Karya Kertas Diserbu Kolektor, Galeri Seni Panen Cuan di Art Jakarta Papers 2026
Art Jakarta Papers 2026 di Pondok Indah Mall 3, Jakarta, menyoroti karya seni berbasis kertas dengan partisipasi 28 galeri.
(Bisnis.Com) 09/02/26 20:46 131113
Bisnis.com, JAKARTA - Geliat seni rupa Indonesia kian riuh. Setelah dihantam pageblug, ajang bursa seni kembali marak digelar di berbagai daerah. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Art Jakarta Papers 2026 yang digelar di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta.
Bursa seni rupa yang berfokus pada karya berbasis kertas ini menghadirkan 28 galeri dari berbagai daerah di Tanah Air, termasuk satu galeri internasional dari Malaysia. Formatnya yang spesifik memberi ruang bagi medium yang selama ini berada di pinggiran arus utama pasar.
Sejumlah galeri mencatat capaian penjualan yang cukup menggembirakan. Founder CG Artspace, Christiana Gouw, menyebut pada hari pertama partisipasinya sekitar 50 persen karya telah terjual.
Menurut Christiana, capaian tersebut terbilang positif untuk pameran yang secara khusus menampilkan karya berbasis kertas. CG Artspace mempresentasikan karya Widi Pangestu secara tunggal karena pendekatan visualnya yang dinilai unik dan kuat secara konseptual.
Berbeda dengan gelaran seperti Art Jakarta atau Art Jakarta Gardens, dia justru menyasar klien baru. “Saya tidak terlalu menawarkan ke klien lama karena karakter kolektornya berbeda. Ini lebih ke kolektor pemula,” ujarnya.
Senada, Founder Devfto Printmaking Institute, Devy Ferdianto, menilai kolektor muda menjadi motor penting bagi pasar karya berbasis kertas. Namun, menurutnya, nilai karya tetap ditentukan oleh reputasi seniman, teknik, ukuran, serta edisi, bukan semata oleh mediumnya.
Devy melihat tantangan utama karya berbasis kertas saat ini bukan lagi stigma nilai yang rendah. Persoalan justru terletak pada kekhawatiran kolektor, terutama dalam konteks Indonesia yang sebelumnya minim infrastruktur penyimpanan dan material arsip.
Karya yang dipresentasikan di booth Devfto berada pada kisaran harga Rp8 juta hingga Rp36 juta. Di antaranya seri The Book of Clown karya Goenawan Mohamad serta Duri dan Kupu Kupu karya Garis Edelweiss yang masing-masing dibanderol sekitar Rp35 juta.
Meski mencatat penjualan karya Agus Suwage, Devy mengaku tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi. “Ketakutan kolektor lebih banyak disebabkan isu cuaca, kelembapan, dan kurangnya pemahaman soal perawatan, bukan soal kualitas artistik,” ujarnya.
Kritikus seni rupa Hendro Wiyanto menilai Art Jakarta Papers menarik karena sejak awal menantang dominasi kanvas yang selama ini dianggap sebagai standar seni rupa dua dimensi, baik oleh publik, kolektor, maupun media.
Menurut Hendro, kertas tidak pernah benar-benar menjadi arus utama dalam seni rupa Indonesia. Medium ini kerap ditempatkan pada lapisan kedua atau ketiga, dianggap murah dan rapuh, padahal secara historis dan artistik memiliki posisi penting, terutama dalam tradisi seni Asia.
Namun, dia mengingatkan bahwa antusiasme publik tidak dapat dibaca semata dari ramainya pengunjung. Tolok ukur utamanya tetap berada pada pasar. "Jika format seperti ini berlanjut dan konsisten digelar, maka di situlah pasar akan benar-benar berbicara," katanya.
#art-jakarta #art-jakarta-papers #seni-rupa-indonesia #galeri-seni #karya-kertas #kolektor-seni #pasar-seni #pameran-seni #galeri-internasional #kolektor-muda #karya-berbasis-kertas #reputasi-seniman #n-a