Studi Ungkap Bakteri di Mulut Bisa Diatur untuk Jaga Kesehatan Gigi dan Gusi
Penelitian dari University of Minnesota mengungkap bahwa pengaturan komunikasi bakteri di mulut dapat menjaga kesehatan gigi dan gusi dengan mengubah keseimbangan mikrobioma.
(Bisnis.Com) 14/05/26 11:50 221075
Bisnis.com, JAKARTA — Bakteri hidup di hampir seluruh bagian tubuh manusia dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan kesehatan. Di dalam kondisi normal, mikroorganisme ini tidak hanya berpotensi menyebabkan penyakit, tetapi juga membantu berbagai fungsi biologis tubuh.
Di rongga mulut, bakteri hidup dalam jumlah besar dan membentuk ekosistem yang kompleks. Sekitar 700 spesies bakteri saling berinteraksi dan terus bertukar sinyal kimia untuk mempertahankan diri dan berkembang.
Penelitian dari University of Minnesota Twin Cities mengungkap bahwa interaksi antar bakteri tersebut berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan gusi.
Dalam penelitian tersebut, bakteri di plak gigi diketahui menggunakan molekul kimia bernama AHL atau N-acyl homoserine lactones. Molekul ini membantu mengatur bagaimana komunitas bakteri terbentuk dan berkembang di dalam mulut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghambatan sinyal AHL menggunakan enzim lactonase dapat mengubah keseimbangan bakteri. Kondisi ini justru meningkatkan jumlah bakteri yang berkaitan dengan kesehatan mulut.
Peneliti utama, Mikael Elias, menjelaskan bahwa plak gigi berkembang secara bertahap seperti ekosistem alami. Pada tahap awal, bakteri yang muncul umumnya tidak berbahaya.
“Plak gigi berkembang seperti ekosistem hutan. Spesies awal seperti Streptococcus dan Actinomyces umumnya tidak berbahaya dan berkaitan dengan kesehatan mulut yang baik,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (11/4/2026).
Seiring waktu, kumpulan bakteri dapat berubah menjadi lebih kompleks dan sebagian berpotensi memicu penyakit gusi. Bakteri seperti Porphyromonas gingivalis lebih sering ditemukan pada kondisi tersebut.
Mikael menambahkan bahwa pengaturan komunikasi bakteri dapat menjadi cara baru untuk menjaga keseimbangan mikrobioma. Pendekatan ini dinilai lebih aman dibanding menghilangkan seluruh bakteri di dalam tubuh.
Selain itu, faktor oksigen juga mempengaruhi perilaku bakteri di rongga mulut. Kondisi di atas dan di bawah garis gusi menghasilkan respons yang berbeda terhadap sinyal kimia.
Penulis studi lainnya, Rakesh Sikdar, mengatakan perubahan kadar oksigen dapat mengubah arah perkembangan bakteri. Hal ini terlihat dari respons yang berbeda terhadap sinyal AHL.
“Saat sinyal AHL dihambat dalam kondisi kaya oksigen, bakteri yang berkaitan dengan kesehatan meningkat. Namun dalam kondisi minim oksigen, sinyal yang sama justru mendorong bakteri penyebab penyakit berkembang,” ujarnya.
Studi ini menunjukkan bahwa cara bakteri berinteraksi dapat menjadi target baru dalam pengembangan terapi kesehatan mulut. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan mikrobioma tanpa merusak seluruh bakteri yang ada.
#bakteri-mulut #kesehatan-gigi #kesehatan-gusi #mikroorganisme-mulut #ekosistem-bakteri #plak-gigi #sinyal-kimia-bakteri #ahl-bakteri #enzim-lactonase #mikrobioma-mulut #streptococcus-mulut #actinomyce