Printing the Unprinted” akan berlangsung hingga 22 November 2026.
#biennale-venesia-2026 #paviliun-indonesia #seni-rupa-indonesia #printing-the-unprinted #residensi-seniman-indonesia #fadli-zon #kementerian-kebudayaan #seni-cetak-indonesia #seniman-indonesia-di-venes