Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.870 per Dolar AS Hari Ini (9/2)
Rupiah menguat ke Rp16.870 per dolar AS pada 9 Februari 2026, didorong proyeksi penurunan suku bunga The Fed dan sentimen geopolitik AS-Iran.
(Bisnis.Com) 09/02/26 09:20 130077
Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (9/2/2026). Penguatan terjadi di tengah proyeksi penurunan suku bunga The Fed yang berisiko menekan greenback.
Melansir Bloomberg pada pukul 09.08 WIB nilai tukar rupiah terapresiasi 0,04% atau 6 poin ke Rp16.870 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,06% ke 97,57.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada pekan ini akan berada di rentang Rp16.750 sampai Rp17.200 per dolar AS.
Sedangkan, dia perkirakan di perdagangan Senin (9/2) rupiah akan bergerak fluktuatif dan berkhir ditutup melemah di kisaran Rp16.870 sampai Rp16.920. Pada penutupan pasar Jumat (6/2), rupiah melemah 34 poin ke Rp16.876 per dolar AS.
Menurutnya sentimen yang menyertai rupiah di pasar keuangan adalah perkembangan geopolitik Amerika Serikat. Ibrahim menjelaskan, saat ini pasar berharap bahwa pembicaraan antara Iran dan AS akan membantu meredakan beberapa ketegangan dan mencegah perang yang lebih luas.
"Namun, AS dan Iran terlihat berbeda pendapat mengenai subjek pembicaraan Jumat, dengan Iran menolak seruan AS untuk membahas persenjataan rudalnya dan menyatakan bahwa diskusi hanya akan terbatas pada pembahasan ambisi nuklir Teheran. Iran adalah produsen minyak utama, dan terletak di sebelah Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk minyak mentah," kata Ibrahim, dikutip Senin (9/2/2026).
Ibrahim mengatakan pasar juga menyoroti perkembangan data ketenagakerjaan AS, di mana data pemutusan hubungan kerja Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah karyawan pada bulan Januari dengan laju tercepat sejak resesi besar pada 2009.
Data lain menunjukkan peningkatan klaim pengangguran mingguan yang lebih besar dari perkiraan, sementara data lowongan kerja untuk bulan Desember juga di bawah ekspektasi. Data ketenagakerjaan ini akan mempengaruhi kebijakan moneter The Fed ke depan.
"Pasar tenaga kerja yang mendingin memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga, dengan dolar berada di bawah tekanan akibat hal ini. Namun, pasar juga tidak yakin tentang kebijakan moneter AS di bawah Warsh. Mantan gubernur The Fed ini dipandang sebagai pilihan yang kurang dovish untuk peran puncak The Fed," jelasnya.
Sementara itu, sentimen domestik yang menyertai gerak rupiah menurutnya adalah hasil penilaian lembaga pemeringkat, Moody’s Ratings yang menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang Indonesia dipertahankan di level layak investasi alias investment grade.
Perubahan ini mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor.
Apabila kondisi ini terus berlanjut, Moody’s memperkirakan akan menggerus kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan rating Indonesia di Baa2. Artinya, Indonesia masih tergolong di kelompok investment grade.
"Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Moody’s juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia," pungkasnya.
#rupiah-menguat #nilai-tukar-rupiah #dolar-as #suku-bunga-the-fed #indeks-dolar-as #prediksi-rupiah #pasar-keuangan #geopolitik-as #ketenagakerjaan-as #kebijakan-moneter #moody-039-s-ratings #rating-i