Penundaan Review Indeks FTSE Tidak Gentarkan Pasar Saham RI

Penundaan Review Indeks FTSE Tidak Gentarkan Pasar Saham RI

Penundaan review indeks FTSE tidak berdampak besar pada pasar saham Indonesia, berkat reformasi OJK dan SRO. Dampak negatif jangka pendek mungkin terjadi, namun tidak sebesar MSCI.

(Bisnis.Com) 10/02/26 12:09 131672

Bisnis.com, JAKARTA Kalangan analis menilai aksi penundaan review indeks Tanah Air oleh penyedia indeks global FTSE Russell tidak memberikan dampak yang destruktif terhadap pasar modal Indonesia. Hal itu menyusul sejumlah upaya perbaikan yang tengah dilakukan regulator selepas MSCI telah terlebih dahulu mengumumkan hal serupa.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto, menilai dampak penundaan review oleh FTSE tidak akan memberikan dampak sebesar MSCI. Hal itu juga mengingat kapitalisasi pasar Tanah Air di indeks FTSE dinilai lebih kecil dibandingkan MSCI.

"Menurut saya dampaknya tidak besar. Jauh jika dibandingkan dengan MSCI. Dari sisi kapitalisasinya juga lebih rendah," kata Rully kepadaBisnis, Selasa (10/2/2026).

Selain itu, Rully menilai bahwa upaya yang tengah dijalankan oleh OJK dan SRO untuk mereformasi pasar modal, dapat menjadi penawar bagi kian lesunya pasarTanah Air selepas penundaan ini. Terlebih, salah satu pertimbangan FTSE dalam menunda melakukan review adalah ketersediaan datafree float.

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, menilai langkah yang diambil FTSE terhadap saham Tanah Air menandakan sikap kehati-hatian terhadap transparansi pasar modal. Dus, aksi FTSE dapat berdampak negatif terhadap kondisi pasar modal Tanah Air secara jangka pendek.

“Kalau untuk dampaknya terhadap pasar modal Indonesia, diperkirakan akan berdampak negatif serta akan menimbulkan volatilitas dalam jangka pendek,” katanya kepadaBisnis, Selasa (10/2/2026).

Meskipun begitu, Herditya menilai dampak yang dapat terjadi terhadap pasar modal Tanah Air tidak akan sebesar dampak dari pengumuman yang sempat disampaikan MSCI. Investor disebut masih akan mencermati upaya perbaikan pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO.

Hal itu tampak dari kinerja IHSG pada perdagangan intraday hari ini yang masih menguat 1,16% per pukul 11.30 WIB.

“Dari sisioutflowasing diperkirakan masih akan berlanjut dan juga volatilitas pasar,” katanya.

Sementara BRI Danareksa Sekuritas dalam riset hariannya, menilai aksi yang diambil FTSE lebih bernada teknis ketimbang fundamental. Pasalnya, penundaan review terjadi lantaran ketidakpastian datafree floatdan bukan lantaran penurunan kualitas pasar modal Indonesia.

Namun, para analis memprediksi dana pasif akan cenderung lebih stabil lantaranrebalancinguntuk saham Tanah Air pada Maret 2026 ditunda. Hal itu sekaligus membuat potensi inflow baru ke saham kandidat indeks turut tertunda.

“Pasar berpotensi lebih defensif dengan volatilitas berbasis sentimen,” kata para analis dalam riset hariannya, Selasa (10/2/2026).

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, menilai aksi FTSE untuk mengambil langkah serupa MSCI, menandakan kebutuhan yang kuat dari pelaku pasar global terhadap kondisi pasar modal Tanah Air yang lebihprudent.

Hal itu berkaitan dengan kurangnya transparansi di pasar modal, kurangnya likuiditas, hingga akurasi datafree float. Ketakutan itu wajar mengingat investor global mengalokasikan dana jumbo di negara-negara berkembang.

“Yang terpenting ini hanya lampu kuning, hanyawarningyang diberikan FTSE. Untung saja masih belumdowngrade,” tegas Nafan kepadaBisnis, Selasa (10/2/2026).

Sebelumnya, FTSE Russell menyampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menggelar konferensi pers untuk mengumumkan komitmennya dalam meningkatkan integritas dan transparansi pasar modal Indonesia. Lalu, pada 5 Februari 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerbitkan rencana reformasi pasar modal.

“Menindaklanjuti masukan dari External Advisory Committees FTSE Russell, serta dengan mempertimbangkan potensi dampak negatif terhadap turnover dan ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat atas sekuritas Indonesia seiring dengan berlangsungnya rencana reformasi tersebut, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Indonesia yang dijadwalkan pada Maret 2026,” tulis FTSE Russell.

Keputusan ini diambil sesuai dengan Aturan 2.4 tentang Exceptional Market Disruption dalam Kebijakan Indeks, yang berlaku apabila klien tidak dapat memperdagangkan suatu pasar atau efek secara optimal.

Dengan keputusan ini, FTSE Russell sementara tidak akan mengimplementasikan penambahan dan penghapusan saham Indonesia dalam indeks, termasuk perubahan segmen kapitalisasi besar, menengah, dan kecil.

Selain itu, FTSE juga tidak akan menerapkan penyesuaian bobot investability, perubahan jumlah saham beredar, serta aksi korporasi berupa right issue, hingga proses reformasi dinilai lebih jelas.

FTSE Russell adalah anak perusahaan dari London Stock Exchange Group dan merupakan merger antara FTSE (Financial Times Stock Exchange) dan Frank Russell Company. Saat ini FTSE Russell mengelola ratusan indeks global yang digunakan sebagai acuan utama investor institusi dalam mengelola portofolio.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#penundaan-review-indeks #ftse-russell #pasar-modal-indonesia #dampak-penundaan-ftse #kapitalisasi-pasar #reformasi-pasar-modal #transparansi-pasar-modal #volatilitas-pasar-modal #free-float-data #infl

https://market.bisnis.com/read/20260210/7/1951692/penundaan-review-indeks-ftse-tidak-gentarkan-pasar-saham-ri