IGRS dan PP Tunas Bantu Industri Gim Lokal Berkembang?

IGRS dan PP Tunas Bantu Industri Gim Lokal Berkembang?

Kemenekraf berupaya mendukung gim lokal dengan IGRS dan PP Tunas, mengatasi tantangan pasar dan meningkatkan perlindungan anak di ruang digital.

(Bisnis.Com) 14/05/26 11:01 221035

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mengungkapkan pengembang gim lokal masih menghadapi tantangan besar dalam menguasai pasar di Indonesia. Meskipun potensi pasar gim Indonesia mencapai angka yang sangat signifikan, serapan produk dalam negeri tercatat masih minim.

Direktur Gim Kemenekraf Luat Sihombing memaparkan nilai valuasi pasar gim di Indonesia tercatat mencapai US$2 miliar atau sekitar Rp34 Triliun. Namun, dari total pasar yang sangat besar tersebut, konsumsi terhadap produk gim domestik hanya menyentuh angka 0,5%. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan yang selama ini diterapkan ke industri gim.

"Kita harus melihat apakah kebijakan ini sebenarnya dapat menumbuhkan pengembang lokal?” ujar Luat di acara Bisnis Indonesia Forum, Rabu (13/5/2026).

Luat menekankan bahwa penguatan regulasi melalui PP No. 17 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas) menjadi krusial. Regulasi ini mencakup perlindungan bagi sekitar 72 juta anak yang aktif di ruang digital, termasuk media sosial, e-commerce, dan gim.

Pemerintah juga memperkuat implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS) melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 2 Tahun 2024 tentang Klasifikasi Gim. Berbeda dengan aturan sebelumnya, regulasi terbaru ini bersifat kewajiban dan menyertakan sanksi hukum bagi pelanggar.

Menariknya, Luat memandang IGRS bukan sekadar batasan, melainkan sebuah regulatory sandbox bagi para pengembang. Sistem ini mendorong pelaku industri menerapkan prinsip pendekatan proaktif yang mengintegrasikan kepatuhan hukum, peraturan, dan standar teknis langsung sejak awal, dan bukan sebagai penyesuaian di akhir.

Keberadaan IGRS dinilai memberikan keuntungan strategis bagi pengembang lokal karena pemahaman yang lebih mendalam terhadap norma dan budaya nasional. Hal ini dianggap sebagai keunggulan lokalisasi yang sulit dimiliki oleh produk asing yang masuk ke pasar Indonesia.

"Keuntungan ada IGRS itu tadinya adalah developer lokal itu sudah lebih tahu norma, budaya, peraturan di situ yang berlaku akan seperti apa," kata Luat.

Selain itu, regulasi ini membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menawarkan jasa kerja sama seperti joint venture atau co-develop. Pengembang domestik dapat membantu pelaku asing agar konten mereka sesuai dengan standar hukum dan budaya di tanah air.

Dari sisi operasional, fitur komunikasi seperti ruang obrolan menjadi aspek dalam penilaian profil risiko gim. Fitur ini wajib memberikan keamanan yang cukup, terutama bagi pengguna di bawah usia 16 tahun.

Di tingkat keluarga, literasi orang tua mengenai fitur parental control juga tetap menjadi filter utama bagi keamanan anak. Meskipun platform digital sudah menyediakan alat pengawasan, banyak orang tua yang belum memahami risiko peruntukan konten sesuai usia.

Indonesia tercatat lebih progresif dalam menerapkan sistem peringkat usia dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Upaya ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan keberlanjutan bisnis di sektor digital.

#industri-gim-lokal #pengembang-gim-lokal #pasar-gim-indonesia #valuasi-pasar-gim #konsumsi-gim-domestik #kebijakan-industri-gim #regulasi-pp-tunas #perlindungan-anak-digital #indonesia-game-rating-sys

https://teknologi.bisnis.com/read/20260514/101/1973738/igrs-dan-pp-tunas-bantu-industri-gim-lokal-berkembang