BNI (BBNI) Bidik Pertumbuhan Kredit hingga 10% Tahun Ini
BNI menargetkan pertumbuhan kredit hingga 10% pada 2026, fokus pada diversifikasi dan penguatan CASA. Kredit 2025 mencapai Rp899,53 triliun, tumbuh 15,94%.
(Bisnis.Com) 03/02/26 15:51 124155
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja intermediasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) positif sepanjang 2025, bahkan melampaui target. Tahun ini, perseroan kembali mematok target pertumbuhan kredit di kisaran 8%—10% (year on year/YoY).
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyampaikan sepanjang 2025 BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,94% YoY menjadi Rp899,53 triliun. Tahun lalu, kredit yang disalurkan BNI mencapai Rp775,87 triliun.
“Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global,” kata Paolo dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Sepanjang 2025, Paolo mengatakan bahwa pengelolaan neraca BNI difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis Current Account Saving Account (CASA).
Dia menuturkan, pertumbuhan kredit hingga akhir 2025 sepenuhnya didanai oleh dana murah. Tercatat pertumbuhan CASA sepanjang 2025 sebesar 29,9% (YoY), ditopang oleh pertumbuhan simpanan giro dan tabungan.
Adapun, simpanan giro tumbuh 43,75% (YoY) menjadi Rp439,49 triliun dan tabungan meningkat sebesar 11,23% (YoY) menjadi Rp286,46 triliun hingga Desember 2025.
Dari sisi permodalan, Paolo mengungkapkan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator. Kondisi ini memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko.
BNI mencatat akselerasi kinerja bisnis yang kuat pada kuartal IV/2025 dengan membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun. Perolehan ini menjadi yang tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya, seiring peningkatan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).
Sepanjang 2025, BNI membukukan NII sebesar Rp40,3 triliun. Kendati begitu, loan yield masih tertekan akibat penurunan suku bunga acuan.
Di sisi lain, pendapatan nonbunga tumbuh 5,2% (YoY) menjadi Rp24,6 triliun, didorong oleh meningkatnya aktivitas transaksi melalui kanal digital, treasury, trade finance, serta membaiknya produktivitas jaringan kantor cabang.
Dari sisi kualitas aset, BNI terus mencatat perbaikan yang tercermin dari penurunan rasio kredit bermasalah. Rasio non-performing loan (NPL) bruto turun menjadi 1,9% atau membaik 10 basis poin (bps) secara tahunan, sementara Loan at Risk (LaR) membaik menjadi 8,5% atau turun 1,8% (YoY). Kondisi ini menunjukkan penurunan risiko kredit secara menyeluruh dan telah kembali ke level sebelum pandemi.
Selain itu, BNI menjaga tingkat pencadangan yang kuat dengan NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio sebesar 46,9%, sebagai langkah prudent untuk mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.
“Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali,” pungkasnya.
#bni #bni-kredit #pertumbuhan-kredit #kredit-bni #bni-2025 #bni-target #bni-pertumbuhan #bni-car #bni-casa #bni-pendapatan #bni-npl #bni-loan-yield #bni-digital #bni-nonbunga #bni-risiko